» “Kegenitan Geopolitik” » Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik » Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik » Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing » Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara


Isu Hangat
19-10-2016
Pemerintah Tiongkok Mainkan Isu Lingkungan Hidup Untuk Hancurkan Pesaing Bisnisnya di Sektor Teknologi Nuklir di Indonesia
Penulis : Penulis : Hendrajit, Pengkaji Geopolitik dan Direktur Eksekutif Global Future Indonesia (GFI)
Sedemikian rupa Pemerintah Repubklik Rakyat Tiongkok berupaya menanamkan pengaruhnya dalam kebijakan perekonomian nasional Indonesia maupun dalam menguasai sektor energi di Indonesia, sehingga segala macam cara ditempuh. 

Terbetik kabar, dua perusahaan negara Tiongkok yang bergerak dalam bidang energi, yaitu China Nuclear Power Operation Techology Corporation Ltd (CNPO) dan General Nuclear Power Corporation (CGN), beberapa waktu berselang telah memberi informasi yang salah kepada Pemerintah Indonesia mengenai adanya dampak buruk terhadap Lingkungan Hidup melalui penggunaan teknologi-teknologi nuklir buatan Rusia. 
 
Jika informasi ini benar, maka tak pelak lagi pihak pemerintah Tiongkok telah memainkan isu dampak lingkungan hidup dengan dalih untuk mendukung gerakan peduli terhadap perlindungan lingkungan hidup. Nampaknya pemerintah Tiongkok meniru pola yang dimainkan Amerika Serikat dan sekutu-sekutu baratnya dalam memainkan isu demokrasi, hak-hak asasi manusia dan lingkungan hidup, sebagai sarana untuk menekan kebijakan luar negeri dan perekonomian negara-negara berkembang yang sedang jadi sasaran untuk dikuasai wilayah geopolitiknya. 
 
Begitulah yang nampak jelas melalui manuver yang dilakukan oleh CNPO dan CGN dalam memainkan isu lingkungan hidup, untuk membendung kemungkinan kerjasama strategis antara Indonesia dan Rusia. Tujuan strategis dari manuver CNPO dan CGN ini nampak jelas. Bahwa melalui manuver tersebut, pihak Tiongkok berusaha untuk menunda program nuklir Indonesia, sehingga pada perkembangannya kemudian, menggunakan momentum ditundanya pelaksanaan program nukklir Indonesia, untuk memperkuat posisi strategis pasar dalam negeri Tiongkok sendiri di sektor teknologi nuklir, terkait posisi tawarnya terhadap pemerintah Indonesia. 
 
Padahal kalau kita cermati dengan seksama kepentingan dan sepak-terjang Tiongkok dalam memainkan kepentingan ekonominya di Indonesia, terlihat sekali berakibat buruk dan punya daya rusak yang cukup tinggi. Lihat saja bagaimana dampak sepak-terjang Tiongkok ketika memaksakan program tenaga listrik sebesar 35 ribu mega watt. Bahkan termasuk juga dalam mempengaruhi program pembangunan infrastruktur maritim Indonesia dalam jangka panjang. 
 
Namun demikian, terlepas reputasi buruknya sebagai mitra kerjasama dalam menerapkan kerjasama proyek-proyek teknologi nuklir, Beijing nampaknya tetap berupaya untuk menciptakan posisi dan kondisi yang menguntungkan dalam pasar dalam negeri teknologi nuklirnya, seraya berusaha memperluas ekspansi teknologi-teknologi nuklirnya di Indonesia. 
 
Bagi pemerintah Indonesia dan Komisi VII bidang Energi DPR, manuver yang tidak fair dari pemerintah Tiongkok maupun kedua perusahaan andalannya yaitu CNPO dan CGN, perkembangan tersebut nampaknya harus diwaspadai dan mendapatkan perhatian yang cukup intensif. Sehingga Indonesia tidak akan masuk perangkap permainan Beijing. 
 
Sebab berdasarkan beberapa kajian-kajian terkait kiprah Tiongkok dalam pengembagnan bidang teknologi nuklir di luar negeri, sama sekali tidak ada proyek teknologi nuklir yang bisa jadi catatan cemerlang reputasi cemerlang Tiongkok di sektor ini. Bahkan di dalam negeri Tiongkok sendiri, Pembangunan Pembangkit Tenaga Atom-nya praktis dilakukan dengan menggunakan teknologi-teknologi buatan Rusia. 
 
Berdasarkan sekelumit cerita tersebut, nampak jelas Indonesia sedang dalam bahaya masuk dalam kendali pengaruh Tiongkok, bahkan berpotensi untuk disandera oleh Tiongkok. Apalagi dalam visi geopolitik Tiongkok, penguasaan beberapa kepulauan Indonesia merupakan bagian integral dari skema bantuan ekonomi Tiongkok terhadap Indonesia. 
 
Keinginan Tiongkok untuk menguasai Bitung di Sulawesi Utara melalui skema bantuan pembangunan infrastruktur maritim Indonesia, atau bantuan Tiongkok untuk pembangunan Jembatan Selat Sunda, sekadar dua contoh nyata adanya niat Tiongkok untuk menaklukkan wilayah geopolitik Indonesia melalui bantuan ekonomi. 
 
Manuver Tiongkok untuk memperluas ekspansi tekonologi nuklirnya dengan mengaitkannya dalam penguasaan beberapa pulau di Indonesia, justru pada perkembangannya akan mengancam timbulnya kerusakan lingkungan hidup di bumi nusantara ini. Tidak saja dalam skala nasional, bahkan secara regional di kawasan Asia Tenggara. 



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Indonesia Dan ASEAN Harus Pertimbangkan kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia Sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik
Belakangan ini, persaingn global AS versus Cina di Asia Pasifik semakin menajam. Indonesia, yang sejatinya merupakan pelopor strategi perimbangan kekuatan di antara dua kutub yang sedang ...

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Lihat lainya »
   Arsip
HMI Cabang Padang: Keluarkan Israel dari Keanggotaan PBB

Indonesia Dan ASEAN Harus Pertimbangkan kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia Sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik

Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik

Erdogan Kunjungi Teluk untuk Redakan Sengketa Qatar

Wapres Jusuf Kalla Bahas Kerja Sama Maritim dengan Vietnam

PERPPU N0. 2/2017, PERPU CCTV

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumber

Iran Harap Perang Yaman Tidak Sulut Konfrontasi Iran-Saudi

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »