» Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia? » Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah » Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh? » Turki Kembali Mempolitisasi Islam dan Isu Tatar Untuk Kepentingan Ukraina » Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah


Komentar Pembaca
12-02-2016
Cut Meutia Adrina
Gerakan Sosial-Politik Alternatif, Serangan Mematikan terhadap Neoliberalisme di Amerika Latin

Menurut jurnalis Inggris keturunan Pakistan, Tariq Ali, di Amerika Latin, khususnya di Bolivia dan Venezuela, gerakan sosial-politik alternatif menjadi serangan mematikan bagi neoliberalisme, karena langsung menyerang dominasi perusahaan multinasional. Serangan langsung kepada dominasi perusahan multinasional tersebut berkait erat dengan kekuasaan politik. Sebab, para elit politik pro-neoliberalisme di partai, birokrasi dan militer adalah agen-agen korporasi multinasional yang menguasai negara. ”Karena itu strategi utama pemerintahan sosialis Evo Morales adalah bagaimana mengambil-alih kekuasaan politik di Bolivia,” ungkap Tariq Ali.


Di Venezuela, pemerintahan sosialis Hugo Chavez menggunakan uang hasil produksi minyak ----yang sebelumnya dikuasai para oligarki---- untuk program kesejahteraan rakyat, seperti pendidikan, kesehatan, perumahan dan kebutuhan dasar lainnya.

Yang patut dicatat, pondasi dasar dari kekuatan sosial-politik di Bolivia dan Venezuela adalah gerakan massa yang terorganisir. Jika di Venezuela, Chavez mengemasnya dengan nama Lingkaran Bolivarian, Evo Morales menggerakkan Cocaleros di Bolivia. Bahkan, di Ekuador, CONAINE (National Confederation of Indigenous Nationalities) mampu menggulingkan dua presiden neoliberal yang korup. ”Gerakan massa tidak bisa digantikan oleh socmed (facebook, twitter, dll),” pungkas Tariq Ali.

Akhir kata, saya mengutip tulisan wanita sosialis Jerman, Rosa Luxemburg, dalam sebuah bukunya, yang diucapkan ulang oleh Fidel Castro dalam sebuah rapat akbar di Havana pada tahun 1989, ”Tidak ada gerakan revolusioner tanpa adanya gerakan massa”.




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina
Dalam beberapa bulan belakangan ini, Presiden AS Donald Trump dengan sengaja membesar-besarkan ancaman senjata nuklir dan serangkaian uji coba rudal jarak menengah Korea Utara (Korut) meskipun ...

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Lihat lainya »
   Arsip
Holding BUMN dan Bancakan Kekuasaan

Federasi Nusantara dan Segala Hal yang Perlu Diperjuangkan

Nahdha Project Iringi Naiknya Morsi Menjadi Presiden Mesir

Presiden Lantik 9 Pengarah dan Kepala UKP PIP

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah

7 Negara Arab Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Qatar

Perdana Menteri Malaysia Resmikan Siaran TV Digital

KPK Tetapkan 6 Tersangka Kasus Suap DPRD Jatim

Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh?

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »