» Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah » Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina » Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif » Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat


Internasional
29-11-2016
Aung San Suu Kyi Urung ke Indonesia Akibat Demo Rohingya

Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi menunda kunjungan ke Indonesia setelah unjuk rasa demi solidaritas Rohingnya pecah di Indonesia.


Laman Wall Street Journal, Senin, mengungkapkan bahwa juru bicara kementerian luar negeri Myanmar Kyaw Zaya menyatakan unjuk rasa solidaritas Rohingya di Jakarta turut menjadi faktor keputusan penundaan kunjungan Suu Kyi ke Indonesia.

Belum lama ini polisi Indonesia menangkap sejumlah orang yang diduga simpatisan ISIS yang disangka berencana melancarkan serangan bom ke sejumlah gedung di Jakarta, termasuk Kedutaan Besar Myanmar.

Warga Rohingya mengungsi dari negara bagian Rakhine sejak awak Oktober setelah sekelompok militan Rohingya menyerang pos polisi di perbatasan sampai menewaskan sembilan polisi dan mencuri senjata api.

Dari citra satelit yang dirilis bulan ini oleh Human Rights Watch dan potongan video yang diselundupkan keluar oleh para aktivis Rohingya, terlihat sejumlah desa di daerah Maungdaw dibakar.

Sekitar 150.000 orang Rohingya kini kekurangan pasokan makanan dan obat-obatan setelah militer Myanmar menggelar operasi pembersihan yang kabarnya menewaskan paling tidak 69 pemberontak.

Juru bicara Presiden Myanmar Zaw Htay menuduh militan Rohingya sengaja membakar desa mereka sendiri untuk menghancurkan reputasi internasional Myanmar. Pemerintah juga membantah tudingan ada pemerkosaan wanita Rohingya oleh tentara.

Suu Kyi, yang resminya memangku jabatan pembina ketimbang presiden, sangat berhati-hati dalam isu ini dengan mengatakan tidak boleh ada tuduhan dahulu sebelum fakta-fakta telah diketahui.

Para peneliti internasional menyatakan sikap diam seribu bahasa Suu Kyi memberi lampu hijau kepada militer Myanmar untuk membersihkan dan membakar desa-desa dengan tujuan utama mengusir seluruh warga Rohingya ke luar mengungsi ke Bangladesh.

Di bawah konstitusi baru Myanmar, militer mengendalikan kementerian pertahanan dan kementerian dalam negeri serta masalah perbatasan. Artinya pemerintahan Suu Kyi harus berbagi kekuasaan dengan angkatan bersenjata, kendati mereka adalah pemenang Pemilu lalu.

Ini  embuat Suu Kyi berada dalam dilemma, antara diam menyikapi perlakuan militer kepada Rohingya sehingga menghadapi krisis kemanusiaan yang makin buruk, atau berbicara keras dengan risiko merusak hubungan baik dengan Tatmadaw, angkatan bersenjata Myanmar.



Artikel Terkait
» Poros Perlawanan, Blok Timur, Axis of Resistance
» Kemenangan Trump Untungkan Rusia, Suriah dan Mesir
» Di Mana Netralitas PBB dalam Krisis Yaman ?
» Belasan Negara Blokir Hak LGBT dalam Perencanaan Kota PBB
» Kremlin Minta Inggris Jamin Keselamatan Para Diplomatnya



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Pembentukan Citra Negatif Indonesia di Luar Negeri

Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif

ASEAN-Kanada Sepakat Perkuat UMKM dan Lindungi Pekerja Migran

Wikipedia segera Disaingi Ensiklopedia Daring China

Kuba Pasar Potensial bagi Amerika Serikat

Moon Jae-in Menjadi Presiden ke-19 Korea Selatan

Warga Korsel Pilih Presiden Baru

GFI Ingatkan 5 Poin Pesan Panglima TNI

Wapres Buka Peringatan Hari Pers Sedunia 2017

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »