» Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik » Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing » Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara » Uranium, Freeport McMoran dan Indonesia » AS Gunakan Afghanistan Sebagai Ajang Uji Coba Peralatan Militer dan Metode Perang


Komentar Pembaca
12-11-2016
Muhammad Kusairi
Trump, Islam dan Sensasi Politiknya

Walaupun Trump menang dan menyatakan sikap "permusuhan"nya terhadap Islam, saya yakin dia tidak akan mengambil kebijakan yang konyol seperti itu. Terbukti dalam kampanye kemenangan, statement-nya tampak lebih "sejuk". Ada upaya untuk membangun kerja sama dengan banyak pihak.


Saya melihat itu hanya menegaskan positioning saja bagi Trump sebagai modal marketing politik bagi dirinya. Boleh juga disebut sekadar mencari sensasi politik. Sebagai Presiden AS terpilih tentu Trump sangat sadar bahwa antar belahan dunia saling membutuhkan. Dalam konteks energy misalnya, kendati AS mengalami surplus akibat meningkatnya shale gas di negeri tersebut, dan menjadi produsen migas terbesar saat ini, tetapi AS tidak bisa melepaskan negara-negara di belahan timur tengah dan benua afrika, yang memiliki minyak berlebih. Apalagi yang kini masih menjadi sekutunya.

Beberapa kualitas minyak mereka, yang notabene negara berpenduduk muslim atau negara Islam, minyak mentahnya menjadi bahan baku bagi persenjataan dan perlengkapan militer AS. Sebaliknya, statement "permusuhan" Trump terhadap Islam justru malah untuk meningkatkan daya tawar negaranya di bidang energi.

Sebenarnya ini menjadi kunci kemenangan Trump, yang membingkai semua program-program politik dan ekononinya dalam kerangka demi "Kepentingan Nasional". Termasuk sikap tegasnya terhadap terorisme. Sisi inilah yang agaknya dilihat oleh masyarakat AS tidak tampak pada seorang Hilarly Clinton.




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik
Dalam berbagai kesempatan, pemerintahan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe sudah sempat meminta maaf atas sepak-terjang tentara Jepang pada Perang Dunia II di beberapa negara eks koloninya ...

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Lihat lainya »
   Arsip
Ketua OPEC Optimistis Stok Minyak Global Turun

Mengunjingkan Epistemologi Keraton

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara

Uranium, Freeport McMoran dan Indonesia

AS Gunakan Afghanistan Sebagai Ajang Uji Coba Peralatan Militer dan Metode Perang

Implementasi Pemahaman Wawasan Nusantara Dalam Wujudkan Negara Maritim Indonesia

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Turki Dukung RI Jadi Anggota DK PBB

Dibalik Sukses Pengendalian Harga-harga Pangan pada Idul Fitri 2017

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »