English     Indonesia  
Menu Rubrik
Internasional
Politik
Asean
Analisis
Hukum
Ekonomi dan Bisnis
Industri Strategis
Hankam
Sosial Budaya
Lingkungan Hidup
Kesehatan
Wawancara Khusus
Gaya Hidup
Diplomasi
Komentar Pembaca
Ucapan Puasa
Departemen Luar Negeri RI
PBNU
ISAFIS
Selamatkan Indonesia
Kajian Timur Tengah
Magister HI Unpad
Informasi Wisata Bali
Anggia Putri Nilasari
World Future Online
Budaya Sunda
   Artikel Pilihan
Mengutuk Keras Negara-Negara Agresor Perang Dunia Kedua yang Bermaksud Menulis Ulang Keterlibatannya Dalam Kejahatan Perang
Konferensi  Internasional tentang Perang Dunia Kedua berlangsung di Kuala Lumpur, Kamis, 13 Mei 2010. Pertemuan yang diprakarsai oleh World Future Online tersebut, menghadirkan ...

Lihat lainya »
   Jajak Pendapat
Membentuk kekuatan baru selain PBB guna menekan Israel membuka blokade atas Gaza?
Sangat Perlu
Perlu
Tidak Perlu
Tidak Tahu
   
Dirgahayu RI
Isu Hangat
15-05-2010
Konferensi Internasional Tentang Perang Dunia Kedua
Mengutuk Keras Negara-Negara Agresor Perang Dunia Kedua yang Bermaksud Menulis Ulang Keterlibatannya Dalam Kejahatan Perang
Penulis : Tim Global Review

Konferensi  Internasional tentang Perang Dunia Kedua berlangsung di Kuala Lumpur, Kamis, 13 Mei 2010. Pertemuan yang diprakarsai oleh World Future Online tersebut, menghadirkan beberapa ahli dari berbagai negara. Hadir dalam pertemuan tersebut, Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute (Indonesia); Albert Jansen dari Negeri Belanda; Hasan Yahya dari Amerika Serikat dan  Profesor George Katsiaficas dari Amerika serikat; Zakaria Abdullah dari Filipina; Mantan Kepala Staf Angkatan Udara Indonesia Marsekal Nyoto Subandrio; Khairul Faiz Morat dari Angkatan Belia Islam Malaysia; Osman Ghazali Cakmak dari Turki; Aggia Putri Nilasari (Indonesia), dan Dandan Ben Hur (Malaysia).


Acara konferensi yang dipandu oleh wartawan dan penulis singapura Jaya Prakash tersebut telah mengeluarkan deklarasi 12 poin, yang antara lain mengutuk semua upaya yang dilakukan oleh negara-negara agresor dalam perang dunia, untuk menulis ulang dan menghapus sejarah kekejaman dan kejahatan perang yang mereka lakukan sebelum dan selama Perang Dunia Kedua.

Hasil tersebut nampaknya sejalan dengan seruan dan desakan Direktur Eksekutif Global Future Intitute agar para peserta Konferensi mengutuk keras langkah yang dilakukan pemerintah Jepang untuk merevisi Sejarah militer Jepang  sehingga invasi militer Jepang sebelum dan selama berlangsungnya Perang Dunia Kedua.

George Katsiaficas dan Albert Jansen, secara eksplisit mengingatkan kekejaman dan  kejahatan perang pemerintahan Fasisme Jerman terhadap Yahudi yang berlangsung di kawasan Eropa Barat. Lebih lanjut Profesor Katsiaficas juga mengingatkan bahwa bila  ingin jujur sebenarnya Perang Dunia Kedua belumlah berakhir. “Amerika telah membunuh dan membantai jutaan warga sipil di Irak dan Afghanistan,” tegas Katsiaficas yang merupakan pakar dalam bidang Humanitas, Ilmu Sosial dan Manajemen Wenworth Institute of Technology.

Bukan itu saja. Katsiaficas juga menggarisbawahi bahwa Jerman dalam serangan militernya ke Uni Soviet, telah membunuh sekitar 27 juta warga sipil di negara beruang merah tersebut.

Dalam mengungkap kejahatan dan invasi militer Jepang di Malaysia, Khairul Morat  juga menyinggung satu hal yang cukup menarik. Menurut Morat, sepak-terjang pasukan militer fasis Jepang  di Malaysia benar-benar telah menghancurkan infrastruktur sosial dan kehidupan ekonomi  Malaysia. Bahkan yang lebih parah lagi, menurut Morat, selama masa pendudukan Jepang di Malaysia, pada perkembangannya telah memicu rasa permusuhan dan saling curiga berbagai kelompok masyarakat di Malaysia seperti Melayu, Cina dan India.

India, menurut Morat, awalnya sempat dijanjikan akan dibebaskan dari penjajahan Inggris sebagai upaya agar mau bekerjasama dengan pemerintahan fasisme Jepang. Namun pada perkembangannya, ketika Jepang tidak memiliki itikad baik sesuai janjinya, India pun akhirnya bergabung dalam pasukan perlawanan terhadap Jepang. Sehingga, menurut Mort, tercatat 100 ribu warga keturunan India di Malaysia tewas di tangan Jepang.

Sementara itu, Hendrajit yang ikut hadir sebagai pembicara, menggarisbawahi pentingnya untuk tetap memonitor setiap manuver kelompok sayap kanan Jepang yang berpotensi untuk menghidupkan kembali kekuatan militernya di masa depan.

Untuk itu, Hendrajit mengingatkan kembali prakarsa beberapa kalangan sayap kanan Jepang  untuk merevisi kembali buku-buku sejarah untuk merubah peran invasi Jepang sebagai agresor terhadap bangsa-bangsa Asia menjadi pasukan pembebasan rakyat-rakyat di kawasan Asia Pasifik.  Untuk itu, Hendrajit mendesak peserta Konferensi untuk mengutuk tindakan beberapa kalangan sayap kanan Jepang tersebut.

Hendrajit merasa perlu mengingatkan peserta konferensi bahwa pada 2008 lalu, Toshio Motoya, pengusaha dan Direktur Utama APA GROUP yang dikenal sebagai tokoh Jepang berhaluan sayap kanan, mensponsori  lomba penulisan esai bertema: Perspektif Sejarah Modern Jepang.

Lomba penulisan esai tersebut diselenggarakan oleh Angkatan Udara Bela Diri Jepang. Yang mencurigakan dari kontes penulisan ini adalah, dari 235 peserta lomba, 94 di antaranya ternyata merupakan anggota Angkatan Udara Bela Diri Jepang (ASDF). Kecurigaan bahwa kontes penulisan sejarah Jepang itu merupakan rekayasa ASDF semakin kuat ketika pemenangnya adalah Kepala Staf Angkatan Udara Bela Diri Jepang Toshio Tamogami.

Tamogami dalam essainya, membantah bahwa invasi militer Jepang sebelum dan sesudah Perang Dunia Kedua merupakan tindakan agresi militer. Dengan kata lain, Tamogami menolak peran Tentara Jepang sebagai agresor terhadap bangsa-bangsa Asia. Sebaliknya Tamogami mengklaim bahwa apa yang dilakukan Jepang tersebut merupakan peran pembebasan.  Tamogami, meski akhirny dipecat sebagai KSAU Jepang, namun manuver tersebut mengisyaratkan bahwa aspirasi sayap kanan Jepang baik sipil maupun militer bukan saja masih ada, tapi juga masih hidup aspirasinya untuk menghidupkan kembali kekuatan militernya seperti di masa lalu.

Dan rekomendasi Hendrajit dan beberapa pembicara lainnya, akhirnya disetujui oleh Panitia Konferensi, meski tidak secara eksplisit menyebut Jepang ataupun Jerman. Namun dalam deklarasi, secara tegas mengutuk langkah negara-negara agresor yang bermaksud menulis ulang sejarah dan menghapus berbagai kejahatan perang yang mereka lakukan di masa Perang Dunia Kedua. (Kuala Lumpur-TIM GFI)   



Artikel Terkait
»
»
»
»
»
»
» GFI Diminta Lakukan Riset Akademik



Cari :
Nash of Journalism School
   Isu Hangat »
Bangkitnya Kembali Militerisme Jepang di Asia Pasifik Sudah Diambang Pintu
Ada satu perkembangan yang cukup mencemaskan di Jepang dalam beberapa bulan terakhir ini. Issui-kai, atau Masyarakat Rabu" ("Wednesday Society"), dibentuk pada 1970-an oleh para penggemar novelis ...

Mewaspadai Meningkatnya Kekuatan Militer Cina (Bagian 2)

Deklarasi Konferensi PD II DI Kuala Lumpur

The Malaysian Experience & Hope For The Future

Japan as an Independent Player in an out of control Asia

Pernyataan GFI pada Konferensi Internasional tentang Perang Dunia II di KL

Lihat lainya »
   Arsip
Lewat Tulisan, Anggota TNI AU Kritik SBY

Komandan Amerika Minta 2.000 Tentara Lagi Ke Afghanistan

Indonesia Urutan Lima Pengguna Internet

Perompak Rampok Tanker Jepang di Laut China Selatan

Pencitraan SBY vs Pencitraan Malaysia

Aquino Umumkan Idul Fitri 10 September Hari Libur

Delri Hadiri Pertemuan G-20 Speakers’ Consultation

Kapal Irlandia Akan Bergabung Dengan Flotila Kebebasan Gaza Kedua

Publik Malaysia Mulai Tunjukkan Kemarahan

Mengutuk Keras Negara-Negara Agresor Perang Dunia Kedua yang Bermaksud Menulis Ulang Keterlibatannya Dalam Kejahatan Perang

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang : Travis Heerman
Petualangan Seorang Pendekar Jepang

PADA tahun 1960-an dan 1970-an, komik mengalami masa kejayaan di Indonesia. Sejumlah komikus menghasilkan pelbagai cerita yang menarik minat masyarakat. Para pendekar dari dunia imajinasi pun menjadi panutan orang-orang di dunia nyata. Sosok mereka—sebut saja misalnya Si Buta dari Goa Hantu, Panji Tengkorak, Pendekar Bambu Kuning, Si Pitung, dan Jaka Sembung—menjadi legenda.

Lihat Lainnya »

© 2008 - 2010 theglobal-review.com All rights reserved