» Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea » Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points » Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia » Berebut Kedaulatan Spratly, Memicu Ketegangan Baru di Asia Tenggara Pada Era Donald Trump » Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi


Komentar Pembaca
12-06-2016
Burhan Rosyidi
"Pancasila Lah Jiwanya Bangsaku!"
Penulis : Burhan Rosyidi

Semua ini berawal dari PENGALAMAN yang relatif sama segenap WARGA NUSANTARA, yang menyebar luas dari SABANG hingga MERAUKE, yakni PENGALAMAN hidup dan berkehidupan tanpa KEMANUSIAAN karena tekanan dahsyat dari kekuatan KEPENTINGAN yang nafsunya DOMINASI-EKSPLOITATIF, apa pun ISMEnya.


Dari PENGALAMAN yang relatif sama termaksud itu lah kemudian terbit sebuah CITA-CITA yang relatif sama, yakni CITA-CITA ingin memastikan senantiasa tetap terjaganya keselamatan KEMANUSIAAN di setiap perikehidupannya.

CITA-CITAnya yang relatif sama termaksud itu lah kemudian memicu munculnya HASRAT BERSATU untuk bersama-sama berjuang mewujudkannya.

Dan karena semangat BHINNEKA TUNGGAL IKA, pada dasarnya, adalah merupakan FAKTOR PEMBAWA SIFAT segenap WARGA NUSANTARA, yang menyebar luas dari SABANG hingga MERAUKE, sehingga begitu muncul HASRAT BERSATU maka antara satu dengan lainnya pun bergerak SALING MENSELARASKAN hingga mewujud lah sebuah SUASANA BATIN bersama yang relatif sama sehingga antara satu dengan lainnya bergaul dengan rasa NYAMAN dan AMAN sebagai sebuah BANGSA.

SUASANA BATIN termaksud itu lah yang mendasari terbitnya semangat MENJADI BANGSA INDONESIA yang dicanangkan oleh para PEMUDA pada tanggal 28 Oktober 1928, yakni SUMPAH PEMUDA, yang pada gilirannya kemudian, semangat itu pun diumumkan kepada DUNIA pada tanggal 17 Agustus 1945 sebagai BANGSA MERDEKA.

Jadi, SUASANA BATIN termaksud itu lah KATA KUNCInya, yang oleh BUNG KARNO, dengan didasari rasa CINTA KASIH yang dalam kepada segenap WARGA, dengan cerdas digalinya secara Rasional-Obyektif dan dirumuskannya menjadi LIMA AZAS, yang kemudian diberi sebutan sebagai PANCASILA.

1 JUNI 2016

 




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia
Pada 2014 lalu, Global Future Institute sempat menyorot secara khusus etnis Tatar yang bermukim di Crimea. Waktu itu, beberapa tokoh etnis Tatar dari seluruh dunia berkumpul ...

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Menjaga dan Merawat Kerukunan Beragama di Papua

Membendung Radikalisme dan Mempertahankan Keutuhan NKRI

Lewat Sepucuk Surat Trump Cairkan Hubungan dengan China

Khayalan Tingkat Dewa, Komunis Bangkit Lagi

Pilkada: Untuk Rakyat atau Politisi

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Indonesia dan Korsel Bahas Kerjasama Bilateral

Uni Eropa akan Tetap Terapkan Sanksi kepada Rusia

Uni Eropa Diminta Tidak Ikuti Permainan Trump

Cinta dan Kebenaran

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »