» Arah Krisis Ukraina dan Pelajaran Berharga Bagi Indonesia » Liem Soe Liong, Mochtar Riyadi dan The Chinese Culture Heritage Center (TCCHC) » Q&A: Benarkah Yahudi itu Beda Dengan Zionis? » Membaca Ulang Perang Asimetris di Indonesia Melalui Isu: Indosat, WTO dan Laut China Selatan » Membaca Tanda-tanda Zaman dalam Pilpres 2014


Hankam
09-05-2010
Kesaksian Kolonel Sudjai, Pilot Angkatan Darat Di Era G-30S (1965-1970)
Misi Penerbangan Spritual Orde Baru - Bagian 5

Misi Topeng Gajah Mada. Pada suatu hari di tengah hiruk-pikuknya pengganyangan G-30 S/PKI kami mendapat perintah untuk menerbangkan rombongan Pak Sudjono Humardani ke Denpasar Bali (Ngurahrai).  Salah satu pembantu utama pak Sudjono, namanya saya lupa,  mengatakan, terbang ke Bali untuk tugas mulia,  yaitu menyelamatkan  salah satu benda keramat yang kini berada di Pura Besakih,  dan harus dibawa ke Jakarta. 


Misi Topeng Gajah Mada

Pada suatu hari di tengah hiruk-pikuknya pengganyangan G-30 S/PKI kami mendapat perintah untuk menerbangkan rombongan Pak Sudjono Humardani ke Denpasar Bali (Ngurahrai).  Salah satu pembantu utama pak Sudjono, namanya saya lupa,  mengatakan, terbang ke Bali untuk tugas mulia,  yaitu menyelamatkan  salah satu benda keramat yang kini berada di Pura Besakih,  dan harus dibawa ke Jakarta.   Tugas anda-anda sebatas membawa pulang benda tersebut ke Jakarta dengan aman.   Anda-anda  tidak akan dilibatkan dalam operasi ini.   Selama operasi penyelamatan berjalan,  crew menunggu di salah satu hotel di Denpassar,  sampai ada penjemputan untuk terbang kembali ke Jakarta, sekitar jam 15.00 sore WIB.  Situasi di Bali sendiri masih gawat,  termasuk Kota Denpasar dan lapangan terbang masih belum sepenuhnya di bawah control TNI.  Kontak senjata masih sering terjadi.  Staf intelijen Kostrad meminta kami untuk hati-hati mendarat di Ngurah Rai.  Bila ada yang mencurigakan, pendaratan digagalkan dan kembali ke Jakarta.   Misi ini sifatnya rahasia, sehingga kedatangan pesawat ini di Ngurah Rai diusahakan tidak diketahui orang banyak, terutama pers dan aparat pemerintah.   Di hanggar Penerbad Kemayoran kamipun sudah menentukan di mana kami harus parkir pesawat di Ngurah Rai, bahkan diplot  di denah lapangan terbang Ngurah Rai.

Setelah briefing,  kami take-off jam 06.00 pagi dari Kemayoran menuju  Ahmad Yani, Semarang, dengan penumpang Pak Sudjono Humardani, pak Supar dan seorang pria yang namanya kami lupa.    Kami singgah di Semarang untuk menjemput Romo Diyat dan mengisi bahan bakar, agar tidak perlu “refueling” di Ngurah Rai.  Sepanjang perjalanan kami coba memonitor pergerakan pesawat lain melalui frekuensi Jakarta Control maupun frekuensi pangkalan-pangkalan AU seperti Yogyakarta dan Madiun.   Hal itu saya lakukan karena menurut info intel Kostrad hari itu akan ada pesawat Hercules AU yang membawa rombongan peserta Konferensi Internasional Anti Pangkalan Asing ke Ngurah Rai Bali.  Konferensi tersebut berhaluan kiri, dan ditunggangi PKI.  Kami diminta untuk menghindari ketemu atau diketahui mereka.  Info itu ternyata benar, karena di atas Surabaya kami menangkap percakapan antara Hercules AU dengan Surabaya Control,  yang melaporkan posisi dan ETA mereka di Ngurah Rai.   Mereka akan tiba setengah jam lebih cepat dari pesawat kami,  dan itu suatu kebetulan yang menguntungkan.  Kami akan bisa berfikir bagaimana menghindar dari mereka.

Atas permintaan kami, kami diizinkan  untuk “straight in approach”  ke landasan 09 (?).   Untuk menghindar dari kemungkinan “kepergok” oleh orang-orang yang ada di Hercules,  kami lakukan “power off landing”  dengan maksud “short landing” dan pendaratan tidak bising.   Dan cara itu berhasil, kami berhenti tidak melewati setengah landasan,  dan jauh dari tempat parkir Hercules yang berada di apron sebelah timur.  Selain itu kami bisa segera mencari tempat parkir di sebelah barat apron yang agak tersembunyi, merapat ke gedung salah satu perusahaan penerbangan swasta. 

Selesai merapihkan pesawat atau “post flight check” atas instruksi penjemput,  kami diminta untuk segera meninggalkan pesawat menuju Hotel.   Kata mereka hari itu keadaan di Denpasar gawat,  karena kontak senjata sedang terjadi di alun-alun Denpassar antara Pemuda Rakyat/PKI dengan TNI.  Memang tanda-tanda kegawatan terlihat dengan sepinya lalu lintas di jalanan.  Sesampainya di Hotel kami diminta untuk tidak keluar dari kompleks hotel, segala keperluan akan dipenuhi fihak hotel.  Beberapa orang pengawal Tentara ditugaskan untuk menjaga keamanan crew.   Selama menunggu di hotel,  kami kehilangan kontak dengan Pak Sudjono,  sehingga kami benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan rombongan beliau.  Apakah benda keramat itu bisa diselamatkan atau tidak.  Tentu saja kami berdoa untuk keberhasilan mereka.

Sekitar pukul tiga sore,  kami diberitahu seorang perwira suruhan Pak Sudjono bahwa operasi telah berhasil memboyong benda keramat dimaksud, untuk itu crew harus segera menyiapkan pesawat untuk terbang kembali ke Jakarta.  Dari hotel kami langsung ke lapangan terbang dengan memper-gunakan kendaraan Gaz dengan kawalan prajurit-prajurit bersenjata lengkap.   Sepanjang perjalanan, lalu lintas tetap lengang seperti keadaan pagi hari tadi,  sehingga tetap mencekam.   Sesampainya di Bandara seperti biasanya sebelum terbang  kami mengisi flightplan di Base-ops dan minta ramalan cuaca dari Meteo.    Dengan personil Base-ops kami ngobrol sambil mancing-mancing apakah mereka mengetahui misi kami hari ini.  Saya gembira karena mereka samasekali tidak mengetahuinya.   Mereka menyangka, kami sedang melakukan terbang rutin saja.   Mereka mengira bahwa misi kami adalah dalam rangka rencana  peningkatan operasi militer terhadap sisa-sisa G 30 S/PKI di Bali.  Tentang pesawat Hercules AU,  mereka menginformasikan bahwa pesawat tersebut telah menurunkan peserta-peserta Konferensi Internasional Anti Pangkalan Asing untuk berlibur di Bali dan sudah meneruskan perjalanan ke Yogyakarta. 

Tidak sampai setengah jam setelah kedatangan kami di lapangan terbang,  rombongan Pak Sudjono mulai memasuki apron langsung menuju  pesawat.   Namun ada sesuatu yang menarik perhatian dari rombongan tersebut.   Yaitu di depan rombongan,  berjalan beberapa “pendeta” membacakan mantra-mantra dan memercikkan air bunga.  Mengikuti ritme para pendeta ,  terdapat barisan pengusung sajen mengiringi pengusung benda terbungkus kain Bali, yang saya terka sebagai benda keramat yang disakralkan. Ritual yang dipertunjukkan tidak beda dengan ritual keagamaan yang biasa dipertunjukkan pada setiap perayaan di Bali.  Memang kedatangan rombongan ini telah menarik perhatian orang-orang yang waktu itu berada di apron, walaupun mereka mungkin bertanya-tanya upacara apa. Yang saya tidak habis pikir, mengapa dalam misi yang dikatakan penuh kerahasiaan ini,  kok pakai upacara segala.  Mustinya diam-diam, kenyataannya sekarang malah ditonton orang banyak.  

Setelah benda keramat dimasukkan ke pesawat, ada pembacaan mantra, percikan air bunga dan pidato kecil atau lebih tepat disebut wejangan dari Pak Sudjono Humardani.  Inti wejangannya  agar kita mensucikan diri dengan menghilangkan pikiran-pikiran kotor, agar misi ini mendapat berkah dari Tuhan Yang Maha Esa.   Benda yang kita bawa ini adalah benda suci yang khasiatnya sangat besar bagi Orde Baru.  Benda suci ini akan menjadikan Orde Baru kuat dan kokoh. Dan bila kelak Orde Baru benar-benar menjadi kuat,  saudara-saudara adalah orang-orang yang ikut  berjasa.  Kemudian beliau mengucapkan terima kasih, namun tidak menjelaskan benda sakral itu benda apa, dan dibawa ke mana sesampainya di Jakarta.  Apakah ke rumah Pak Sudjono atau ke tempat lain.   Kami tahu benda itu Topeng Gajah Mada setelah membaca pemberitaan Koran Jakarta pada hari-hari berikutnya, yang meributkan hilangnya Topeng Gajah Mada dari Pura Besakih.  Ada Koran yang mengabarkan bahwa Topeng itu dicuri pedagang besar Jakarta untuk dijual kepada pengoleksi benda-benda kuno dengan harga mahal.    Koran lainnya menulis bahwa pencurinya diperkirakan orang-orang suruhan elit politik dalam upaya memenangkan “perang mistik”, dalam rangka memenangkan perang kekuasaan.    Dan banyak komentar lainnya namun tidak ada satupun yang mengarah kepada Pak Sudjono Humardani.    Dari situlah kami baru mengetahui bahwa benda yang kami bawa dari Bali itu adalah Topeng Gajah Mada.   Informasi yang sebenarnya,  kami simpan rapat-rapat,   sedangkan  gossip yang mirip dengan kebenaran semakin hari semakin merebak ke mana-mana.  Bahkan pada zaman Kopkamtib Pak Mitro,  seorang bernama Ramadi secara berani mengaku bahwa ia orang dekat Pak Sudjono Humardani dan menjadi pelaku pengambilan Topeng Gajahmada dari Pura Besakih.  Ramadi melalui Dokumen Ramadi dituduh telah memperuncing rivalitas antar elit Orde Baru,  antara Panggabean-Sumitro-Ali Murtopo untuk suksesi kepemimpinan Pak Harto.

Misi Jawa Timur


Memburu Topeng Gajah Mada sampai di Bali,  sebenarnya memburu kedigjayaan kekuasaan Gajahmada di masa lalu.   Kalau di Bali memburu topengnya, di Jawa Timur memburu petilasannya.  Petilasan Gajahmada yang ada di Trowulan Mojokerto.  Di samping Trowulan masih banyak tempat-tempat  keramat lainnya yang banyak dikunjungi penziarah.  Sebut saja Alas Ketonggo di lereng Gunung Lawu, Penataran di Blitar, dan tempat-tempat tertentu di lereng Gunung Semeru, seperti dijelaskan dalam bab terdahulu.    Penziarah pada umumnya  “orang-orang Gede”;  para pengusaha, pejabat-pejabat Negara, seperti Menteri-Menteri,  Jenderal-Jenderal, dan para politisi.  Juga “orang orang pintar” seperti Pak Sudjono, Romo Diyat dan lain-lain.   Memang Trowulon bekas keraton Majapahit paling banyak diziarahi.  Yang dicari para penziarah pertama adalah wangsit atau  bisikan gaib menjawab keinginan yang disampaikannya,  Harapan lainnya   adanya “titisan” kedigjayaan dan kesaktian dari para Penguasa masa lalu, terutama dari Patih Gajah Mada.  Lain dengan penziarah lainnya,  perjalanan spiritual Pak Sudjono Humardani bukan bagi dirinya sendiri tetapi bagi pemimpin yang ia kagumi, yaitu Pak Harto.

Pak Mitro dalam bukunya “Jenderal Sumitro” tulisan K.H. Ramadhan hal 138,    mengakui bahwa Pak Sudjono merupakan penasihat spiritual Pak Harto yang sangat dibutuhkan.  Pak Mitro mengenal sosok Pak Sudjono sangat dekat, bahkan beberapa kali pernah pergi bersama ke Trowulan untuk keperluan menyepi dan bertapa.   Jenderal Kartakusumah juga disebut oleh Pak Mitro  sering berziarah ke sana.  Pak Mitro juga pernah menerima wangsit di sana, hanya tidak menjelaskan wangsit apa.

Memang ada kepercayaan pada sementara orang di Jawa Timur,  bahwa sewaktu Raja Brawijaya itu akan meninggal, keluar sinar dari badannya.  Dan siapa yang bisa “mencucup” sinar itu sekarang, akan mendapat kekuatan,  dan  menjadi sakti.  Tapi tidak semua orang bisa melihat sinar itu. (Buku Sumitro, oleh Ramadhan KH hal 138). 
  
Saya kira Pak Sudjono maklum akan kepercayaan itu, dan pasti  mengharapkan akan bisa melihat sinar dalam kunjungannya ke petilasan Brawijaya nanti dan “mencucupnya”.   Bila harapannya terkabul, seperti ditulis di atas, titisan kekuatan dan kekuasaan akan diturunkan kepada beliau, tapi bukan untuk dirinya, tetapi untuk Pak Harto.  Menurut Pak Mitro,  suatu pengabdian yang luar biasa.

Setelah mendengan cerita seperti di atas,  kami menjadi maklum mengapa Pak Sudjono begitu sering mengunjungi Jawa Timur setelah misi “Topeng Gajah Mada”  selesai.  Sekali lagi, karena Jawa Timur merupakan Pusat Kekuasaan Raja-Raja Jawa di masa lalu , seperti Gajah Mada, Hayam Wuruk dan lain-lain.  Teka-teki umum selama ini,   yang mempertanyakan kegiatan Pak Sudjono di Jawa Timur,  terjawab sudah.

Kata orang,  untuk mengemban misi spiritual seperti yang dilakukan oleh Pak Sudjono di Jawa Timur bukan barang ringan.  Biasanya beliau bertolak dari Jakarta seorang diri, atau kadang-kadang berdua paling banyak bertiga.   Take-off dari Kemayoran  sebelum asar agar sampai di Juanda Surabaya pada ba’da magrib.  Waktu-waktu senja seperti itu, sangat tepat untuk menghindari pertemuan yang tidak perlu dengan orang banyak,  termasuk dengan pers.  Sesampainya di Juanda yang jemputpun cukup satu atau dua orang, entah sopir entah rekannya.    Tanpa banyak cerita, langsung pergi dengan mobil penjemput, ke tujuan yang tidak pernah diketahui siapapun.  Hanya pesan pendek yang disampaikan kepada kami (crew pesawat) biasanya mengenai jam take-off  ke Jakarta besok paginya. Take off ke Jakarta paling sering dilakukan pukul 07.00 pagi.   Kami sendiri biasanya dijemput Kodam dari hotel, dan dengan merekalah kami biasanya ngobrol tentang teka-teki Pak Sudjono.   Menurut orang Kodam, mendengar cerita burung,  tugas Pak Sudjono itu sangat berat.    Beliau akan didrop di suatu tempat,  di mana beberapa “orang pintar” telah menunggunya untuk bersama-sama ke tempat “petilasan” yang sudah dipilih terlebih dulu.  Dari situ beliau bersama pengikut-pengikutnya harus mengarungi hutan belantara dan bukit-bukit terjal untuk sampai ke tempat tujuan yang dianggap keramat.  Setelah sampai beliau harus bertapa, bersemedi dan puasa paling tidak semalam suntuk bahkan bisa berhari-hari.  Kalau ritual bisa selesai satu malam, beliau subuh-subuh sudah kembali menuju Juanda untuk take off ke Jakarta,    Bila tidak selesai, kami diberitahu, dan pesawat boleh pulang kosong ke Jakarta.   Namun demikian,  paling sering Pak Sudjono menyelesaikan ritualnya dalam satu malam, dan kembali ke Juanda dalam keadaan ngantuk, keletihan dan kelaparan.  Untuk itu, sudah menjadi kebiasaan “crew” dalam perjalanan pagi-pagi ke Juanda, mampir di warung gudeg dan membeli nasi bungkus untuk pak Sudjono.  Beliau akan menyantapnya di atas pesawat.   Selesai menyantap sarapan pagi, beliau biasanya langsung tidur sepanjang penerbangan ke Jakarta.


Misi Kembang Wijayakusuma
  
Pada suatu hari, saya ditelepon SUAD II untuk mempersiapkan GC membawa Pak Sudjono Humardani ke Semarang.  Dari Semarang Pak Sudjono dengan rombongan 3 atau 4 orang akan melaksanakan penerbangan dengan Helikopter ke pulau Nusakambangan, Cilacap, pulang-pergi, pada hari itu juga (besok).   Untuk keperluan tersebut Penerbad Ahmad Yani diminta untuk  menyiapkan satu MI-4 lengkap dengan crew-nya.  Tujuan misi dan sebagainya akan diberitahukan oleh Pak Sudjono.

Sesuai Protap,  informasi ini diteruskan ke Semarang.  Otomatis satuan  Helikopter di A. Yani mempersiapkan satu helicopter MI 4 dengan crewnya, serta mengirim bahan bakar “Avtur” ke Cilacap untuk “refueling”.

Keesokan harinya,  perintah menerbangkan Pak Sudjono sudah saya laksanakan dan tiba di Ahmad Yani dengan pesawat GC A-2004  pagi-pagi jam 07.00.  Di Semarang Pak Sudjono sudah ditunggu  Romo Diyat, Mayor Supar, dan 2 orang pengawal yang akan bergabung dalam misi Pak Sudjono (Misi Kembang Wijayakusuma) ke Cilacap.  Pesawat  Helikopter MI-4 yang akan membawa rombongan misi-pun  sudah siap dengan crew terdiri dari Captain Pilot Kapten Karno Kusumo,  Co Pilot Lettu Widiatmo,  Mekanik Lettu Badrul dibantu seorang Bintara Mekanik..  Kedua pilot tersebut di Penerbad  dikenal sebagai murid Pak Sudjono, sedangkan Badrul dikenal sebagai orang yang paling rasional dan tidak percaya mistik.  Saya sendiri tidak mengikuti misi ini,  namun demikian saya banyak mendapat keterangan dari anak buah terutama dari Badrul tentang apa yang dikerjakan oleh misi tersebut.

Tujuan misi ini adalah “mencari” Kembang Wijayakusuma di pulau Nusakambangan dan bila ditemukan rencananya akan dibawa ke Semarang,  disimpan di rumah Romo Diyat.  Bila dirangkaikan dengan misi-misi spiritual sebelumnya, misi inipun bernuansa mencari atau menambah kedigjayaan pemimpin Orde Baru.  Kembang Wijayakusumah dalam cerita orang-orang tua dulu mengandung kekuatan dan kekuasaan.  Hanya saja dalam cerita kuno kembang ini sebelum ditemukan dan dipetik, si pemetik harus bisa mengatasi segala rintangan dan ancaman dalam menyeberangi selat Nusakambangan.  Buaya dan ikan hiu serta binatang buas lainnya akan menghadang perjalanan Anda.   Sedang kini misi pak Sudjono datang dengan helicopter tanpa  rintangan  berarti. 

Di pesawat Pak Supar menjelaskan bahwa misi ini seperti misi-misi Pak Sudjono lainnya,  merupakan misi suci dalam rangka penegakkan Orde Baru.    Selama perjalanan pulang pergi ada aturan yang harus ditaati oleh semua yang ikut dalam penerbangan ini, antara lain tidak boleh merokok, ngobrol yang bukan-bukan dan larangan tertentu lainnya.  Ketentuan tersebut dengan mudah diadopsi oleh peserta,  namun yang menimbulkan “keraguan”  peserta adanya keharusan mengenakan selempang, seperti yang biasa dipakai piket.

Pagi itu, kata Badrul,  helikopter kami yang dikapteni Kapten Karno Kusumo take off dari Ahmad Yani mengarah ke tenggara memotong perbukitan menuju Cilacap.   Di dalam pesawat ada yang beda dari biasanya.  Semua penumpang termasuk crew mengenakan selempang seperti yang biasa dipakai oleh piket asrama.  Ini persyaratan bagi misi ini,  untuk itu  semua harus memakainya, kata Pak Supar.   Saya pikir, kata Badrul, ini  bodoh,  apa hubungannnya selempang dengan ke-sukses-an.  Protesnya disampaikan kepada Captain Karno.  Padahal sang captain adalah murid paling taat dari Pak  Sudjono.   Tentu saja dia marah dan memerintahkan Badrul mengenakan selempang yang dilepasnya.  Kalau terjadi apa-apa, pasti karena ulah kamu, kata Karno kepada Badrul.    Badrulpun mentaati perintah kaptennya, walaupun tetap tidak percaya akan manfaatnya.  Setelah terbang kurang lebih satu jam, helikopter  mendarat di helipad yang telah disiapkan oleh tim pendahulu (advance team) yang dikirim dari Semarang.  Tempatnya di tengah-tengah pulau Nusakambangan  agak jauh dari pemukiman maupun Lembaga Pemasyarakatan,  sehingga tidak ada orang yang menonton kedatangan kami.   Setelah mematikan mesin helikopter, rombongan kecuali crew melakukan pencarian Kembang Wijayakusumah,  sedangkan crew disuruh menunggu di pesawat.   Tidak terlalu lama,  kira-kira  kurang dari satu jam kemudian rombongan telah datang kembali seraya mengusung semacam pot besar berisikan apa yang dikatakan Kembang Wijayakusuma .  Kata Pak Supar kita berhasil menemukan Kembang Wijayakusumah berarti kita diridhoi Allah SW.  Sedang Badrul sendiri bergumam mengatakan pada mekanik lainnya,  kemungkinan Kembang tersebut Kembang palsu atau gadungan.  Kok begitu mudah didapat.  Padahal dulunya menurut buku legenda tentang Kembang Wijayakusumah,  orang sebelum memilikinya, harus berjuang dulu melawan ombak laut Nusakambangan yang ganas, lepas itu harus manaklukakan buaya atau ikan hiu yeng menghadangnya. Bila lolos baru mendarat dan mencari Kembang Wijayakusumah di sekitar perbukitan pulau Nusakambangan.  Itupun kalau beruntung dapat menemukannya.    Kalau kita sekarang ini, enak saja menggunakan helikopter kemudian tanpa rintangan apapun, sudah bisa mendapatkan Kembang Wijayakusumah.  Jangan-jangan Kembang Wijayakusumah-nya dipesan duluan, sebelum kita sampai.  Namun menurut Kapten Karno,  dengan cara apapun Kembang Wijayakusumah  diperoleh, tetap Kembang Wijayakusumah yang dibutuhkan bagi memperkuat kepemimpinan Orde Baru.

Setelah semua siap di pesawat untuk penerbangan kembali ke Semarang, mendadak pesawat tidak bisa dihidupkan.  Kapten Karno seperti mendapatkan pembenaran tentang tidak dipakainya selempang oleh Badrul yang menyebabkan mesin pesawat tidak bisa hidup.  Namun Badrul menyangkal bahwa mogoknya mesin pesawat bukan karena masalah mistik tetapi karena masalah teknologi.  Mesin pesawat Rusia kadang-kadang memerlukan “cooling off” lebih lama, setelah mesinnya dimatikan, sebelum bisa distarter kembali.  Badrul yang terkenal sebagai mekanik ulung, membuktkannya dengan mendinginkan “coil” mesin dengan handuk yang dibasahi berkali-kali, yang akhirnya pesawat bisa dihidupkan kembali lalu mengudara dan selamat sampai di Semarang.

Misi Memagari Orde Baru


Beberapa hari sesudah pengangkatan Pak Harto sebagai Pd. Presiden pada bulan Maret 1967 kami diberitahu Pak Supar adanya tugas baru dari Pak Sudjono Humardani.  Tugas dimaksud adalah  “memagari Nusantara Indonesia”  agar aman dari rongrongan “musuh-musuh Orde Baru”.  Pelaksanaan Misi ini,  tidak  beda dengan misi-misi yang terdahulu, yaitu mengadakan penerbangan spiritual.  Hanya saja, bila dulu fokus ritualnya ditujukan untuk menambah kedigjayaan Pak Harto, sedangkan kali ini mungkin karena Pak Harto sudah sampai di puncak kekuasaan,  fokus dari ritual dalam perjalanan ini lebih kepada upaya “pengamanan” terhadap kedudukan Pak Harto sebagai Presiden.    Ini penting, karena sisa-sisa G-30 S/PKI menjadi semacam bahaya laten,  sehingga perlu tabir pengaman.   Orang-orang  tua dulu untuk menolak bala atau bahaya, sering mengucapkan mantera-mantera di depan pintu rumah atau sekeliling rumah, sambil membakar dupa atau kemenyan.

Jadi, sebenarnya apa yang diupayakan oleh kedua tokoh spiritual (Romo Diyat dan pak Sudjono Humardani),  sama seperti yang diupayakan oleh orang-orang tua jaman dulu,  menolak Bala.   Yang berbeda hanya dalam ruang lingkup, satu menolak bala terhadap rumah dan yang dilakukan Pak Sudjono terhadap Negara.

Walaupun secara spiritual “Pagar-pagar Pengaman”  dibangun di sekeliling Nusantara,  namun dalam pelaksanaannya  hanya dibangun di beberapa kota yang secara simbolik dianggap sebagai perbatasan Indonesia.  Untuk Indonesia bagian Timur “pagar”  dibangun di Makassar, Ambon.  Biak, Jayapura,  Menado, dan Balikpapan, dan untuk Indonesia bagian Barat dibangun di Palembang,  Padang, Medan, Sabang, dan Pakan Baru.   Penerbangan spiritual ke Timur Indonesia  menggunakan pesawat GC A-2004,  sedang penerbangan ke Barat Indonesia menggunakan pesawat GC A-2003.
Semua misi dimulai dari Ahmad Yani, Semarang.

Yang dikisahkan di bawah ini ada;ah kisah kami ke timur Indonesia. Sehari sebelum hari H,  seperti biasanya Ketua rombongan melalui juru bicaranya Pak Supar mengingatkan crew pesawat akan PROTAP  yang  masih berlaku,.   Yaitu dalam melaksanakan tugas spiritual,  semua peserta harus berperilaku baik, menjauhkan diri dari perilaku yang tidak terpuji yang dapat menodai misi ini.  Lima M (main perempuan, main judi,  madat, mencuri, dan mabok) sampai kapanpun dilarang.  Pak Sudjono berharap banyak kepada para crew untuk menjadikan penerbangan ini suatu “success story”.    Bila Misi ini sukses, Orde Baru selamat.   Juga seperti biasanya ada ritual pensucian pesawat berupa pembacaan mantra-mantra seraya memercikan air bunga ke pesawat dan crew).  Semua dilakukan oleh Romo Diyat.

Hari pertama,  pukul 10.00  kami take-off dari Ahmad Yani menuju Makassar.  Perjalanan memakan waktu kurang lebih 3,5 jam,  kami sampai di Mandai sekarang Hasanudin jam 14.30 (13.30 WIB) dan dijemput Pangdam dan Gubernur Sulawesi Selatan.  Ngobrol sebentar di ruang VIP, Pak Sudjono cs langsung menuju penginapan di Mess Kodam dengan diantar Perwira Protokol.  Pak Sudjono sendiri menggunakan mobil bersama Gubernur. Sedangkan Panglima mendatangi saya, dan bertanya banyak hal tentang Pak Sudjono dan Romo Diyat.  Katanya sudah banyak mendengar nama dan jabatannya sebagai ASPRI Presiden. tapi baru sekarang ketemu orangnya. Begitu pula dengan Romo Diyat.  Gossipnya sudah lama terdengar, ternyata benar.  Panglima bertanya misi apa yang dibawa rombongan ini.  Saya cuma bisa jawab, misi spiritual.  Panglima rupanya sudah maklum juga.

Seperti biasanya kami diinapkan terpisah dari “bapak-bapak”.  Itulah sebabnya kami tidak pernah tahu kegiatan ritual apa saja yang dilakukan bapak-bapak dan di tempat mana saja.  Yang kami dengar selama ini di manapun juga bapak-bapak ini pasti menziarahi tempat-tempat keramat peninggalan Penguasa atau Ulama-ulama besar zaman dulu,  Saya kira sekarangpun beliau-beliau ini sedang  menziarahi tempat-tempat keramat di sekitar Makassar, bisa peninggalan para Sultan atau Benteng-benteng pertahanan jaman dulu.  dan mengadakan ritual keagamaan atau ritual spiritual/ kebatinan.  Tentunya ritual kali ini dikaitkan dengan pembuatan pagar-pagar pengaman.  Besok dan hari-hari berikutnya, ritual yang seperti itu akan dilakukan  di Ambon,  Biak, Jayapura, Manado, dan Balikpapan,  di tempat-tempat yang dianggap keramat, yang menurut dugaan saya sudah disurvey terlebih dulu oleh “Tim Advance”.   Dugaan adanya “Tim Advance”, diperkuat oleh kenyataan bahwa beliau-beliau ini,  begitu cepat “menghilang”  untuk melakukan ziarah, tidak lama setelah tiba di penginapan selesai perjalanan/penerbangan.

Di Ambon, kami tidak menginap.  Panglima menerima bapak-bapak di airport., Pertemuannya  dengan Panglima-pun tidak lama,  karena  ada seseorang yang telah menunggu Pak Sudjono di ruang tertutup di airport.  Saya kira pertemuan ini menyangkut “pagar pengaman”.    Setelah menunggu selesainya acara bapak-bapak selama kurang lebih 1 jam 30 menit,  jam 14.00 kami mengudara kembali menuju Biak yang rencananya akan kami tempuh selama 2 jam 30 menit.

Di atas Manokwari tower Biak sudah memanggil kami.  Mereka bertanya tentang segala hal yang menyangkut penerbangan; seperti posisi, ketinggian, jalur udara, kecepatan pesawat,  cuaca local, ETD Ambon dan ETA Biak.  Setelah itu tower bertanya tentang penumpang dan jumlah penumpang, serta VIP yang diangkut.  Sampai disini pertanyaannya saya anggap normatif saja. Namun pertanyaan berikutnya sangat mengejutkan. Pertanyaannya ; adakah Presiden Suharto di dalam pesawat.  Saya jawab tidak ada.  Apakah Ibu Tien ada di pesawat. Saya jawab juga negatip (tidak ada).  Pernyataan kemudian,  adakah VIP di pesawat dan siapa.  Saya jawab, ada  yaitu ASPRI Presiden Mayjen TNI Sudjono Humardani.   Kemudian beberapa percakapan lagi,  namun untuk saya Tower telah menunjukkan keraguan atas informasi yang saya berikan.   Saya pikir ini musti ada informasi yang tidak benar di Biak, masa menanyakan Presiden segala. 

Tidak lama kemudian saya sudah “on final” di runway arah utara Bandar udara Biak.  Sewaktu saya belok ke taxiway setelah mendarat, saya lihat begitu banyak penjemput yang tidak biasanya bagi pak Sudjono.  Dan ternyata seluruh Muspida yang ada di Jayapura telah datang menggunakan pesawat, untuk menyambut Presiden dan Ibu, yang kata Panglima sesuai informasi dari Jakarta (?).   Itulah situasi komunikasi pada waktu itu, tahun 60-an.  Untuk pembaca pada masa kini tahun 2000-an, mungkin sulit  mempercayainya, namun cerita ini adalah fakta masa itu.  Selain penjemput merasa kecewa juga bertanya-tanya tentang tujuan kunjungan, seperti pernah ditanyakan Panglima di Makassar.  Jawaban sayapun sama, yaitu kunjungan spiritual.

Kejadian-kejadian seperti ini,  telah membuka mata masyarakat akan kebenaran “gossip”, bahwa Presiden cq Pak Harto  menggunakan tokoh-tokoh paranormal atau supra natural dalam memperkuat dirinya.  Karena itu,  misi-misi penerbangan spiritual  yang tadinya dirahasiahkan, tidak bisa dirahasiahkan lebih lama lagi.   Bahwa Pak Harto dikelilingi “ dukun-dukun” sudah menjadi kenyataan.

Keesokan harinya atau hari ketiga pelaksanaan misi ini,  kami take off dari Biak menuju Jayapura. Perjalanan ditempuh dalam waktu 1 jam 20 menit. Seperti biasanya kami diinapkan terpisah sehingga tidak mengetahui kegiatan apa saja yang dilakukan oleh bapak-bapak.  Kecuali telepon dari Pak Supar pada esok paginya,  yang memberitahukan bahwa tugas kita (pembangunan pagar) di ujung timur Nusantara sudah selesai, dan take-off   dari Jayapura  setelah asar atau jam 16.00.   Tujuan terserah pilot tapi harus keluar Irian Jaya.  Memang tujuan sesuai jadwal penerbangan adalah Jayapura- Biak-Manado,  dengan asumsi bahwa ETD (take-off) dari Jayapura bisa dilaksanakan pagi-pagi jam 06.00, bukan setelah asar.  Dan samapai di Manado sekitar jam 14.00.   Dengan instruksi baru untuk take off ba’da asar,  tidak ada satu lapangan terbangpun yang bisa dicapai dari Jayapura, mengingat jam operasional Bandara kebanyakan tutup pada jam 18,00.   Kalau sekedar keluar dari Jayapura atau Irja Daratan kami bisa terbang ke Biak,  Waktu kami sampaikan informasi itu,  Pak Sudjono setuju kita keluar ke Biak,   Sebenarnya ada satu masalah lagi.  Meteorologi mengingatkan kami cuaca sore hari di atas Lapangan terbang Sentani akan buruk, hujan lebat dengan petir.  Namun Pak Supar mengatakan tidak perlu khawatir karena ada bapak-bapak, dan cuaca akan terbuka untuk penerbangan kita.  Betul saja hujan deras sekali pada waktu take-off dan mendapatkan goncangan (turbelance) yang lumayan berat.  Namun setelah melewati pantai Jayapura cuaca memang berubah jadi terang-benderang sampai kita selamat mendarat di Biak.
 
Untuk terbang keesokan harinya kami mampir di kantor Meteo untuk minta informasi cuaca.   Menurut Meteo cuaca buruk akan datang di Biak  pada jam 03.00 pagi dan akan berlalu sekitar pukul 10.00.  Meteo menyarankan untuk  take-off setelah jam 10.00, dan masih banyak waktu untuk sampai di Manado sebelum hari menjadi gelap.  Jarak Manado akan ditempuh dalam waktu 4 jam.  Info tersebut kami teruskan ke Pak Supar, dan beliau bilang take off lebih pagi lebih baik, soal cuaca tidak usah khawatir.  Ya sudah kata Dolf Latumahina, kita terbang pagi-pagi jam 07.00.

Jam 03.00 dinihari badai benar-benar datang, dibarengi petir berdentum bersahutan.   Jam 07.00 pagi kami bersama bapak-bapak  makan pagi di coffee shop Hotel.  Kelihatan ada keraguan dari bapak-bapak untuk segera terbang, kalau Pak Supar tidak mengatakan cuaca ini sebentar lagi juga pergi.   Di bus yang membawa kami ke pesawat, semua pada diam membisu, sepertinya dicekam kehawatiran.  Tidak lama kami take-off dalam hujan deras, dan siap-siap menerjang sel-sel Cumulo nimbus (CB) yang selalu dihindari oleh penerbang manapun.  Radar cuaca kami tidak menunjukkan celah-celah yang bisa kami lewati. Maka upaya kami hanya berjuang keras agar sayap pesawat tidak miring atau selalu “leveled” pada waktu dapat guncangan.  Altimeter (petunjuk ketinggian)  berputar cepat ke atas dan kebawah menunjukkan adanya “down draft dan up draft” dengan kecepatan  1000-2000 feet/minute,  sehingga menimbulkan kecemasan yang luar biasa, selama sekitar setengah jam, dan baru merasa lega setelah keluar cuaca buruk di pantai Manokwari.  Setelah mendekati Ternate Pak Supar datang ke cockpit dan mengatakan kalau bukan oleh bapak,  cuaca tadi tidak akan mereda seperti sekarang.  Namun Dolf setengah menuntut mengapa bapak tidak mengusir cuaca buruk lebih awal pada waktu kita di guncang dengan hebatnya.  Sisa perjalanan ke Manado sangat menyenangkan, dan mendarat dengan mulus di lapangan terbang Sam Ratulangi dulu Mapanget.   

Di Manado tidak ada sesuatu yang istimewa yang perlu dicatat, kecuali para petinggi daerah, seperti di kota-kota yang disinggahi sebelumnya,  menjadi kenal muka dengan Pak Sudjono dan Romo Diyat.  Yang dulunya gunjingan,  kini benar adanya.   Kedua beliau ini telah membuktikan dirinya sebagai tokoh-tokoh spiritual dan menjadi konsultan Presiden. Maksud kedatangannya juga sudah diketahui sebelumnya, berkat berita yang diterima Manado dari Biak dan Jayapura.  Dengan kata lain,  kegiatan bapak-bapak semakin terbuka.

Berbeda dari penerbangan pada route Biak-Manado,  penerbangan ke Balikpapan pada keesokan harinya berjalan sangat menyenangkan. Cuaca betul-betul sangat baik,  menambah asri pemandangan laut Selat Makassar.  .  Balikpapan dicapai dalam waktu kurang lebih 3 jam,   Sambutan di Sepinggan berjalan normal, tidak ada lagi petinggi daerah bertanya yang aneh-aneh  tentang bapak-bapak yang berkunjung sekarang ini.  Rupanya info tentang bapak-bapak ini,  sudah sampai di Balikpapan jauh hari sebelumnya.   Para pejabat sangat kooperatif dan menyediakan segala fasilitas yang diperlukan bapak-bapak tanpa banyak bertanya.  Maka benarlah yang diucapkan Pak Sudjono bahwa misi ini telah sukses, bahkan dukungan para pejabat Daerah yang ditemuinya sangat mendukung dan setuju terhadap upaya spiritual mendampingi upaya pembangunan fisik, yang akan mempercepat tercapainya tujuan mesejahterakan rakyat.

Tepat seminggu kami meninggalkan Ahmad Yani Semarang, dan kini kami kembali dengan kesuksesan.  Pak Sudjono mengatakan bahwa “pagar spiritual” bagi keselamatan Orde Baru sudah terbentang di Indonesia bagian Timur  Tinggal bagian Barat yang masih harus dibangun.  Kemudian beliau-beliau merangkul kami dan mengucapkan terima kasih.   Anda-anda sudah berjasa, dan kami tidak akan melupakannya.   Sayapun atas nama crew balik mengucapkan terima kasih atas bimbingannya dan tidak lupa mengucapkan selamat jalan kepada bapak-bapak, yang akan meneruskan tugasnya menerbangi Indonesia bagian Barat.   Tugas ke Barat menggunakan GC A-2003 dipiloti Kapten Sudewo dan Lettu Arwin.

 AKHIR PENGABDIAN

Waktu berjalan terus, situasi Negara semakin baik,  jadwal penerbangan perusahaan-perusahaan seperti Garuda dan lain-lain sudah mulai normal, TNI-AU  sudah pulih dari “keterpurukannya” akibat terimbas politik,  G 30 S.  sehingga pelayanan penerbangan kepada Pak Harto juga semakin disesuaikan dengan prosedur dan peraturan yang berlaku sebagaimana seharusnya diberikan kepada Presiden/Kepala Negara.  Sesuai dengan protokol kenegaraan transportasi udara bagi Presiden menjadi tanggung-jawab AU,  Untuk Penerbad ucapan terima kasih disampaikan oleh Sekretaris  Negara a/n Presiden atas dedikasi  Penerbad selama kurang lebih 2,5 tahun (1965-1968) kepada “Orde Baru”.

Selama pengabdiannya kepada Negara,  terutama dalam situasi yang sangat kritis,  kedua pesawat GC Penerbad telah teruji sebagai sarana yang efektif dalam penyaluran komando dan informasi yang sifatnya rahasia.    Selain itu Penerbad juga telah melakukan fungsinya sebagai penyedia sarana transportasi bagi Para Panglima dan Pejabat-pejabat yang berkaitan dengan operasi penumpasan G 30 S/PKI, dan penghubung antara pimpinan AD di pusat dan di daerah.



Artikel Terkait
» Misi Penerbangan Spritual Orde Baru - Bagian 4
» Misi Penerbangan Spritual Orde Baru - Bagian 3
» Indonesia Dorong Eropa Atasi Akar Masalah Perompakan
» Misi Penerbangan Spritual Orde Baru - Bagian 2
» Misi Penerbangan Spritual Orde Baru - Bagian 1



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Membaca Ulang Perang Asimetris di Indonesia Melalui Isu: Indosat, WTO dan Laut China Selatan
Dunia kini telah menjelma menjadi sebuah kampung kecil. Teknologi satelit telah menembus batas-batas negara. Status negara bangsa kini telah semakin kehilangan makna digerus oleh eksistensi organisasi-organisasi ...

Presiden Baru untuk Daulat Pertanian, Perkebunan dan Pangan

PP No 01/2014 Pintu Masuk SBY Beri Monopoli dan Hak Istimewa Kepada Freeport dan Newmont

Skenario di Atas Skenario

Terungkapnya 39 Dokumen Kejahatan Perang Jepang di Cina, Inspirasi bagi Perjuangan Para Advokator Ianfu Indonesia

Shinzo Abe: Personifikasi Kebangkitan Ultra Nasionalisme Jepang? (Bagian Kedua)

Lihat lainya »
   Arsip
Penyebab Naiknya Anggaran Pertahanan China

Sentimen Anti "Tatanan Dunia" Amerika di Rusia

Menlu AS Tiba di Israel Ditengah Larangan

Sheikholeslam: Demi Rakyat Gaza, Pintu Perbatasan Rafah Harus Dibuka

Arah Krisis Ukraina dan Pelajaran Berharga Bagi Indonesia

“Hasil Pilpres 2014 : Kemenangan Bangsa Indonesia, Menuju Lebih Baik”

Toyota dan Invasi Kembali AS ke Irak

Ini Kemunafikan Amerika Serikat

Venezuela Pasok Minyak ke China

Satu dari Empat Diduga Agen CIA Diketahui Membawa Senpi

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Belum Ada Manfaatnya Obama Bagi Islam dan Kepentingan Indonesia

Judul : Obama, Islam dan Gaza
Penulis : Wawan H Purwanto
Penerbit : CMB Press
Tebal buku : 216 halaman termasuk biodata penulis
Peresensi : Muhammad Mubdi Kautsar

Lihat Lainnya »