» Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi » Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia » Pemerintah Jepang Tidak Punya Itikad Baik Menyelesaikan Masalah Ianfu di Indonesia » Aleppo, Propaganda dan Peta Aliansi Militer Terbaru (Bagian 2-Selesai) » Meneropong Masa Depan Angkatan Bersenjata Cina


Komentar Pembaca
05-11-2016
Daun Lontar
Cuitan-Cuitan Mustofa Bisri dalam Pandangan Saya

Ada beberapa teman yang mengirim isi pernyataan Mustofa Bisri terkait demo Ahok dan demo 4 November ini yang mereka kirim baik lewat inbox maupun lewat komentar gambar di FB saya dan mereka meminta pendapat saya.


Di mata saya seorang Mustofa Bisri adalah orang biasa saja, walaupun bagi sebagian yang lain menyebut dia sebagai kiyai atau ulamak.

Sebutan kiyai itu kalau kita jauh dibawa ke ranah semiotika sudah jelas dikatakan semiolog Roland Barthes aliran pasca strukturalisme bahwa model penyebutan" kiyai" semacam itu seolah-olah sepwrti common sense, alamiah dan natural padahal kata Barthes sejatinya sebutan seperti itu tidak alami dan sengaja dibuat oleh kelompok tertentu terutama pemujanya sehingga istilah common sense itu tdk ada dan yang ada hanyalah komunal sense (sorry yang belum dapat mata kuliah semiolog pasti sulit memahami proposisi Barthes ini, karena yang tahu tentang maksudnya hanya si Barthes sendiri kata si Nusron Purnomo...eeeeit maksudnya Nusron Wahid...he..)

Terkait dengan itu..

Pesan Sang Maha Resi Sunan Bonang pada pangeran Wujil (trah Brawijawja V)" hai Wujil tak perlu kau berkelana mencari pujangga (kiyai) karena sejatinya ia ada dalam dirimu, jika engkau ingin bertawajjuh dengannnya maka asalah mata batin dan nuranimu jauhkan dirimu dari sifat fasad, dengki insyaallah engkau akan manunggal dengannya" . dialog ini menyiratkan pada kita untuk tidak terlalu mendewakan seorang sebagai patron dalam hidupmu entah itu kiyai ataupun seorang presiden karena sejatinya dalam dirimu sudah bersemayam nur pujangga.

Kembali ke laptop..!

Sebagai orang biasa, tentu Mustofa Bisri jaga banyak melakukan tindakan-tidakan di luar jalur ke kiyai-an (itu jika kita sepakati dia sebagai seorang kiyai). Salah satu contoh komen Mustofa Bisri yang kurang pantas adalah ketika dia menyebut "memangnya MUI itu makhluk apa...?" itulah salah satu cuitannya di dalam beberapa media.

Apa dia lupa bahwa di dalam MUI sendiri juga ada anak seorang ulamak besar yaitu KH. Makruf Amin yang merupakan anak keturunan dari Syech Nawawi Al-Bantani yang justru menurut saya lebih kondang, tinggi dan alim keilmuannya tentu dari seorang Mustofa Bisri (itu pendapat saya) yang juga mertua si Ulil Abshar Abdalla itu.

Hal yang aneh dari sikap Mustofa Bisri yang menurut saya ambigu... apa kira-kira komen dia terkait peristiwa pasukan berani mati era Gus Dur pada masa itu ? Ayo jawab...berani gak dia komen kalau soal yang ginian?

Pertanyaannya kemudian lebih baik dan terhormat mana bagi seorang muslim, membela nilai-nilai yang ada dalam Al-Quran dengan cara demo yang damai atau membela seorang Gus Dur (allahu yarham) secara fanatik buta alias ta'sub???

Saya pikir ummat Islam di Indonesia sudah cukup pintar menilai mana seorang kiyai yang benar-benar kiyai dan mana yang seolah-olah seorang kiyai yang kata Roland Barthes disebut sebagai common sense (seolah-olah) yang tidak lain adalah komunal sense.

Wallahu a'alam bissawab.


 




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa
June S Syarief, Kepala Seksi Afrika, Eropa, dan Rusia, Kementerian Perdagangan RI. Disampaikan dalam Seminar Terbatas para ahli dengan tema "MEMBANGUN STRATEGI PERIMBANGAN KEKUATAN DALAM RANGKA MENGAKTUALISASIKAN ...

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Saatnya Indonesia Tampil Sebagai Kekuatan Baru dan Penyeimbang Kekuatan Dunia di Tengah Persaingan Global Dewasa Ini

Lihat lainya »
   Arsip
Palestina Minta Dukungan Indonesia di Konferensi Paris

Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia

Nusantara sebagai Episentrum Kerajaan-Kerajaan Dunia

Bela Negara adalah Kewajiban bagi Setiap Warga Negara Menyikapi Anarkisme (Geo) Politik Global

Kaji Ulang Makna Globalisasi dan Implementasinya

China dan Rusia sepakat balas penempatan rudal AS di Korsel

Imigrasi Bekasi Deportasi 9 WNA China

Jasa Presiden Soekarno buat bangsa Indonesia

RESENSI: Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Partai Berkuasa di Hungaria Ingin Usir "LSM George Soros"

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »