» Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia? » Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah » Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh? » Turki Kembali Mempolitisasi Islam dan Isu Tatar Untuk Kepentingan Ukraina » Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah


Komentar Pembaca
23-12-2015
Cut Meutia Adrina
One Road

Dipicu oleh langkah Barack Obama yang mendorong kebijakan "Poros ke Asia" ----pemindahan 60% pasukan militer AS ke Asia selama periode 2010-2020, bekerjasama dengan Korea Selatan, Jepang, Taiwan, Philiphina, Australia dan India---- dan 2 perjanjian perdagangan yang disponsori AS (Kemitraan Trans-Pasifik dan Kemitraan Perdagangan & Investasi Translantik), saat kunjungannya di Kazakstan (9/2013), Xi Jinping menyampaikan keinginannya untuk merevitalisasi jalur perdagangan strategis yang dulu pernah dirintis oleh Dinasti Han (206 SM-220 M) mulai dari ibukota kekaisaran di Chang'an (kini Xian), melintasi Xinjiang, menuju Eropa : Jalur Sutra (Silk Road). Oleh "Han Muda" itu, revitalisasi Jalur Sutra itu diberi nama "One Road". Satu bulan kemudian, Xi mengusulkan pembangunan komunitas Cina-ASEAN dan menawarkan panduan pembangunan Jalur Sutra Maritim Abad Ke-21.


Biaya misi ambisius itu diambilkan dari AIIB (US$ 100 miliar), New Development Bank (US$ 50 miliar) dan Silk Road Fund (US$ 40 miliar). "One Road" mendekatkan Cina dengan akses energi dan sumber pangan. Selama ini, 80% import minyak Cina melalui Selat Malaka yang dikendalikan oleh militer AS. Dengan Jalur Sutra Baru ini, Cina bisa memangkas 85% jarak Cina-Eropa, Cina-Timur Tengah dan Cina-Afrika lewat pelabuhan Gwadar (Pakistan). Seperti halnya assymetric warfare yang dilancarkan pemerintah Beijing terhadap Jokowi, lewat pola Turnkey Project Management (TPM), Cina membiayai proyek-proyek ----jalur rel KA, jalan raya, jaringan pipa minyak dan gas, kabel optik---- di Pakistan sebesar US$ 46 miliar atau 1/5 PDB Pakistan atau 10X investasi AS di Pakistan.




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina
Dalam beberapa bulan belakangan ini, Presiden AS Donald Trump dengan sengaja membesar-besarkan ancaman senjata nuklir dan serangkaian uji coba rudal jarak menengah Korea Utara (Korut) meskipun ...

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Lihat lainya »
   Arsip
Holding BUMN dan Bancakan Kekuasaan

Federasi Nusantara dan Segala Hal yang Perlu Diperjuangkan

Nahdha Project Iringi Naiknya Morsi Menjadi Presiden Mesir

Presiden Lantik 9 Pengarah dan Kepala UKP PIP

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah

7 Negara Arab Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Qatar

Perdana Menteri Malaysia Resmikan Siaran TV Digital

KPK Tetapkan 6 Tersangka Kasus Suap DPRD Jatim

Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh?

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »