» Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik » Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing » Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara » Uranium, Freeport McMoran dan Indonesia » AS Gunakan Afghanistan Sebagai Ajang Uji Coba Peralatan Militer dan Metode Perang


Internasional
13-07-2017
Dilihat Dari Gelagatnya, NATO Memang Ingin Agresi Militer ke Rusia
Berbicara dalam diskusi  di Moskow mengenai kebijakan NATO terhadap Rusia, Konstantin Sivkov, Direktur Akademi Geopolitik  mengatakan ada beberapa tanda yang mengindikasikan bahwa aliansi tersebut mungkin sedang bersiap untuk agresi militer. “NATO sedang melakukan persiapan besar-besaran untuk agresi militer,” kata ahli tersebut.

Dia menggarisbawahi bahwa baru-baru ini anggota NATO telah mengerahkan pasukan militer signifikan ke perbatasan barat Rusia.
 
“Empat batalyon, yang terdiri dari 1.000 personel, saat ini ditempatkan di sepanjang perbatasan Rusia Tapi senjata masing-masing unit jauh lebih besar daripada yang diperlukan satu batalion. Secara teori, unit-unit itu dapat dengan mudah diubah menjadi korps tentara dengan ukuran 40.000-50.000 personel, dengan tambahan pasukan yang dikerahkan dari Amerika Serikat dan bagian lain Eropa, “kata Sivkov sebagaimana dilansir Sputnik Rabu 12 Juli 2017.
 
Selain itu, ahli itu juga menunjukkan bahwa sebelumnya NATO merekrut penutur bahasa Rusia untuk latihan di Jerman. Pada bulan Maret, lowongan untuk “penterjemah  berbahasa Rusia untuk latihan NATO” diterbitkan di portal resmi ibukota Jerman Berlin.
 
“Mereka akan memainkan peran warga sipil di zona konflik, ini akan membantu menciptakan skenario pelatihan yang nyata bagi prajurit dan persiapan mereka yang optimal untuk misi asing,” tambahnya.
 
Sivkov mengatakan bahwa tren lain yang mengindikasikan persiapan NATO untuk kemungkinan agresi terhadap Rusia adalah peningkatan kapasitas material dan kemampuan teknis Armada ke-7 Amerika di Samudra Pasifik.
 
“Sepertinya kapal-kapal NATO di wilayah tersebut  sedang bersiap untuk melakukan agresi. Ini mungkin merupakan dalih untuk tindakan militer terhadap Rusia,” pungkasnya.
 
Hubungan NATO-Rusia telah memanas  dalam beberapa tahun terakhir, setelah NATO  meningkatkan kekuatan di perbatasan Rusia sebagai respons terhadap campur tangan Rusia dalam konflik Ukraina. Moskow telah berulang kali membantah tuduhan tersebut.
 
Pada tanggal 22 Desember 2016, Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu mengatakan bahwa kehadiran NATO di dekat perbatasan Rusia telah meningkat tiga kali lipat dalam 10 tahun terakhir dan delapan kali lipat di sepanjang perbatasan barat negara itu.
 
Dalam sebuah wawancara dengan pembuat film AS Oliver Stone beberapa waktu lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa Rusia akan memberikan respons yang sesuai terhadap tindakan NATO di sepanjang perbatasan Rusia untuk menjaga keseimbangan strategis.
 
Presiden Rusia menekankan bahwa Rusia tidak menimbulkan ancaman bagi tetangganya. Berbicara tentang ekspansi NATO, Putin menambahkan bahwa negara-negara harus lebih fokus untuk mencapai kesepakatan mengenai keamanan dan bantuan timbal balik jika mereka merasa mendapat ancaman.
 
NATO terus menggelar latihan di perbatasan Rusia. Saat ini mereka sedang melakukan latihan Tobruq Legacy 2017 di Lithuania, melibatkan hampir 500 personel dan 30 sistem pertahanan udara dari beberapa negara anggota aliansi. Secara khusus, Amerika mengirim sistem pertahanan rudal Patriot ke Lituania, dalam penyebaran pertama kali sistem tersebut ke wilayah Baltik.

Sumber :www.jejaktapak.com

 

Advance Search

   Isu Hangat »
Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik
Dalam berbagai kesempatan, pemerintahan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe sudah sempat meminta maaf atas sepak-terjang tentara Jepang pada Perang Dunia II di beberapa negara eks koloninya ...

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Lihat lainya »
   Arsip
Ketua OPEC Optimistis Stok Minyak Global Turun

Mengunjingkan Epistemologi Keraton

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara

Uranium, Freeport McMoran dan Indonesia

AS Gunakan Afghanistan Sebagai Ajang Uji Coba Peralatan Militer dan Metode Perang

Implementasi Pemahaman Wawasan Nusantara Dalam Wujudkan Negara Maritim Indonesia

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Turki Dukung RI Jadi Anggota DK PBB

Dibalik Sukses Pengendalian Harga-harga Pangan pada Idul Fitri 2017

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »