Acara konferensi yang dipandu oleh wartawan dan penulis singapura Jaya Prakash tersebut telah mengeluarkan deklarasi 12 poin, yang antara lain mengutuk semua upaya yang dilakukan oleh negara-negara agresor dalam perang dunia, untuk menulis ulang dan menghapus sejarah kekejaman dan kejahatan perang yang mereka lakukan sebelum dan selama Perang Dunia Kedua.
Hasil tersebut nampaknya sejalan dengan seruan dan desakan Direktur Eksekutif Global Future Intitute agar para peserta Konferensi mengutuk keras langkah yang dilakukan pemerintah Jepang untuk merevisi Sejarah militer Jepang sehingga invasi militer Jepang sebelum dan selama berlangsungnya Perang Dunia Kedua.
George Katsiaficas dan Albert Jansen, secara eksplisit mengingatkan kekejaman dan kejahatan perang pemerintahan Fasisme Jerman terhadap Yahudi yang berlangsung di kawasan Eropa Barat. Lebih lanjut Profesor Katsiaficas juga mengingatkan bahwa bila ingin jujur sebenarnya Perang Dunia Kedua belumlah berakhir. “Amerika telah membunuh dan membantai jutaan warga sipil di Irak dan Afghanistan,” tegas Katsiaficas yang merupakan pakar dalam bidang Humanitas, Ilmu Sosial dan Manajemen Wenworth Institute of Technology.
Bukan itu saja. Katsiaficas juga menggarisbawahi bahwa Jerman dalam serangan militernya ke Uni Soviet, telah membunuh sekitar 27 juta warga sipil di negara beruang merah tersebut.
Dalam mengungkap kejahatan dan invasi militer Jepang di Malaysia, Khairul Morat juga menyinggung satu hal yang cukup menarik. Menurut Morat, sepak-terjang pasukan militer fasis Jepang di Malaysia benar-benar telah menghancurkan infrastruktur sosial dan kehidupan ekonomi Malaysia. Bahkan yang lebih parah lagi, menurut Morat, selama masa pendudukan Jepang di Malaysia, pada perkembangannya telah memicu rasa permusuhan dan saling curiga berbagai kelompok masyarakat di Malaysia seperti Melayu, Cina dan India.
India, menurut Morat, awalnya sempat dijanjikan akan dibebaskan dari penjajahan Inggris sebagai upaya agar mau bekerjasama dengan pemerintahan fasisme Jepang. Namun pada perkembangannya, ketika Jepang tidak memiliki itikad baik sesuai janjinya, India pun akhirnya bergabung dalam pasukan perlawanan terhadap Jepang. Sehingga, menurut Mort, tercatat 100 ribu warga keturunan India di Malaysia tewas di tangan Jepang.
Sementara itu, Hendrajit yang ikut hadir sebagai pembicara, menggarisbawahi pentingnya untuk tetap memonitor setiap manuver kelompok sayap kanan Jepang yang berpotensi untuk menghidupkan kembali kekuatan militernya di masa depan.
Untuk itu, Hendrajit mengingatkan kembali prakarsa beberapa kalangan sayap kanan Jepang untuk merevisi kembali buku-buku sejarah untuk merubah peran invasi Jepang sebagai agresor terhadap bangsa-bangsa Asia menjadi pasukan pembebasan rakyat-rakyat di kawasan Asia Pasifik. Untuk itu, Hendrajit mendesak peserta Konferensi untuk mengutuk tindakan beberapa kalangan sayap kanan Jepang tersebut.
Hendrajit merasa perlu mengingatkan peserta konferensi bahwa pada 2008 lalu, Toshio Motoya, pengusaha dan Direktur Utama APA GROUP yang dikenal sebagai tokoh Jepang berhaluan sayap kanan, mensponsori lomba penulisan esai bertema: Perspektif Sejarah Modern Jepang.
Lomba penulisan esai tersebut diselenggarakan oleh Angkatan Udara Bela Diri Jepang. Yang mencurigakan dari kontes penulisan ini adalah, dari 235 peserta lomba, 94 di antaranya ternyata merupakan anggota Angkatan Udara Bela Diri Jepang (ASDF). Kecurigaan bahwa kontes penulisan sejarah Jepang itu merupakan rekayasa ASDF semakin kuat ketika pemenangnya adalah Kepala Staf Angkatan Udara Bela Diri Jepang Toshio Tamogami.
Tamogami dalam essainya, membantah bahwa invasi militer Jepang sebelum dan sesudah Perang Dunia Kedua merupakan tindakan agresi militer. Dengan kata lain, Tamogami menolak peran Tentara Jepang sebagai agresor terhadap bangsa-bangsa Asia. Sebaliknya Tamogami mengklaim bahwa apa yang dilakukan Jepang tersebut merupakan peran pembebasan. Tamogami, meski akhirny dipecat sebagai KSAU Jepang, namun manuver tersebut mengisyaratkan bahwa aspirasi sayap kanan Jepang baik sipil maupun militer bukan saja masih ada, tapi juga masih hidup aspirasinya untuk menghidupkan kembali kekuatan militernya seperti di masa lalu.
Dan rekomendasi Hendrajit dan beberapa pembicara lainnya, akhirnya disetujui oleh Panitia Konferensi, meski tidak secara eksplisit menyebut Jepang ataupun Jerman. Namun dalam deklarasi, secara tegas mengutuk langkah negara-negara agresor yang bermaksud menulis ulang sejarah dan menghapus berbagai kejahatan perang yang mereka lakukan di masa Perang Dunia Kedua. (Kuala Lumpur-TIM GFI)
|