English     Indonesia  
Menu Rubrik
Internasional
Politik
Asean
Analisis
Hukum
Ekonomi dan Bisnis
Industri Strategis
Hankam
Sosial Budaya
Lingkungan Hidup
Kesehatan
Wawancara Khusus
Gaya Hidup
Diplomasi
Komentar Pembaca
Ucapan Puasa
Departemen Luar Negeri RI
PBNU
ISAFIS
Selamatkan Indonesia
Kajian Timur Tengah
Magister HI Unpad
Informasi Wisata Bali
Anggia Putri Nilasari
World Future Online
Budaya Sunda
   Artikel Pilihan
No data yet
   Jajak Pendapat
Membentuk kekuatan baru selain PBB guna menekan Israel membuka blokade atas Gaza?
Sangat Perlu
Perlu
Tidak Perlu
Tidak Tahu
   
Dirgahayu RI
Sosial Budaya
30-07-2010
Tari Cendrawasih Tebar Pesona pada World Food Festival 2010

Pada program ”Vietnamese and foreign countries day” di hari ke-2 World Food Festival (WFF), tim KJRI HCMC tampil membawakan tari Cendrawasih dari Bali. Gending Bali, pengiring tari Cendrawasih, yang digelar setelah tarian Vietnam memberikan nuansa yang baru bagi pengunjung. Warga yang awalnya berjalan kaki diseputar booths penjual makanan, bergerak menuju panggung. Gerak tari yang dinamis, menyita perhatian penonton untuk fokus ke tarian yang dibawakan oleh staf dan putri-putri KJRI. Banyak yang mengabadikan momen yang langka tersebut. Penonton yang terdiri dari segala usia, spontan bertepuk tangan saat tarian usai.


Sejak perjalanan menuju panggung, di panggung dan kembali ke hotel, kostum dan tari Cendrawasih ini menjadi hiburan tersendiri. Selesai menarikan tari Cendrawasih, penari melayani permintaan pengunjung untuk berfoto bersama. Bahkan panitia pendamping tim KJRI harus menghentikan photo session untuk memberi kesempatan para penari beristirahat.
 
KJRI HCMC hadir di pesta kuliner dunia yang berlangsung tanggal 21-25 Juli 2010, dengan makanan dan tarian Indonesia. Makanan khas Indonesia berupa rendang, sate ayam, sup iga dan ikan pesmol memungkinkan pengunjung WFF mencicipi citra rasa  rendang dan sate yang asli, karena bumbunya yang langsung didatangkan dari Indonesia.
 
Sementara  tarian Sajojo dan Cendrawasih menjadi andalan di panggung. Gabungan Cendrawasih dan Sajojo telah menjadi pertunjukan yang banyak merebut perhatian pada acara pembukaan WFF pada tanggal 21 Juli 2010. Pemilihan dan penempatan tarian tersebut diakhir acara penutupan, membuat sendatari Sajojo dan Cendrawasih menjadi acara pamungkas. Pada “carnival night” pertunjukan 5 (lima) ragam pakaian tradisional Indonesia yang dikenakan masyarakat Indonesia dan staf KJRI menambah nilai lebih promosi budaya Indonesia di WFF.
 
Tanggapan positif penyelenggara dan pengunjung festival terhadap penampilan tim KJRI ini tentu sangat menyenangkan. Semua suara mengakui keunikan kostum penari Sajojo, dan keindahan kostum penari Cendrawasih. Banyak suara menyebutkan nama negara yang salah asal kostum tersebut. Panitia meminta tim KJRI untuk menampilkan tarian pada acara penutupan, namun banyaknya kegiatan dan belum terjadwalnya acara tersebut di agenda, membuat KJRI tidak dapat memenuhi permintaan tersebut. (sumber: KJRI HCMC)


Sumber :Deplu RI
Artikel Terkait
» Fiji akan Belajar Sistem Pendidikan dari Indonesia
» Sambutan Hangat Kristiansand untuk Dewa Ruci
» Tokoh AS Hadiri Peresmian Bakrie Chair
» Ulama Saudi Bolehkan Muslimah Tak Bercadar
» Akademisi RI-Jepang Saling Tukar Pikiran
» Pemetaan Ulang Diperlukan Tiga Kawasan Usulan WBD
» Bali, Pulau Terbaik versi
» Bantuan Pendidikan RI untuk Siswa Thailand
» Dominasi Amerika di Dunia: Tidak Hanya Sebatas Dalang
» Orde Baru Boneka Kapitalis Internasional



Cari :
Nash of Journalism School
   Isu Hangat »
Bangkitnya Kembali Militerisme Jepang di Asia Pasifik Sudah Diambang Pintu
Ada satu perkembangan yang cukup mencemaskan di Jepang dalam beberapa bulan terakhir ini. Issui-kai, atau Masyarakat Rabu" ("Wednesday Society"), dibentuk pada 1970-an oleh para penggemar novelis ...

Mewaspadai Meningkatnya Kekuatan Militer Cina (Bagian 2)

Deklarasi Konferensi PD II DI Kuala Lumpur

The Malaysian Experience & Hope For The Future

Japan as an Independent Player in an out of control Asia

Pernyataan GFI pada Konferensi Internasional tentang Perang Dunia II di KL

Lihat lainya »
   Arsip
Invasi Berakhir, Stimulus Bergulir

Risiko Bayangi Pelonggaran Kredit di AS

Obama Hadapi Tantangan Terberat Mereformasi Perbankan

Alunan Angklung di Kampus Lebanon

60 Tewas Akibat Demam Berdarah di Honduras

Mahmoud Abbas : Israel Harus Bekukan Pemukiman Yahudi

Korut Berusaha Tingkatkan Hubungan Militer dengan China

Gamelan Bali Getarkan Jantung Seni Musik Rusia

Perang Gaza, Perang Gas

Kritik untuk EraMuslim Lagi: Mengapa AS Menyerang Irak?

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang : Travis Heerman
Petualangan Seorang Pendekar Jepang

PADA tahun 1960-an dan 1970-an, komik mengalami masa kejayaan di Indonesia. Sejumlah komikus menghasilkan pelbagai cerita yang menarik minat masyarakat. Para pendekar dari dunia imajinasi pun menjadi panutan orang-orang di dunia nyata. Sosok mereka—sebut saja misalnya Si Buta dari Goa Hantu, Panji Tengkorak, Pendekar Bambu Kuning, Si Pitung, dan Jaka Sembung—menjadi legenda.

Lihat Lainnya »

© 2008 - 2010 theglobal-review.com All rights reserved