English     Indonesia  
Menu Rubrik
Internasional
Politik
Asean
Analisis
Hukum
Ekonomi dan Bisnis
Industri Strategis
Hankam
Sosial Budaya
Lingkungan Hidup
Kesehatan
Wawancara Khusus
Gaya Hidup
Diplomasi
Komentar Pembaca
Ucapan Puasa
Departemen Luar Negeri RI
PBNU
ISAFIS
Selamatkan Indonesia
Kajian Timur Tengah
Magister HI Unpad
Informasi Wisata Bali
Anggia Putri Nilasari
World Future Online
Budaya Sunda
   Artikel Pilihan
No data yet
   Jajak Pendapat
Membentuk kekuatan baru selain PBB guna menekan Israel membuka blokade atas Gaza?
Sangat Perlu
Perlu
Tidak Perlu
Tidak Tahu
   
Dirgahayu RI
Isu Hangat
17-05-2010
Siaran Pers:
Pernyataan GFI pada Konferensi Internasional tentang Perang Dunia II di KL
Penulis : GFI

Mengutuk Penulisan Ulang Peran Jepang sebagai Agresor terhadap Bangsa Asia Selama Perang Dunia II


  1. Kami memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada World Future Online, terutama Kazi Mahmood beserta mitra, karena sukses menggelar konferensi strategis untuk memperingati HUT ke-65 Perang Dunia II.
  2. Kami memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya pula atas keprihatinan para pemrakarsa  konferensi tersebut yang mengutuk keras mereka yang berupaya meringankan para agresor dari tanggung jawab atas kejahatan perang yang dilakukannya selama dan setelah Perang Dunia II.
  3. Kami, Global Future Institute juga membahas apa yang juga menjadi keprihatinan World Future Online; di mana berbagai upaya janggal untuk merehabilitasi para penjahat militer, tidak hanya menodai memori suci para korban yang tidak berdosa, tetapi juga  menyayangkan adanya pengembangan berbagai argumen yang dipaksakan untuk para 'makelar' perang yang berpotensi menyulut konflik atas nama dalih-dalih keadilan tetapi dengan agenda-agenda tersembunyi.
  4. Sejalan dengan semangat atas sikap yang diambil oleh komite pengarah konferensi ini, atas nama Global Future Institute, saya ingin menarik perhatian Anda akan adanya sinyal-sinyal peringatan yang ditunjukkan oleh munculnya militerisme Jepang di masa depan.
  5. Kita harus tetap waspada terhadap kelompok kanan yang menguat di Jepang selama beberapa tahun terakhir. Itu ditandai pada 2008, ketika Toshio Motoya, pengusaha berhaluan kanan, mengadakan kompetisi penulisan esai perang dengan tema: PERSPEKTIF SEJARAH MODERN JEPANG.
  6. Apa yang membuat kami curiga terhadap motif di balik kompetisi itu  adalah bahwa, lebih dari 235 peserta yang ikut, 94 di antaranya berasal dari Angkatan Udara Pasukan Bela Diri Jepang (ASDF).
  7. Hasil dari kompetisi itu telah membuat kami lebih curiga lagi di mana Marsekal Toshio Tamogami, kepala staf Angkatan Udara Bela Diri Jepang, memenangkan hadiah utama sebesar 3 juta yen untuk kompetisi tersebut. Sehingga menyebabkan kecurigaan lagi bahwa Angkatan Udara Pasukan Bela Diri tersebut memainkan peran di balik layar dalam mensponsori dan meggagas kompetisi tersebut.
  8. Tidak diragukan lagi, kompetisi esai perang yang disponsori oleh Toshio Motoya, kian mengisyaratkan  bahwa kelompok kanan tidak hanya masih ada, tapi lebih penting, masih hidup dalam aspirasi mereka yang ultranasionalistik dan militeristik.
  9. Tindakan Tamogami yang menulis esai provokatif karena berupaya menulis ulang dan menghidupkan kembali sejarah Jepang dari Jepang sebagai agresor ke pembebas terhadap bangsa-bangsa Asia, telah secara kuat merefleksikan pikiran bawah sadar berbagai elemen strategis di masyarakat Jepang, terutama bagi mereka yang membela munculnya kembali militerisme Jepang di Asia Pasifik.
  10. Oleh karena itu, kami mendesak peserta konferensi untuk mengutuk keras kelompok-kelompok kanan seperti tindakan Tamogami yang menyangkal peran Jepang menjadi agresor yang melawan bangsa-bangsa Asia sebelum dan selama Perang Dunia II.

Kuala Lumpur-Malaysia, 13 Mei 2010.



Artikel Terkait
» GFI Statement at World War Two International Conference
» Next World War Is Not Impossible, Says Syed Hamid
» America's growing 'police' role in SEA
» Japan as an Independent Player in an out of control Asia
» Mengutuk Keras Negara-Negara Agresor Perang Dunia Kedua yang Bermaksud Menulis Ulang Keterlibatannya Dalam Kejahatan Perang
» GFI Diminta Lakukan Riset Akademik
» Manokwari's Gospel Town regulation, US scenario to divide Papua



Cari :
Nash of Journalism School
   Isu Hangat »
Bangkitnya Kembali Militerisme Jepang di Asia Pasifik Sudah Diambang Pintu
Ada satu perkembangan yang cukup mencemaskan di Jepang dalam beberapa bulan terakhir ini. Issui-kai, atau Masyarakat Rabu" ("Wednesday Society"), dibentuk pada 1970-an oleh para penggemar novelis ...

Mewaspadai Meningkatnya Kekuatan Militer Cina (Bagian 2)

Deklarasi Konferensi PD II DI Kuala Lumpur

The Malaysian Experience & Hope For The Future

Japan as an Independent Player in an out of control Asia

Pernyataan GFI pada Konferensi Internasional tentang Perang Dunia II di KL

Lihat lainya »
   Arsip
Invasi Berakhir, Stimulus Bergulir

Risiko Bayangi Pelonggaran Kredit di AS

Obama Hadapi Tantangan Terberat Mereformasi Perbankan

Alunan Angklung di Kampus Lebanon

60 Tewas Akibat Demam Berdarah di Honduras

Mahmoud Abbas : Israel Harus Bekukan Pemukiman Yahudi

Korut Berusaha Tingkatkan Hubungan Militer dengan China

Gamelan Bali Getarkan Jantung Seni Musik Rusia

Perang Gaza, Perang Gas

Kritik untuk EraMuslim Lagi: Mengapa AS Menyerang Irak?

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang : Travis Heerman
Petualangan Seorang Pendekar Jepang

PADA tahun 1960-an dan 1970-an, komik mengalami masa kejayaan di Indonesia. Sejumlah komikus menghasilkan pelbagai cerita yang menarik minat masyarakat. Para pendekar dari dunia imajinasi pun menjadi panutan orang-orang di dunia nyata. Sosok mereka—sebut saja misalnya Si Buta dari Goa Hantu, Panji Tengkorak, Pendekar Bambu Kuning, Si Pitung, dan Jaka Sembung—menjadi legenda.

Lihat Lainnya »

© 2008 - 2010 theglobal-review.com All rights reserved