» Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) » Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia » Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan » Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida


Komentar Pembaca
05-11-2016
Daun Lontar
Cuitan-Cuitan Mustofa Bisri dalam Pandangan Saya

Ada beberapa teman yang mengirim isi pernyataan Mustofa Bisri terkait demo Ahok dan demo 4 November ini yang mereka kirim baik lewat inbox maupun lewat komentar gambar di FB saya dan mereka meminta pendapat saya.


Di mata saya seorang Mustofa Bisri adalah orang biasa saja, walaupun bagi sebagian yang lain menyebut dia sebagai kiyai atau ulamak.

Sebutan kiyai itu kalau kita jauh dibawa ke ranah semiotika sudah jelas dikatakan semiolog Roland Barthes aliran pasca strukturalisme bahwa model penyebutan" kiyai" semacam itu seolah-olah sepwrti common sense, alamiah dan natural padahal kata Barthes sejatinya sebutan seperti itu tidak alami dan sengaja dibuat oleh kelompok tertentu terutama pemujanya sehingga istilah common sense itu tdk ada dan yang ada hanyalah komunal sense (sorry yang belum dapat mata kuliah semiolog pasti sulit memahami proposisi Barthes ini, karena yang tahu tentang maksudnya hanya si Barthes sendiri kata si Nusron Purnomo...eeeeit maksudnya Nusron Wahid...he..)

Terkait dengan itu..

Pesan Sang Maha Resi Sunan Bonang pada pangeran Wujil (trah Brawijawja V)" hai Wujil tak perlu kau berkelana mencari pujangga (kiyai) karena sejatinya ia ada dalam dirimu, jika engkau ingin bertawajjuh dengannnya maka asalah mata batin dan nuranimu jauhkan dirimu dari sifat fasad, dengki insyaallah engkau akan manunggal dengannya" . dialog ini menyiratkan pada kita untuk tidak terlalu mendewakan seorang sebagai patron dalam hidupmu entah itu kiyai ataupun seorang presiden karena sejatinya dalam dirimu sudah bersemayam nur pujangga.

Kembali ke laptop..!

Sebagai orang biasa, tentu Mustofa Bisri jaga banyak melakukan tindakan-tidakan di luar jalur ke kiyai-an (itu jika kita sepakati dia sebagai seorang kiyai). Salah satu contoh komen Mustofa Bisri yang kurang pantas adalah ketika dia menyebut "memangnya MUI itu makhluk apa...?" itulah salah satu cuitannya di dalam beberapa media.

Apa dia lupa bahwa di dalam MUI sendiri juga ada anak seorang ulamak besar yaitu KH. Makruf Amin yang merupakan anak keturunan dari Syech Nawawi Al-Bantani yang justru menurut saya lebih kondang, tinggi dan alim keilmuannya tentu dari seorang Mustofa Bisri (itu pendapat saya) yang juga mertua si Ulil Abshar Abdalla itu.

Hal yang aneh dari sikap Mustofa Bisri yang menurut saya ambigu... apa kira-kira komen dia terkait peristiwa pasukan berani mati era Gus Dur pada masa itu ? Ayo jawab...berani gak dia komen kalau soal yang ginian?

Pertanyaannya kemudian lebih baik dan terhormat mana bagi seorang muslim, membela nilai-nilai yang ada dalam Al-Quran dengan cara demo yang damai atau membela seorang Gus Dur (allahu yarham) secara fanatik buta alias ta'sub???

Saya pikir ummat Islam di Indonesia sudah cukup pintar menilai mana seorang kiyai yang benar-benar kiyai dan mana yang seolah-olah seorang kiyai yang kata Roland Barthes disebut sebagai common sense (seolah-olah) yang tidak lain adalah komunal sense.

Wallahu a'alam bissawab.


 




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Panglima TNI: Generasi Penerus TNI Harus Sensitif Terhadap Isu Global

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Panglima TNI: Tujuh Langkah untuk Menguasai Indonesia

Mengapa China Bersemangat Membangun Infrastruktur di Indonesia?

Tentara Filipina Tewaskan 10 Aktivis Garis Keras Guna Bebaskan Sandera

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »