» Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik » Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing » Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara » Uranium, Freeport McMoran dan Indonesia » AS Gunakan Afghanistan Sebagai Ajang Uji Coba Peralatan Militer dan Metode Perang


Isu Hangat
08-07-2017
Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak
Penulis : Hendrajit, Pengkaji Geopolitik dan Direktur Eksekutif Global Future Institute

Kalau benar manuver diplomatik AS melalui DK-PBB tersebut dimaksudkan untuk mengajak seluruh dunia mengisolasi dan mengembargo Korea Utara, lantas bagaimana sikap Indonesia?


Menurut hemat kami dari Global Future Institute, Korea Utara tidak boleh diprovokasi dan dipompa kemarahan dan radikalismenya pada skala yang justru bisa memicu ketidakstabilitan di Semenanjung Korea pada khususnya, dan kawasan Asia Pasifik pada umumnya.

Jika skenario AS berjalan lancar di DK-PBB untuk menjatuhkan sanksi internasional pada Korea Utara seperti embargo ekonomi, maka hal itu sama saja dengan memprovokasi Korea Utara agar untuk bersikap semakin agresif dan radikal.

Maka itu, Indonesia dan negara-negara yang tergabung dalam perhimpunan bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN), harus satu sikap dan satu pandangan. Menolak manuver AS beserta sekutu-sekutu strategisnya seperti NATO, Jepang dan Korea Selatan, untuk menjatuhkan sanksi internasional kepada Korea Utara.

Dengan demikian, peran aktif Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN maupun sebagai negara pendiri ASEAN, adalah untuk membujuk negara-negara ASEAN lainnya, agar ASEAN Political Community tidak menjatuhkan sanksi baru kepada Korea Utara. Sebab jika  Korea Utara diisolasi, situasi dan kondisi di Semenanjung Korea justru akan semakin parah.

Sebaliknya, melalui ASEAN REGIONAL FORUM, Indonesia harus membujuk negara-negara ASEAN lainnya agar berperan aktif mengajak Korea Utara menyelesaikan krisis Korea melalui berbagai forum internasional yang baik yang bersifat regional maupun multilateral.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka kementerian luar negeri Republik Indonesia harus peka dalam membaca kondisi dan konstalasi global saat ini. Khususnya dalam memantai tren global yang berkembang di Semenanjung Korea.

Sebab jika pemerintah Indonesia gagal mengantisipasi skenario terburuk yang bakal terjadi di Semenanjung Korea, maka selain akan berdampak bagi kawasan Asia Pasifik pada umumnya, pada saat yang sama juga akan membahayakan prospek dari program Global Maritim Fulcrum (Poros Maritim Dunia) yang diprakarsai oleh Presiden Indonesia Joko Widodo. Sebab program ini, mengisyaratkan pentingnya iklim yang damai dan stabil di kawasan Asia Pasifik.

 



Artikel Terkait
» Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?
» Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina
» Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
» Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)
» Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik
Dalam berbagai kesempatan, pemerintahan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe sudah sempat meminta maaf atas sepak-terjang tentara Jepang pada Perang Dunia II di beberapa negara eks koloninya ...

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Lihat lainya »
   Arsip
Ketua OPEC Optimistis Stok Minyak Global Turun

Mengunjingkan Epistemologi Keraton

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara

Uranium, Freeport McMoran dan Indonesia

AS Gunakan Afghanistan Sebagai Ajang Uji Coba Peralatan Militer dan Metode Perang

Implementasi Pemahaman Wawasan Nusantara Dalam Wujudkan Negara Maritim Indonesia

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Turki Dukung RI Jadi Anggota DK PBB

Dibalik Sukses Pengendalian Harga-harga Pangan pada Idul Fitri 2017

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »