Tahap awal dalam rangka implementasi nota kesepahaman akan dilakukan studi kelayakan bersama, kemudian akan dikembangkan ke arah pembentukan executive joint operation atau joint venture company. Proyek tersebut akan dilakukan di Sei Mangkei, Sumatera Utara, dengan target luas areal awal 104 ha dan dapat dikembangkan menjadi 3000 ha. Studi kelayakan mencakup diantaranya evaluasi teknologi dan proses produksi, presentasi konsep teknologi, serta model pendanaan dan penilaian ekonomi terhadap konsep yang diajukan. Dubes RI Berlin Eddy Pratomo, yang menyaksikan penandatanganan tersebut, menyampaikan kondisi industri kelapa sawit saat ini beserta berbagai tantangannya, khususnya isu-isu lingkungan. Ia juga mengemukakan bahwa penandatanganan ini mempunyai makna penting karena bukan hanya menyangkut masalah pengembangan investasi, namun juga menunjukkan bahwa industri yang dikembangkan tidak bertentangan dengan isu-isu lingkungan yang menjadi topik hangat dunia saat ini. Terlebih lagi, pengembangan kerjasama di bidang industri kelapa sawit tersebut dilakukan dengan mitra perusahaan besar dari negara maju (Jerman) yang sangat peduli dengan masalah lingkungan. Amri Siregar secara khusus menyampaikan prospek yang sangat baik dari kerjasama tersebut karena disamping meningkatkan nilai tambah dari produk kelapa sawit, juga akan meningkatkan kesejahteraan para petani, dan sekaligus dalam rangka menepis keraguan pihak-pihak di luar negeri khususnya Jerman yang mempertanyakan dampak terhadap lingkungan dari pengembangan industri tersebut. Ferrostaal AG merupakan perusahaan besar Jerman yang telah menamamkan investasinya di lebih dari 60 negara dengan core competence di bidang general contractor di berbagai sektor antara lain petrochemical industry, solar dan gas, power energy, solar energy, pulp and paper, bio fuel, dan lain-lain. (sumber: KBRI Berlin).
Sumber :Deplu RI
|