» Memberi Makna Baru tentang Motif Politik Di Balik Pembunuhan Presiden Panama Omar Torrijos » Membaca Langkah Trump dari Perspektif The Power of Oil » Membaca IORA dari Sisi Lain Geopolitik » Indonesia dan Geopolitik Samudra Hindia » Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing


Analisis
21-03-2017
Membaca Langkah Trump dari Perspektif The Power of Oil
Penulis : M. Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)

Mungkin di Era Donald Trump, Pentagon bakal meninggalkan Military Roadmap-nya di Kawasan Jalur Sutra. Ini asumsi awal tulisan ini. Selanjutnya, singkat penjelasan perihal Military Roadmap ialah petualangan dan/atau peta jalan perang Amerika Serikat (AS) berupa penaklukan secara militer terhadap negara-negara di Jalur Sutra mulai dari Irak, Syria, Lebanon, Libya, Iran, Somalia dan Sudan. Itulah data yang terpampang di Pentagon sejak 1990-an, tulis Prof Michel Cossudovsky dari Central Reseach of Globalization, Kanada.


Ada instrumentisasi membentuk “satu komando militer” di bawah kendali Pentagon berupa penyebaran pasukan AS dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di berbagai negara terutama Afrika (Utara), Timur Tengah dan lain-lain. Pernyataan Jenderal Wesley Clark, (mantan) Komandan NATO bisa dijadikan rujukan, bahwa peta jalan (roadmap) penaklukkan dunia telah direncanakan lima tahun lalu. Menurut Dokumen Sentral Komando 1995 yang sudah dideklasifikasikan, target pertama adalah Irak. Dan bila merujuk urutan Military Roadmap di atas, target pertama (Irak) tidak salah dan telah dikerjakan oleh Bush Jr tahun 2003, termasuk Libya dan Sudan yang telah menjadi dua negara (Sudan dan Sudan Selatan). Itulah sepintas Military Roadmap-nya Paman Sam.

Kembali ke Trump. Kendati ia diviralkan berbagai media mainstream sangat proteksionis (America First) dan seolah-olah anti-Islam, dan lain-lain akan tetapi dalam praktiknya belum tentu. Kenapa begitu, sebagaimana dikatakan oleh Pepe Escobar, wartawan senior AsiaTimes (2007), “Politik praktis itu bukanlah apa yang tersurat, melainkan apa yang tersirat”.

Setidak-tidaknya, entah itu hoax, cap maupun stigma yang melekat di awal kepemimpinannya sebagai sosok anti-perdagangan bebas (free trade), penentang kebijakan ekonomi imperialis, anti-Islam, dan lain-lain, namun itu belum tentu benar. Lagi-lagi, itulah tersurat. Hal yang di atas permukaan. Bagaimana di bawah permukaan, bagaimana dengan hal yang tersirat? Nah, sesuai judul di atas, artikel ini mencoba membaca sedikit langkah Trump di panggung (geopolitik) global.

Trump bukanlah sosok proteksionis sebagaimana dipersepsikan banyak kalangan. Ia juga tidak alergi perdagangan bebas. Itu hoax tak berdasar. Pun tidak pula ia menentang kebijakan-kebijakan imperialis ekonomi AS di luar negeri. Siapa bilang?

Sebelum terjun ke politik, Trump itu pelaku ekonomi. Ia adalah realis pasar. Sekali lagi, Trump itu seorang realis pasar. Maka dalam penilaiannya, bahwa program ‘petualangan militer’ yang dikerjakan para pendahulunya justru menelan porsi ekonomi sangat besar. Ekonomi biaya tinggi namun hasilnya tak sebanding, bahkan sering berujung krisis ekonomi. Paman Sam telah kehilangan banyak porsi di sektor ekonomi karena terlalu gaduh perihal militer, militer, perang dan perang.

Ia mengakui, bahwa AS mutlak harus mengubah dari keuangan dominan dan ekonomi impor ke ekonomi manufaktur dan ekspor. Impor (terutama minyak) telah menggerus devisa. Lalu, ia pun mengurangi impor minyak. Paman Sam adalah pasar terbesar bagi ekspor minyak OPEC dan Arab Saudi. Apa yang terjadi ketika AS mengurangi impornya? Mekanisme supply and demand pun berlaku: “Harga minyak jatuh ke titik nadir!”

Adanya klaim sepihak bahwa AS mampu mencukupi kebutuhan minyak dan gas secara mandiri dari ladang-ladang sendiri, ini pun belum akurat. Klaim ini masih perlu diuji. Kenapa? Betapa sejak 1970-an, sistem “petrodolar” yang diciptakan oleh AS malah lebih menguntungkan Paman Sam daripada Arab Saudi sendiri. Inti “petrodolar” adalah bahwa minyak menjadi standar dalam pembentukan nilai mata uang dolar AS. Dalam model ini, Arab Saudi memang menikmati untung besar dari perdagangan minyak, tetapi AS sendiri justru menikmati keuntungan jauh lebih besar daripada Arab Saudi. Mengapa? Karena ia bisa mencetak dolar sesuka hati tanpa perlu colleteral. Ya. Sekitar 1971-an, AS keluar dari kesepakatan Bretton Woods yang didirikannya usai Perang Dunia II dalam rangka mengglobalkan dolar sebagai currency world. Mata uang dunia. Petrodolar ialah sistem yang mencampakkan emas sebagai jaminan untuk mencetak dolar.

Menurut Dirgo D Purbo, pakar geopolitik perminyakan bahwa biaya produksi minyak di ladang AS rata-rata 32-an dolar/barel, sedang di Arab Saudi dan beberapa negara di Timur Tengah hanya sekitar 10-an dolar/barel. Seandainya harga minyak jatuh hingga (asumsi) 20 dolar/per barel pun, sebenarnya Arab Saudi masih untung 10-an dolar/barel. Persoalan bagi Arab, mungkin cuma kuantitas penjualan saja. Itupun bisa dialihkan ke lain negara. Namun sungguh aneh ketika AS malah mengandalkan ladang-ladang minyaknya sendiri yang secara hitungan justru merugi setiap barelnya sekitar 12-an dolar/barel (apabila asumsi harga 20 barel/hari)?

Bahwa dengan kebijakan “No Saudi Oil”-nya Trump, pertanyaan selidik pun muncul, “Adakah sumber impor minyak selain Arab Saudi; dan benarkah ia hendak meninggalkan sistem petrodolar dimana selama ini meraup untung besar?”

Geopolitik dan The Power of Oil

Tak boleh disangkal, The Power of Oil merupakan doktrin keramat siapapun Presiden AS. Entah Presidennya dari Partai Demokrat atau Partai Republik. Sama saja. Oil alias minyak menjadi kepentingan nasional utama. Kenapa? Secara fisik, selain besarnya konsumsi dalam negeri ---22 juta barel/hari bahkan konon kini sudah mencapai 23-an juta barel/hari--- juga tidak kalah penting ialah banyaknya pangkalan militer AS di luar teritorialnya. Ini yang belum dihitung. Bahwa 60% kebutuhan (dalam negeri) di atas memang dipenuhi dari ladang-ladang internalnya, sisanya 40% impor dari berbagai negara (dan terbanyak dari Arab Saudi).

Begitu sakralnya The Power of Oil bagi AS, bahkan pendirian komando militer di kawasan pun bukan karena alasan keamanan semata, tetapi yang pokok justru mendapatkan minyak, minyak dan minyak sebagai tujuan. Hal ini terlihat di Konferensi AFRICOM, 18 Februari 2008, di Fort McNair. Wakil Laksamana, Robert T. Moeller menyatakan: “Pedoman prinsip Africom adalah untuk melindungi aliran sumberdaya alam dari Afrika ke pasar global.” Sedang pada konferensi pers berikutnya, 13 Maret 2008, Jenderal William Ward lebih terus terang lagi, ia menyatakan bahwa ketergantungan AS terhadap minyak Afrika ditindaklanjuti dengan mengoperasinalkan AFRICOM berdasar prinsip dan tujuan teater “memerangi terorisme”.

Melalui statement kedua pejabat di atas, bisa “dibaca” bahwa geliat militer Paman Sam selalu diikuti gerak asimetris (nirmiliter) terutama mengincar ekonomi (dan sumberdaya alam). Singkatnya adalah, bahwa open agenda seperti memerangi ‘kelompok radikal’ contohnya, atau menebar isu Paket DHL (Demokrasi, HAM dan Lingkungan), dll senantiasa ditumpangi hidden agenda yakni upaya penguasaan sumberdaya alam. Artinya, bila GEOPOLITIK itu diibaratkan alat mapping belaka, baik pemetaan (mapping) di internal maupun di eksternal negeri terkait kebutuhan akan minyak, maka isu yang dikemas dalam Paket DHL, atau isu radikalisme, dan lain-lain adalah GEOSTRATEGI-nya. Keduanya saling terkait guna mencapai apa yang disebut GEOEKONOMI (penguasaan ekonomi dan SDA) di negara target. Ya. Bahwa “Geopolitik – Geostrategi – Geoekonomi” itu satu tarikan nafas. Begitu urut-urutannya. Jangan terbalik-balik.

Ketika Trump menganggap bahwa petualangan militer justru kontra produktif bagi pertumbuhan ekonomi AS, ia melihat Rusia punya peluang sebagai mitra ekonomi sekaligus sekutu militer. Mengapa demikian, selain produksi minyak Rusia hampir sama dengan Arab Saudi (10-an juta barel/hari), Trump menilai bahwa Negeri Beruang Putih ---istilah lain Rusia--- bisa dijadikan sekutu baru dalam rangka mengakhiri petualangan militer AS di Irak, Syria, Afghanistan, Ukraina, dan lain-lain yang (dinilainya) kontra produktif. Inilah perspektif non mainstream seorang realis pasar.

Meski Trump diusung oleh Partai Republik yang lazimnya menggunakan hard power (peran militer lebih besar) pada setiap kebijakan luar negerinya. Akan tetapi, sekali lagi, Trump itu realis pasar imperialis. Ada hitung-hitungan “untung rugi” di benaknya. Ini bukan berarti di era Trump nanti, militer akan “ditidurkan,” tidak begitu jalan pikirnya, sepanjang tindakan militer pun ternyata lebih menguntungkan (kepentingan nasional Amerika) secara ekonomi, maka ia pun akan melakukan tindakan militer seperti pendahulunya.

Dalam pandangan Trump, Cina merupakan pesaing (ekonomi) kuat yang telah mencuri keuntungan dari hak-hak istimewa akibat perdagangan (free trade). Makanya ia keluar dari Trans Pasific Partership (TPP), menarik dan negosiasi ulang di NAFTA, dan lain-lain demi memperoleh keseimbangan baru di bidang ekonomi.

Seperti halnya impor minyak Arab Saudi ke Paman Sam, tampaknya AS pun pasar (terbesar?) bagi produk-produk Cina. Maka sebagai konsekuensi America First niscaya akan mengurangi pundi-pundi devisa Cina.

ISIS di Mata Trump

Jatuhnya harga minyak dunia, selain dampak kebijakan “No Saudi Oil”-nya Trump, juga tidak boleh dipungkiri karena beredarnya minyak di pasar-pasar gelap dalam jumlah signifikan. Apakah ini akibat penguasaan dan pendudukan ladang-ladang minyak oleh kelompok radikal? Itu isu yang berkembang. Pertanyaannya, “Siapa yang menciptakan ISIS yang kini justru tak terkendali?” Telah menjadi rahasia umum. Tak perlu dijelaskan panjang lebar lagi. Let them think let them decide.

Dalam episode ini, tampaknya sejarah akan kembali berulang. History repeat it self. Dengan kata lain, ketika dulu Paman Sam menciptakan Taliban dan al Qaeda (pola proxy war) guna menghadapi Uni Soviet di Afghanistan, kemudian setelah Soviet hengkang justru kelompok proxy tersebut justru diperangi sendiri atas nama perang melawan teroris (War on Terorism). Dan agaknya, nasib ISIS pun bakal tidak jauh berbeda dengan kelompok (proxy) pendahulunya. Adanya isyarat Trump hendak merangkul Rusia guna mengakhiri perang di Syria, Ukraina, dan lain-lain boleh dimaknai sebagai upaya bersama guna memerangi ISIS. Ini bacaan nakal penulis atas fenomena Trump di panggung geopolitik global. Selanjutnya, apakah kelak Paman Sam dan Rusia berniat mengambil-alih pengelolaan ladang-ladang minyak dari tangan ISIS? Wait and see. Sekali lagi, let them think let them decide!

Mengakhiri tulisan singkat ini, apapun kebijakan yang lahir dari rahim Paman Sam, entah Yes, We Can; Change; America First, dan lain-lain, dan entah Presidennya dari partai mana pun --- maka “ruh” kebijakannya tak lepas dari doktrin The Power of Oil. Ingat nasehat geopolitik Deep Stoat yang masih relevah hingga kini: “If you would understand world geopolitik today, follow the oil”. Jika ingin memahami dunia geopolitik hari ini, ikuti kemana aliran minyak. Mengapa? Karena disitu (minyak) kepentingan para adidaya bertemu, beradu dan bersinergi.




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing
Sebenarnya para olahragawan dan olahragawati yang “ketangkap basah” menggunakan doping, bukan hal baru terjadi di dunia olahraga. Ketika olahraga dewasa ini semakin erat kaitannya dengan prestise ...

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Membaca Langkah Trump dari Perspektif The Power of Oil

Kontroversi Keberadaan Freeport

Penyebaran Paham Radikalisme: Ancaman Nyata Kedaulatan NKRI

Menyikapi Kasus Freeport

Bangkitnya Komunisme dalam Konstelasi Politik Indonesia

Bom Panci di Cicendo, Pesan Eksistensi Kelompok Radikal

Mewujudkan Spirit Demokrasi Pancasila

Perilaku Barbaristik dalam Politik Aceh

Saatnya Mengambil Alih Freeport

Waspadai Eskalasi Propaganda Aktivis Pro Papua Merdeka

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »