» Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) » Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia » Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan » Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida


Politik
25-11-2016
Jangan Adu TNI-POLRI, Jangan Benturkan Negara cq Aparatnya dengan Umat Islam!
Penulis : M. Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)

Agaknya, hiruk-pikuk jagad politik di Tanah Air yang dipicu oleh "kasus pulau seribu" kian memanas. Tidak cuma pemain lokal berkecimpung memanfaatkan moment, aktor-aktor global pun turut bermain. Itu keniscayaan. Kenapa? Jelas. Bicara Jakarta berarti berbicara tentang Indonesia, karena ia (Jakarta) adalah etalase negeri ini. Mengkaji Indonesia, artinya juga membahas (geo) politik global, oleh sebab banyak kepentingan para adidaya disini. Kenapa demikian, Indonesia dalam perspektif geopolitk global, selain didudukkan sebagai pemasok raw material, pasar yang tak pernah kenyang, tempat putar ulang kapital para negara produsen (apapun) ---karena cangkul dan ikan asin saja harus impor--- juga yang terkini bahwa faktor geografi memposisikan sebagai lintasan sealanes of communication/transportatian (SLOC/T). Jalur distribusi (pangan, minyak, dll) dan lintasan barang dan jasa berbagai negara yang tak pernah sepi.


Sejak kelahirannya, bangsa ini ulet serta tangguh mempertahankan dan bertahan atas kemajemukan, kebhinnekaan, pluralitas, heteregonitas dll dari upaya-upaya yang hendak memecah-belah degan beragam modus dan cara. DI/TII tak berhasil, NII gagal, PKI tertumpas, konflik komunal di pinggir-pinggir nusantara, selesai lagi tak berkembang. Kuncinya apa? Kekompakan, persatuan dan kesatuan antarkomponen bangsa khususnya TNI, Polri dan Islam selaku agama mayoritas. Tapi tampaknya, panggung "pulau seribu" dan variannya hendak membelah TNI dan Polri, membenturkan Polri dengan Islam, mengadu TNI versus Islam, dan seterusnya. Sadarkah kita?

TNI-Polri dan umat Islam itu anak kandung revolusi. Mereka perekat bangsa. Pecah ketiganya maka pecahlah bangsa ini. Dan dinamika politik hari ini, ada indikasi dan upaya Balkanisasi Nusantara jilid II di Bumi Pertiwi setelah kegagalan (Balkanisasi) jilid I melalui konflik-konflik komunal di tepian Indonesia. Upaya membagi Indonesia menjadi negara-negara kecil (polenesia) berbasis agama (religius state), etnis (ethnic state), kepentingan (corporate state), dan sebagainya telah terendus lama. Bagi kolonial, menyantap kue tart (SDA Indonesia) akan lebih mudah bila diiris kecil-kecil terlebih dulu.

Hay, asing dan aseng! Jangan dikira bangsa ini tak mampu membaca geostrategimu!

Hay, asong/komprador! Penjual negeri. Insyaf. Tobatlah. Nanti tumpah darah ini menolak jazadmu. Ada. Tak sedikit contoh. Jika tidak insyaf dan tobat, kelak jika kalian mangkat duluan, akan kukirim bunga duka cita dengan ucapan: "Selamat jalan! Semoga arwahmu diterima oleh pemilik modal".

Tolong dicatat, di Bumi Pertiwi ini masih banyak kembang sore dan bunga-bunga sedap malam ..

 




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Panglima TNI: Generasi Penerus TNI Harus Sensitif Terhadap Isu Global

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Panglima TNI: Tujuh Langkah untuk Menguasai Indonesia

Mengapa China Bersemangat Membangun Infrastruktur di Indonesia?

Tentara Filipina Tewaskan 10 Aktivis Garis Keras Guna Bebaskan Sandera

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »