» Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah » Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina » Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif » Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat


Isu Hangat
14-11-2016
Rencana AS Kembangkan ICBM di Korea Selatan Berpotensi Merusak Rencana Global Maritime Fulcrum (Poros Maritim Dunia) Presiden Jokowi
Penulis : Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Untuk mengimbangi Rudal Balistik Antar-Benua (Intercontinental Balistic Missile atau ICBM) yang telah diluncurkan Korea Utara sekitaran beberapa waktu lalu, Amerika Serikat nampaknya berencana unbtuk mengembangkan ICBM di Korea Selatan, sekutu strategisnya di Semenanjung Korea sejak berakhirnya Perang Dunia II.


Namun, mengingat semakin meningkatnya eskalasi persaingan global Amerika Serikat versus Republik Rakyat Cina (RRC) di kawasan Asia Pasifik, maka rencana AS untuk mengembangkan ICBM di Korea Selatan, dikhawatirkan bakal menciptakan instabilitas politik dan keamanan di Semenanjanung Korea. 
 
Sebelum beranjak lebih jauh menyorot kosntalasi global yang bakal tercipta di Semenanjung Korea menyusul rencana AS mengembangkan ICBM di Korea Selatan untuk mengimbangi Korea Utara, ada baiknya kita jelaskan dulu secara rinci ikhwal ICBM itu sendiri. 
 
ICBM merupakan rudal jarak jauh yang dapat menghantam sasaran antarbenua. Rudal ini diluncurkan dengan kekuatan peluncuran roket sendiri untuk diterbangkan jarak jauh dan dengan seketika kekuatan peluncurannya dihentikan. 
 
ICBM dapat berfungsi sebagai bom dahsyat dengan posisi lintasan peluru. Ada juga rudal penjelajah, yakni peluru kendali yang dikontrol oleh kekuatan roket peluncur secara keseluruhan dari tahap peluncuran sampai tahap pemboman. ICBM dikembangkan oleh Uni Soviet pada tahun 1957 untuk bersaing dengan Amerika Serikat. Teknologi pembuatan ICBM dewasa ini mampu meluncurkan rudal dalam jarak 10 ribu kilometer dengan penggunaan bahan bakar padat efisiensi tinggi untuk menghantam sasarannya dengan lebih tepat. (Baca http://world.kbs.co.kr/indonesian/archive/program/news_zoom.htm?no=4841 )
 
Bagaimana pihak militer AS menanggapi peluncuran ICBM Korea Utara tersebut? Panglima Komando Amerika Utara dan NORAD, Admiral Bill Gortney, dalam kabar di US Naval Institute, sebagaimana dilansir beberapa waktu lalu menyatakan, peluru kendali nuklir lintas benua ICBM yang diberi kode KN-08 itu, memiliki jajaran peluncur bergerak peluru kendali nuklir yang mampu menjangkau daratan Amerika Serikat. 
 
Bahkan Admiral Gortney menambahkan, peluru kendali itu sudah pada taraf operasional sehingga pihak AS sudah dalam posisi untuk mengembangkan latihan untuk menangkal dan menanggulanginya. 
 
Namun, berdasarkan kajian terbatas yang diadakan oleh Global Future Institute Selasa 2 November 2016 lalu,berkesimpulan bahwa penilaian Admiral Gortney terhadap ancaman Sistem ICBM Korea Utara KN-08 nampaknya masih terlalu dini. Apalagi ketika Gortney berkesimpulan  bahwa Sistem ICBM Korea Utara KN-08 punya kemampuan menempatkan kepala nuklir pada peluru kendali KN-08.  (Sebagai bandingan silahkan baca berita: Korea Utara punya rudal nuklir yang bisa jangkau Amerika Serikat, http://www.antaranews.com/berita/489787/korea-utara-punya-rudal-nuklir-yang-bisa-jangkau-amerika-serikat). 
 
Sehingga para peserta diskusi terbatas Global Future Institute sampai pada kesimpulan bahwa penilaian Admiral Gortney hanya sekadar untuk memberikan alasan pembenaran (Justifikasi) bagi Pentagon (Departemen Pertahanan AS) dan para perancang kebijakan strategis keamanan nasional di Washington, untuk mengembangkan ICBM di Korea Selatan, dengah dalih adanya ancaman nuklir dari Korea Utara. 
 
Agaknya, Admiranl Gortney bukan satu-satunya petinggi militer AS yang menaruh kekhawatiran  terhadap potensi ancaman  ICBM Korea Utara. Beberapa waktu lalu,   Deputi Direktur Urusan Politik-Militer wilayah Asia di Departemen Pertahanan Amerika, David Stilwell, mengatakan, ancaman rudal Korea Utara itu pada perkembangannya telah menciptakan suatu kebutuhan bagi sistem rudal antibalistik Angkatan Darat Amerika (THAAD) untuk digelar di Semenanjung Korea. 
 
Pada intinya, Amerika Serikat sedang berusaha menggunakan isu Sistem ICBM KN-08 Korea Utara sebagai dalih untuk meningkatkan postur pertahanan dan kehadiran militernya di Semenanjung Korea. Karena kalau kita cermati, ICBM Korea Utara ini belumlah pada taraf yang akan menciptakan ancaman sebagaimana diklaim pihak AS. Karena Korea Utara sendiri belum melakukan uji coba terkait hal tersebut. 
 
Memicu Reaksi Militer RRC dan Mengancam Konsep Poros Maritim Dunia Presiden Jokowi
 
Isyarat AS untuk mengembangkan ICBM tandingan di Semenanjung Korea dengan dalih ancaman ICBM Korea Utara, kiranya perkembangan tersbebut perlu dicermati dengan seksama, karena cukup mengkawatirkan bagi stabiltias keamanan regional di Semenanjung Korea, dan bahkan bisa berdampak buruk bagi Indonesia. Khususnya terkait Konsep Poros Maritim Dunia yang dicanangkan Presiden Jokowi pada East Asia Summit  atau KTT Asia Timur di Nay Pyi Taw, Myanmar, pada November 2014 lalu. Konsepsi Poros Maritim Dunia ini kemudian dikonseptualisasikan ke dalam bahasa Inggris menjadi Global Maritime Fulcrum. Belakangan oleh Duta Besar RI untuk Inggris Rizal Sukma, Global Maritime Fulcrum pada hekekatnya memiliki tiga elemen dasar yaitu sebagai cita-cita, sebagai doktrin dan sebagai bagian dari agenda pembangunan nasional, serta cara/strategi untuk mewujudkannya.
 
Sebagaimana tersurat dalam dalam Doktrin tersebut, pada dasarnya konsep maritim itu adalah perubahan dari fokus orientasi pembangunan dari darat ke laut. Lalu ada juga kedaulatan pangan dengan menjadikan nelayan sebagai pilar. 
 
Khusus untuk persoalan konektivitas maritim. fokus pembangunan 7 dari rencana 24 pelabuhan  di Indonesia akan jadi prioritas. Tentang diplomasi maritim, nantinya akan berbasis hukum laut internasional yang dulu sudah diperjuangkan sejak tahun 1950-an.
 
Adapuin terkait  kekuatan pertahanan maritim, akan diproyeksikan sebagai kombinasi antara coast guard dan angkatan laut, seningga Indonesia diharapkan akan tampil kembali sebagai bangsa maritim terbesar di dunia. Baik dalam jumlah kapal perangnya maupun kapal patrolinya. 
 
Namun seperti kami nyatakan di awal, konsepsi Poros Maritim Dunia Presiden Jokowi hanya bisa berjalan lancer sesuai skema dan strateginya, ketika didukung oleh terciptanya stabilitas dan keamanan di kawasan Asia Tenggara dan Asia Pasifik pada iumumnya. Maka dari itu, rencana  AS untuk mengembangkan ICBM  di Korea Selatan, harus ditentang dan ditolak. 
 
Selain rencanana AS untuk pengembangan ICBM di Korea Selatan itu bisa menciptakan ketegangan militer di Semennanjjung Korea, pada saat yang sama akan memancing Cina untuk meningkatkan eskalasi kekuatan dan kehadiran militernya di Semenanjung Korea, dan Asia Pasifik pada umumnya. 
 
Hal ini, pada perkembangannya akan meluas dan mengembang ke kawasan Asia Tenggara, sehingga berpotensi menciptakan Proxy War di kawasan Ini, dan ASEAN khususnya. Jika ini terjadi, maka dikhawatirkan akan merusak rencana dan pelaksanaan konsepsi Poros Martim Dunia atau Global Maritme Fulcrum yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi. 
 
 
Referensi:
  1. http://www.reuters.com/article/us-northkorea-nuclear-iduskbn0uk0g420160107/
  2. http://ww.dw.com/en/calls-grow-for-south-korea-to-consider-deploying-nuclear-weapons/a-19577289/



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Pembentukan Citra Negatif Indonesia di Luar Negeri

Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif

ASEAN-Kanada Sepakat Perkuat UMKM dan Lindungi Pekerja Migran

Wikipedia segera Disaingi Ensiklopedia Daring China

Kuba Pasar Potensial bagi Amerika Serikat

Moon Jae-in Menjadi Presiden ke-19 Korea Selatan

Warga Korsel Pilih Presiden Baru

GFI Ingatkan 5 Poin Pesan Panglima TNI

Wapres Buka Peringatan Hari Pers Sedunia 2017

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »