» Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah » Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina » Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif » Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat


Internasional
11-11-2016
Kemenangan Trump Untungkan Rusia, Suriah dan Mesir
Presiden Rusia Vladimir Putin dan sejawatnya di Suriah, Bashar al-Assad, diuntungkan oleh terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat (AS). Demikian dinyatakan oleh Abdel Bari Atwan, pemimpin redaksi situs berita online Rai al-Youm yang berbasis di London, Inggris, dalam editorialnya, Kamis (10/11/2016).

“Trump adalah orang yang sangat salut kepada Putin, memandangnya sebagai orang yang berperang melawan para ‘jihadis’ di Suriah, dan karena itu Trump akan ikut memerangi mereka dan berada di satu kubu dengan Putin. Dia tidak akan memerangi Presiden al-Assad, melainkan memerangi IS (ISIS), dan dia menolak mengecam serangan Rusia di Aleppo dan lain-lain,” tulis Atwan.
 
Dia juga menyebutkan bahwa Trump menentang pendudukan AS atas Irak, menolak campurtangan NATO di Libya, dan tidak menghendaki “ekspor” demokrasi AS dan suksesi di negara-negara Timteng sehingga menguntungkan sejumlah rezim, terutama rezim Bashar al-Assad yang selama ini diperangi oleh banyak negara.
 
Presiden Mesir, Abdel Fattah el-Sisi, menurut Atwan, juga merupakan pihak yang paling diuntungkan, karena Trump telah menunjukkan penghormatannya kepada el-Sisi dalam pertemuan di sela-sela sidang Majelis Umum PBB. Saat itu dia menjanjikan perbaikan hubungan dengan Mesir jika menang dalam pilpres, dan mengritik kebijakan Obama mendukung gerakan Ikhwanul Muslimin.
 
Sedangkan Iran, di satu sisi diuntungkan tapi disisi lain dirugikan. Diuntungkan karena Iran sekubu dengan Rusia, dan dirugikan apabila Trump berusaha mengubah perjanjian nuklir nuklir Iran. Tapi kemungkinan demikian kecil karena selain tidak semua yang diucapkan oleh seorang kandidat dalam kampanye akan dilaksanakan ketika sudah terpilih, juga karena kesepakatan nuklir Iran bukanlah kesepakatan bilateral AS-Iran, melainkan Iran dengan enam negara besar andalan PBB.
 
Kemudian, lanjut Atwan, pengubahan atau pembatalan perjanjian itu juga berpotensi memprovokasi Iran untuk melakukan pengayaan uranium dan membuat bom nuklir.
 
“Hal ini dapat menjurus pada konfrontasi militer, dan saya kira Trump tidak menghendakinya,” tulis Atwan.
 
Lebih lanjut, jurnalis kondang kelahiran Palestina dan mantan pemimpin redaksi al-Quds al-Arabi ini menyebutkan bahwa  dengan diuntungkannya kubu Rusia dan Bashar al-Assad, maka pihak yang dirugikan praktis adalah kubu oposisi dan kelompok-kelompok bersenjata Suriah serta negara-negara Arab pendukungnya, terutama Arab Saudi.
 
Apalagi, ketika Barack Obama pernah mengatakan bahwa Saudi ingin menunggangi AS secara gratis, Trump menegaskan bahwa sejak sekarang Saudi harus membayar semua dukungan Washington yang dinikmati Riyadh. Parahnya lagi, Trump termasuk orang yang paling menggebu mengupayakan undang-undang JASTA yang memungkinkan korban Tragedi 9/11 AS untuk menuntut orang Saudi dan mendapatkan ganti rugi dana dalam jumlah besar.
 
Mengenai Israel dan Palestina, Atwan menyatakan sulit untuk memasukkan dua pihak ini berada dalam kategori yang diuntungkan atau yang dirugikan, karena lobi Yahudi di AS, (American Israel Public Affairs Committee/AIPAC), sama sekali tidak berperan dalam kemenangan Trump. 
 
Namun demikian, menurut Atwan, siapapun yang berkuasa di AS, Israel tetap merupakan sekutu bagi AS sehingga Palestina sebaiknya dimasukkan dalam kategori pihak yang dirugikan.

Sumber :liputanislam.com

 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Moon Jae-in Menjadi Presiden ke-19 Korea Selatan

Warga Korsel Pilih Presiden Baru

GFI Ingatkan 5 Poin Pesan Panglima TNI

Wapres Buka Peringatan Hari Pers Sedunia 2017

Top! Pelajar Indonesia Gelar Festival Budaya di Manchester

Kehadiran Kapal Induk Cina Terbaru Menuai Spekulasi

Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik

Kongres Ulama Perempuan di Cirebon Dihadiri oleh 15 Negara

Sekjen PBB Serukan Penyelesaian Politik bagi Krisis Yaman

China Luncurkan Kapal Induk Buatan Dalam Negeri

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »