» Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea » Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points » Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia » Berebut Kedaulatan Spratly, Memicu Ketegangan Baru di Asia Tenggara Pada Era Donald Trump » Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi


Internasional
17-10-2016
KTT BRICS Bahas Peningkatan Kerjasama Perdagangan dan Ekonomi Global

Para pemimpin dari lima kekuatan ekonomi dunia BRICS, yakni Brasil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan bertemu di negara bagian Goa, India barat, sejak Sabtu (15/10/2016).


Bertemu dalam KTT Tahunan, Pimpinan Negara-negara BRICS membahas kemampuan mereka untuk membentuk dialog global mengenai politik internasional dan keuangan yang semakin sedang dipertanyakan.

Perdana Menteri India Narendra Modi dan pemimpin BRICS lainnya, Presiden Brasil Michel Temer, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma menghadapi tugas sulit untuk menegaskan pengaruh mereka sebagai kekuatan ekonomi.

Bukan hanya mampu saling bersaing dalam perdagangan tapi juga bisa membantu pertumbuhan ekonomi negara-negara dalam kelompok BRICS.

BRICS ialah kelompok mewakili hampir setengah dari populasi dunia dan dan seperempat ekonomi dunia yakni USD 16.6 triliun.

Akan tetapi BRICS tengah berjuang mengatasi perlambatan ekonomi dan persoalan politik di Suriah, Laut Cina Selatan dan India di dalam perang melawan terorisme.



Artikel Terkait
» Belasan Negara Blokir Hak LGBT dalam Perencanaan Kota PBB
» Kremlin Minta Inggris Jamin Keselamatan Para Diplomatnya
» Rusia: Daesh Semakin Kuat di Suriah Karena Inggris
» Permusuhan AS Terhadap Rusia Mengancam Kemanan Nasional
» Barat dan Proyek Hak Asasi Manusia
» Rusia Siap Bahas Prakarsa Perancis Soal Suriah



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia
Pada 2014 lalu, Global Future Institute sempat menyorot secara khusus etnis Tatar yang bermukim di Crimea. Waktu itu, beberapa tokoh etnis Tatar dari seluruh dunia berkumpul ...

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Lewat Sepucuk Surat Trump Cairkan Hubungan dengan China

Khayalan Tingkat Dewa, Komunis Bangkit Lagi

Pilkada: Untuk Rakyat atau Politisi

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Indonesia dan Korsel Bahas Kerjasama Bilateral

Uni Eropa akan Tetap Terapkan Sanksi kepada Rusia

Uni Eropa Diminta Tidak Ikuti Permainan Trump

Cinta dan Kebenaran

Rex Tillerson Dikukuhkan sebagai Menlu AS

Sekjen PBB Desak AS Cabut Larangan Masuknya Pengungsi Muslim

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »