» Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi » Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia » Pemerintah Jepang Tidak Punya Itikad Baik Menyelesaikan Masalah Ianfu di Indonesia » Aleppo, Propaganda dan Peta Aliansi Militer Terbaru (Bagian 2-Selesai) » Meneropong Masa Depan Angkatan Bersenjata Cina


Komentar Pembaca
24-11-2015
Cut Meutia Adrina
Papua Salah Satu Masa Depan AS?

Okupasi suatu wilayah ala Barat senantiasa berbasis GOD (gold, oil, drugs). Irak dan Libya digebuk karena punya sumur-sumur minyak berkapasitas besar. AS dan Israel mengipasi perang saudara ----yang digoreng oleh media-media mainstream pro-Barat sebagai medan jihad antara Sunni vs Syiah---- di Syria dengan harapan saat rezim Bashar al-Assad tumbang, jaringan pipa minyak dan gas yang melintasi Syria akan jatuh ke tangan baron-baron minyak antek Washington-Tel Aviv. Somalia (1993) dibikin hancur-lebur demi makin menancapkan kuku 4 perusahaan multinasional asal Paman Sam yang telah menguasai 1/4 wilayah Somalia yang kaya Sumber Daya Alam (SDA). Afghanistan (2001) diluluhlantakkan dengan dalih WoT (War of Terror) terhadap kelompok Al Qaeda, padahal misi sesungguhnya adalah untuk mengontrol pasokan energi dari Asia Selatan dan menguasai ladang opium.


Bukankah tata-niaga perdagangan narkoba di dunia dikendalikan AS dari balik layar ? Bukankah Pablo Escobar ----pemimpin kartel obat bius di Medellin, Kolumbia---- adalah agen ganda yang dibina AS guna membiayai operasi-operasi gelap CIA di Amerika Latin dekade 80-an ?

Saya curiga, contoh insiden Tolikara adalah 'test the water' yang disulut oleh "the Invisible Hands" ----dengan dukungan jaringan intelijen lokal---- sebelum skema permainan lebih besar dijalankan. Dalam literatur komunikasi-jurnalistik, ada istilah yang semakna dengan 'test the water', yaitu 'proofballon'. Menurut pengamatan saya, insiden Tolikara hanyalah jab-jab ringan.

Untuk tujuan apa 22.750 pasukan Navy Seal AS ----dalam struktur kemiliteran AS dianggap sebagai "angkatan ke-4" dan berfungsi sebagai pasukan penyerbu, pendahulu dan pembuka jalan---- ditempatkan di Darwin yang hanya berjarak 820 kilometer dari Papua? Jika untuk menjaga kawasan, kawasan mana yang dimaksud oleh AS ? Bukankah Profesor Robin Tennant-Wood, dosen Universitas Canberra, pernah menilai kalau penempatan 22.750 pasukan Navy Seal AS di Darwin sebagai ancaman nyata terhadap Papua dan keutuhan NKRI?

Ataukah sejatinya tujuan penempatan 22.750 pasukan Navy Seal AS di Darwin tersebut sebagai bagian dari rancang bangun besar untuk melepaskan Papua dari pangkuan NKRI, sebagaimana pernah disebut secara tersirat dalam artikel Hillary Clinton di Foreign Affairs Magazine berjudul "America's Pacific Century", bahwa Papua merupakan salah satu masa depan AS?



Artikel Terkait
» Skenario Balkanisasi
» Kaki Tangan Neo-imperialisme Membunuh Saudaranya Sendiri
» Agenda Pihak Asing untuk Menguasai Bangsa Indonesia
» Aceh-Papua: Pintu Masuk Balkanisasi Nusantara
» Wahai Anak Bangsa Sadarlah Musuh-Musuh Kita Telah di Depan Mata
» Butuh Pemimpin Cerdas, Tegas dan Paham akan Geopolitik



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa
June S Syarief, Kepala Seksi Afrika, Eropa, dan Rusia, Kementerian Perdagangan RI. Disampaikan dalam Seminar Terbatas para ahli dengan tema "MEMBANGUN STRATEGI PERIMBANGAN KEKUATAN DALAM RANGKA MENGAKTUALISASIKAN ...

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Saatnya Indonesia Tampil Sebagai Kekuatan Baru dan Penyeimbang Kekuatan Dunia di Tengah Persaingan Global Dewasa Ini

Lihat lainya »
   Arsip
Palestina Minta Dukungan Indonesia di Konferensi Paris

Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia

Nusantara sebagai Episentrum Kerajaan-Kerajaan Dunia

Bela Negara adalah Kewajiban bagi Setiap Warga Negara Menyikapi Anarkisme (Geo) Politik Global

Kaji Ulang Makna Globalisasi dan Implementasinya

China dan Rusia sepakat balas penempatan rudal AS di Korsel

Imigrasi Bekasi Deportasi 9 WNA China

Jasa Presiden Soekarno buat bangsa Indonesia

RESENSI: Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Partai Berkuasa di Hungaria Ingin Usir "LSM George Soros"

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »