» Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah » Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina » Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif » Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat


Ekonomi dan Bisnis
31-08-2016
Strategi 'Front-Loading', Utang Pemerintah menjadi Cepat Melambung
Penulis : Sigid Kusumowidagdo, Human Captal Advisor di Bank Pundi Indonesia Tbk

Banyak yang tidak mengira begitu cepatnya pemerintah Jokowi-JK menghadapai masalah utang yang melambung, dalam waktu kurang dari dua tahun sejak dilantik dan menimbulkan risiko krisis keuangan. Yang terbukti pemerintah sudah harus memotong anggaran sedikitnya Rp 133,8 trilyun pada anggaran 2016. Adakah sesuatu yang salah?


Terlihat ada keinginan keras pemerintah Jokowi-JK untuk mengungguli prestasi pemertintah sebelumnya sehingga begitu banyak daftar proyek yang ingin dibangun dan yang harus dibiayai. Bahkan dalam program ekonominya pemerintah Jokowi-JK menargetkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 7 % selama 5 tahun sampai 2019.

1. Strategi "Front Loading"

Karena banyak proyek yang akan dibangun sekaligus dperlukan dana berkelanjutan yang besar, maka digunakan strategi "Front Loading" atau memuat dana berlimpah di awal jadi kebutuhan dana satu tahunn atau periode ditumpuk dana di ermpat bulan pertama (Januari-Aptil) sudah dipenuhi 70-80 % dari kebutuhan dana satu periode/tahun maka kebutuhan dana dipenuhi secara agresif dengan menarik utang luar negeri atau menerbitkan Surat Utang Negara (obligasi negara yang tentunya juga harus segera diimbangi dana untuk pembayaran angsuran pokok dan bunga.

2. Tujuan "Front Loading", Pemerintah menggunakan strategi ini

untuk segera memastikan diperoleh dana sebelum suku bunga di AS atau negara-negara kreditor naik dan taga tak perlu melakukan negosiasi-negosiasi lagi untuk memperoleh dana jika dana habis dengan bunga mungkin lebih tinggi dan kemungkinan nilai rupiah pun menurun sehingga perlu dana yang lebih besar membayar utang.

3. Pelaksanaan "Front Loading"

Utang yang diadakan dan ditarik di 2015 sudah mencerminkan strategi ini;Pinjman baru melonjak sebesar Rp 324,07 trilyun terdiri dari pinjaman melalui pasar obligasi sebesar Rp 277,04 trilyun dan pinjaman luar negeri sebesar Rp 47,03 trilyun.

Di 2016 strategi "Front Loading" berlanjut. Dari Januari sampai April pemerintah tetap agresif menarik utang sebesar

A. Rp 203,3 trilyun atau 74,4 % dari target pengadaan tahun 2016 sebesar Rp 273,2 trilyun.
B. Penarikan pinjaman luar negeri Rp 8,9 Trilyun dari pinjaman program dan pinjaman proyek.

Sampai akhir Juni 2016 pinjaman baru USD 323,8 milyar naik 6,2 % dari periode yang sama tahun 2015.

4. Utang Luar Negeri Pemerintah Naik dan Utang Luar Negeri Swasta Turun

Perlu dicatat sampai akhir Juni 2016 utang pemerintah (publik) naik 17,8 % dan utang Swasta turun 3,1 %. Penurunan pinjaman swasta adalah indikator negatif karena pinjaman swasta biasanya digunakan untuk modal kerja, pengadaan bahan baku-penolong investasi, peralatan yang digunakan untuk produksi. Jadi turunnya pinjaman swasta indikasi industri masih stagnan atau berkembang lemah sampai akhir 2017.

5. Timbulnya Masalah dalam Strategi "Front Loading"

Strategi "Front Loading" ini sesungguhnya rasional dan baik jika proyek-proyek pembanguan lancar sesuai target dan cepat meningkatkan penerimaan negara.Yang kurang diperhitungkan adalah keterlambatan penggunaan dana karena lambatnya lelang proyek dan proses birokrasi, pembebasan tanah pengadaan barang, ketelambatan pencairan dana dari lembaga keuangan sedangkan beban biaya sudah timbul untuk pembayaran pokok dan bunga pinjaman. Di saat yang sama, hasil ekspor merosot.

6. Proyeksi Pertumbuhan Akhir 2016 dan Akhir 2017

Melihat gejala di atas berdasarkan data dan proyeksi Bank Dunia kita bandingakan pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik di mana ada enam mitra dagang terbesar Indonesia yaitu Jepang, AS, China, Singapura, Korea Selatan, Taiwan. Indonesia akan berada dalam posisi lemah karena pertumbuhan ekonomiya lebih rendah dari negara-negara lain di kawasan.

a. Pertumbuhan rata-rata kelompok negara-negara Asia Timur dan Pasifik: 2016 = 6,4 % dan 2017 = 6,3 %
b.Pertumbuhan Indonesia 2016 = 5,2,% sampai 5,4 % dan 2017= 5,3 %




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Moon Jae-in Menjadi Presiden ke-19 Korea Selatan

Warga Korsel Pilih Presiden Baru

GFI Ingatkan 5 Poin Pesan Panglima TNI

Wapres Buka Peringatan Hari Pers Sedunia 2017

Top! Pelajar Indonesia Gelar Festival Budaya di Manchester

Kehadiran Kapal Induk Cina Terbaru Menuai Spekulasi

Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik

Kongres Ulama Perempuan di Cirebon Dihadiri oleh 15 Negara

Sekjen PBB Serukan Penyelesaian Politik bagi Krisis Yaman

China Luncurkan Kapal Induk Buatan Dalam Negeri

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »