English     Indonesia  
Menu Rubrik
Internasional
Politik
Asean
Analisis
Hukum
Ekonomi dan Bisnis
Industri Strategis
Hankam
Sosial Budaya
Lingkungan Hidup
Kesehatan
Wawancara Khusus
Gaya Hidup
Diplomasi
Komentar Pembaca
Ucapan Puasa
Departemen Luar Negeri RI
PBNU
ISAFIS
Selamatkan Indonesia
Kajian Timur Tengah
Magister HI Unpad
Informasi Wisata Bali
Anggia Putri Nilasari
World Future Online
Budaya Sunda
   Artikel Pilihan
No data yet
   Jajak Pendapat
Membentuk kekuatan baru selain PBB guna menekan Israel membuka blokade atas Gaza?
Sangat Perlu
Perlu
Tidak Perlu
Tidak Tahu
   
Dirgahayu RI
Diplomasi
30-07-2010
Konflik Kolombia-Venezuela
Ekuador Serukan KTT Untuk Tangani Sengketa Kolombia-Venezuela

Ekuador Kamis menyerukan perlunya diselenggarakan konferensi tingkat tinggi (KTT) kelompok negara-negara Amerika Selatan (Unasur) untuk menangani sengketa diplomatik antara Bogota dan Karakas, berkaitan dengan tuduhan pemberontak Kolombia di tampung Venezuela.


"Kami mengundang para kepala negara untuk bertemu, agar mereka bisa secara langsung menangani masalah-masalah itu dalam pertemuan tersebut," kata Menteri Luar Negeri Ekuador Ricardo Patino setelah melakukan pembicaraan tertutup selama empat jam dengan timpalannya dari Unasur.

KTT para kepala negara Persatuan Negara-Negara Amerika Selatan, menurutnya, "akan sangat bermanfaat bagi Kolombia dan Venezuela dalam memuluskan jalan" ke arah pemecahan damai atas krisis diplomatik mereka.

Pertemuan para menteri luar negeri Unasur adalah langkah terakhir dalam mengatasi sengketa diplomatik berkaitan klaim Kolombia, bahwa sekitar 1.500 gerilyawan Pasukan Angkatan Bersenjata Revolusi Kolombia (FARC) dan Tentara Pembebasan Nasional (ELN) - keduanya telah bertempur di Bogota selama beberapa dasawarsa - kini beroperasi di Venezuela.

Menteri Luar Negeri Venezuela, Nicolas Maduro, mengatakan pemerintahnya telah meminta pertemuan untuk mengatasi "ancaman buruk dan serangan buruk" tentang hal itu kepada pemerintah Presiden Alvaro Uribe dari Kolombia, tetangganya.

Seraya menuduh pemerintahan Uribe "memfitnah, manipulasi, penuh kebohongan" terhadap Venezuela dan Presidennya Hugo Chaves, Maduro mengatakan, dia akan mengusulkan cara-cara "kita bisa menempuh kembali jalan damai."

Menteri Luar Negeri Kolombia, Jaime Bermudez, mengatakan dia akan mengimbau kepada rekannya di Amerika Selatan untuk membantu mencegah pasukan pemberontak Kolombia mengungsi ke Venezuela, atau di mana saja.

"Kolombia datang dengan kemauan yang jelas untuk meminta mekanisme kerja sama yang efisien sehingga baik FARC maupun ELN, ataupun kelompok kriminal lain bisa datang di wilayah Venezuela, dengan kolusi dari pihak yang berwenang, atau di bagian manapun di dunia," kata Bermudez.

Namun demikian, menurutnya, dia tidak mengharapkan terlalu tinggi dari pertemuan Unasur itu.

Chavez memutus hubungan diplomatik dengan Kolombia setelah mengecam dan menuduh Bogota menjadikan hal itu sebagai alasan untuk "agresi bersenjata."

Bermudez mengatakan, negaranya "memiliki banyak bukti, banyak informasi" mengenai kehadiran gerilyawan itu di Venezuela.

Sementara itu Presiden Brazil Luiz Inacio Lula da Silva, mengumumkan dia akan melakukan kunjungan ke Karakas dan Bogota pada 6 Agustus, untuk melakukan pembicaraan dengan Chavez dan Uribe di samping dengan Presiden terpilih Kolombia Juan Manuel Santos, yang akan mengambil alih kekuasaan 7 Agustus.

Sementara itu Reuters melaporkan, para menteri luar negeri Amerika Selatan gagal untuk memperbaiki hubungan yang rusak antara Venezuela dan Kolombia pada pertemuan Kamis, namun negara-negara sepakat bahwa kehadiran kelompok-kelompok bersenjata mengganggu perdamaian di kawasan itu.


Sumber :Antaranews.com
Artikel Terkait
» Menlu: Bentuk Terbaik dari Diplomasi adalah Persahabatan
» Seni Budaya Dua Negara Menyemarakkan Resepsi 60 Tahun Hubungan Diplomatik RI – RRT
» Menlu Jepang Kunjungi Menlu RI di Hanoi
» Indonesia dan Kanada: Saling Hargai dan Saling Dukung
» “Jakarta 11.000 KM” Terpahat di Atas Prasasti Hungaria
» Menlu bertemu Wakil PM Polandia Bahas Upaya Kembangkan Kerjasama
» Diplomat Diharapkan Cari Peluang Kerjasama di Berbagai Bidang
» Ketua DPR-RI Himbau Parlemen Anggota OKI Kunjungi Gaza
» Bulgaria Nilai Kerjasama Bilateral dengan Indonesia Terus Meningkat
» KJRI Dubai Terima Penghargaan Pelayanan Keimigrasian
» Manila Amandemen Konvensi STCW 1978 Disahkan
» Menlu: RI Akan Tetap sebagai ‘Problem Solver’
» Indonesia-Mesir Peringati 63 Tahun Hubungan Diplomatik



Cari :
Nash of Journalism School
   Isu Hangat »
Bangkitnya Kembali Militerisme Jepang di Asia Pasifik Sudah Diambang Pintu
Ada satu perkembangan yang cukup mencemaskan di Jepang dalam beberapa bulan terakhir ini. Issui-kai, atau Masyarakat Rabu" ("Wednesday Society"), dibentuk pada 1970-an oleh para penggemar novelis ...

Mewaspadai Meningkatnya Kekuatan Militer Cina (Bagian 2)

Deklarasi Konferensi PD II DI Kuala Lumpur

The Malaysian Experience & Hope For The Future

Japan as an Independent Player in an out of control Asia

Pernyataan GFI pada Konferensi Internasional tentang Perang Dunia II di KL

Lihat lainya »
   Arsip
Invasi Berakhir, Stimulus Bergulir

Risiko Bayangi Pelonggaran Kredit di AS

Obama Hadapi Tantangan Terberat Mereformasi Perbankan

Alunan Angklung di Kampus Lebanon

60 Tewas Akibat Demam Berdarah di Honduras

Mahmoud Abbas : Israel Harus Bekukan Pemukiman Yahudi

Korut Berusaha Tingkatkan Hubungan Militer dengan China

Gamelan Bali Getarkan Jantung Seni Musik Rusia

Perang Gaza, Perang Gas

Kritik untuk EraMuslim Lagi: Mengapa AS Menyerang Irak?

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang : Travis Heerman
Petualangan Seorang Pendekar Jepang

PADA tahun 1960-an dan 1970-an, komik mengalami masa kejayaan di Indonesia. Sejumlah komikus menghasilkan pelbagai cerita yang menarik minat masyarakat. Para pendekar dari dunia imajinasi pun menjadi panutan orang-orang di dunia nyata. Sosok mereka—sebut saja misalnya Si Buta dari Goa Hantu, Panji Tengkorak, Pendekar Bambu Kuning, Si Pitung, dan Jaka Sembung—menjadi legenda.

Lihat Lainnya »

© 2008 - 2010 theglobal-review.com All rights reserved