» Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea » Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points » Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia » Berebut Kedaulatan Spratly, Memicu Ketegangan Baru di Asia Tenggara Pada Era Donald Trump » Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi


Internasional
03-11-2016
Di Mana Netralitas PBB dalam Krisis Yaman ?
Kementerian luar negeri Yaman menyatakan, utusan khusus Sekjen PBB urusan Yaman, Ismaïl Ould Cheikh Ahmed dalam sidang Dewan Keamanan menuding pihak Yaman menentang peta jalan PBB mengenai solusi damai di Yaman, padahal faktanya delegasi nasional Yaman justru menegaskan perundingan sebagai jalan untuk meretas solusi damai di negara Arab itu.

Prakarsa PBB mengenai solusi keluar dari krisis Yaman tidak diumumkan secara rinci. Tapi secara umum, berdasarkan prakarsa tersebut, jika tercapai kesepakatan para pihak di Yaman, kepemimpinan baru diserahkan melalui konsensus  dari Abd Rabbuh Mansur Hadi, dan seluruh wewenang Hadi diserahkan kepadanya.
 
Kementerian luar negeri Yaman dalam statemennya menyinggung kejahatan selama 19 bulan koalisi Arab pimpinan Saudi terhadap Yaman, sekaligus mengkritik sikap bungkam PBB dan publik dunia terhadap aksi kejahatan tersebut yang masih berlanjut hingga kini.
 
Agitasi yang dilakukan oleh Arab Saudi dan pendukungnya menyebabkan prakarsa yang disampaikan PBB tidak adil dan berpihak terhadap Riyadh. Akhirnya, PBB justru menjadi perpanjangan tangan Arab Saudi dan antek-anteknya.
 
Sikap pasif PBB dalam menyikapi berlanjutnya pembunuhan warga sipil Yaman dalam agresi militer koalisi Arab yang dipimpin Saudi sangat berbahaya dan bertentangan dengan tujuan utama dibentuknya organisasi bangsa-bangsa dunia ini. PBB alih-alih menjadi juru damai, justru mengambil peran sebagai sekutu agresor, yang bertentangan dengan piagamnya sendiri.
 
Keputusan dan aksi yang dilakukan PBB terhadap krisis Yaman selama ini mencerminkan besarnya pengaruh intervensi politik AS dan Arab Saudi di organisasi internasional itu.
 
Oleh karena itu, para analis politik berkeyakinan bahwa rendahnya peran PBB dalam penyelesaian krisis Yaman bermakna bahwa AS secara terbuka dan resmi mengambil alih berkas tersebut, dan secara langsung menjalankan kebijakan yang menguntungkan kepentingan Washington dan sekutunya. Tentu saja, masalah ini menyebabkan Washington semakin arogan dalam menyikapi masalah krisis Yaman.
 
Sebagai salah satu pemain internasional kunci dalam penyelesaian krisis regional dan internasional, PBB dan institusi yang berafiliasi dengannya seharusnya bersikap netral dan mengambil kebijakan yang adil dan tidak memihak. Tapi, jika menilik rekam jejak dalam masalah Yaman, tampaknya rapor kinerja PBB tidak menunjukkan prestasi yang membanggakan.
 
Salah satu yang paling parah adalah ketidakmampuan PBB mencegah berlanjutnya kejahatan Arab Saudi terhadap Yaman. Padahal laporan PBB sendiri menunjukkan begitu banyak korban jiwa dari pihak sipil Yaman, termasuk anak-anak dan perempuan.
 
Selama ini salah satu langkah penting yang telah dilakukan utusan Sekjen PBB urusan Yaman, Ismail Ould Cheikh Ahmed adalah menggelar perundingan nasional Yaman. Tapi, pertemuan tersebut gagal membuahkan hasil, karena dijegal oleh Saudi dan AS.
 
Sekjen PBB pernah memasukkan nama Arab Saudi sebagai pelanggar hak anak dalam krisis Yaman, tapi kemudian dianulir karena Riyadh mengancam akan menghentikkan bantuannya kepada PBB.
 
Meskipun Arab Saudi melakukan tiga kejahatan besar sesuai kriteria pengadilan pidana internasional, yaitu: kejahatan terhadap kemanusian, kejahatan terhadap perdamaian dan kejahatan perang, tapi berkat dukungan Barat, terutama AS, rezim Al Saud justru menjadi anggota dewan HAM PBB. Dengan fakta-fakta ini, masihkah bisa berharap PBB akan netral dan tidak memihak kepentingan Riyadh dalam krisis Yaman. 

Sumber :parstoday.com

 

Advance Search

   Isu Hangat »
Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia
Pada 2014 lalu, Global Future Institute sempat menyorot secara khusus etnis Tatar yang bermukim di Crimea. Waktu itu, beberapa tokoh etnis Tatar dari seluruh dunia berkumpul ...

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Menjaga dan Merawat Kerukunan Beragama di Papua

Membendung Radikalisme dan Mempertahankan Keutuhan NKRI

Lewat Sepucuk Surat Trump Cairkan Hubungan dengan China

Khayalan Tingkat Dewa, Komunis Bangkit Lagi

Pilkada: Untuk Rakyat atau Politisi

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Indonesia dan Korsel Bahas Kerjasama Bilateral

Uni Eropa akan Tetap Terapkan Sanksi kepada Rusia

Uni Eropa Diminta Tidak Ikuti Permainan Trump

Cinta dan Kebenaran

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »