» “Kegenitan Geopolitik” » Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik » Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik » Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing » Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara


Analisis
07-01-2017
Aleppo, Propaganda dan Peta Aliansi Militer Terbaru (Bagian 2-Selesai)
Penulis : M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)

Sesungguhnya tidak ada perang agama di muka bumi melainkan karena faktor (geo) ekonomi. Isu agama, atau demokrasi, isu HAM, lingkungan hidup, dan isu-isu lainnya hanya sekedar dalih, tema atau modus ---istilah kerennya: 'geostrategi'--- dalam rangka memasuki kedaulatan negara lain atas nama isu-isu dimaksud, sedang tujuannya tak lain guna menguasai serta mencaplok geoekonomi.


Apabila kolonialisme klasik doeloe ---penjajahan purba--- makna geoekonomi identik dengan merebut wilayah, menguasai teritori atau menduduki geografi; sedang pada fase (kolonialisme) berikutnya bergeser menjadi rempah-rempah. Dalam fase (rempah-rempah) ini, penguasaan teritorial negara target memang masih dilakukan oleh kaum kolonial. Akan tetapi, tatkala memasuki fase neo-kolonialisme atau skema penjajahan gaya baru, wilayah atau geografi tak mutlak menjadi sasaran penjajahan namun cenderung langsung menukik ke tujuan utama (ekonomi)-nya.
 
Nah, pada fase terakhir ini, geoekonomi identik dengan emas, minyak dan gas bumi. Jadi sekali lagi, tidak ada peperangan karena agama di dunia ini melainkan faktor (geo) ekonomi. Demikian juga yang terjadi di Aleppo, Syria. Propaganda di permukaan oleh media-media mainstream memang perihal konflik antarmazab (syi'ah - sunni) dalam agama/Islam, padahal bukanlah demikian. Konflik antarmazab cuma modus atau geostrategi kaum kolonial dalam rangka memasuki wilayah kedaulatan Syria. Pertanyaannya kini, "Kenapa Syria menjadi rebutan para adidaya dunia?"
 
Sebagaima sekilas diurai di atas, bahwa geoekonomi yang menjadi tujuan pada fase penjajahan gaya baru kini ialah emas, minyak dan gas alam. "If you would understand world geopolitic today, follow the oil" (Deep Stoat). Jika ingin memahami geopolitik hari ini, ikuti aliran minyak. Kenapa? Karena disitu, simpul-simpul kepentingan para adidaya bertemu, bertabrakan bahkan beradu kuat. Agaknya, itulah yang kini berlangsung di Syria. Dengan kata lain, selain karena geoposisi Syria pada titik simpul Jalur Sutra (Silk Road), juga faktor geopolitik (jalur) pipa antar negara bahkan lintas benua menjadi alasan pokok kenapa Syria sangat "menggiurkan" di mata global cq (geopolitik) para adidaya. Inilah yang disebut dengan istilah: what lies beneath the surface. "Apa yang terkandung di bawah permukaan." Artinya, bahwa permainan dan dinamika politik di atas permukaan ---entah isu HAM misalnya, atau konflik horizontal, korupsi, atau isu intoleransi, dll--- cuma untuk "lucu-lucuan" saja, sekedar deception (penyesatan) agar perhatian publik tidak paham hidden agenda sebenarnya. Inilah yang kerap berlangsung di pelbagai belahan dunia. Pertanyaan pamungkas, "Jadi, apa hidden agenda sesungguhnya di Aleppo, Syria?"
 
Tidak lain dan tak bukan karena faktor geoekonomi terutama geopolitik jalur pipa. Secara rinci dan detail tentang "anatomi pipeline"-nya darimana, mana negara lintasan, siapa negara/kawasan tujuan, dimana outlet masing-masing jalur, termasuk fee per barel bagi semua minyak yang melintas di Syiria, dll silahkan baca pada buku PERANG ASIMETRIS dan Skema Penjajahan Gaya Baru.



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Indonesia Dan ASEAN Harus Pertimbangkan kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia Sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik
Belakangan ini, persaingn global AS versus Cina di Asia Pasifik semakin menajam. Indonesia, yang sejatinya merupakan pelopor strategi perimbangan kekuatan di antara dua kutub yang sedang ...

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Lihat lainya »
   Arsip
HMI Cabang Padang: Keluarkan Israel dari Keanggotaan PBB

Indonesia Dan ASEAN Harus Pertimbangkan kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia Sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik

Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik

Erdogan Kunjungi Teluk untuk Redakan Sengketa Qatar

Wapres Jusuf Kalla Bahas Kerja Sama Maritim dengan Vietnam

PERPPU N0. 2/2017, PERPU CCTV

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumber

Iran Harap Perang Yaman Tidak Sulut Konfrontasi Iran-Saudi

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »