» Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea » Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points » Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia » Berebut Kedaulatan Spratly, Memicu Ketegangan Baru di Asia Tenggara Pada Era Donald Trump » Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi


Internasional
26-12-2013
Trita Parsi, Iran dan Israel (2)
Penulis : Purkon Hidayat, Wartawan Kantor Berita IRIB dan Pengamat Timur Tengah

Pengantar

Tulisan ini kelanjutan tanggapan saya terhadap tulisan Dinna Wisnu (DW) berjudul “Harapan dari Teluk Persia" yang dimuat koran Sindo tertanggal 28/11/2013. Di bagian kedua ini akan mengupas triangulasi data dan sumber yang dijadikan rujukan oleh DW yaitu Trita Parsia dengan mengulas papernya berjudul "Iran and Israel: The Avoidable War" dan bukunya,"Treacherous alliance:The Secret Dealings of Israel, Iran, and the United States".


Onuf dan Triangulasi Data

Tradisi intelektual, termasuk dalam disiplin ilmu hubungan internasional menekankan urgensi triangulasi data sebelum membuat statemen konklusif. Untuk meminimalisasi kesalahan dalam penarikan kesimpulan dan generalisasi, keabsahan data diperoleh melalui pengujian beragam data, bukan dari satu sumber saja. Ketika DW terlalu yakin dengan sumber tunggalnya yaitu Trita Parsi, doktor jebolan universitas bergengsi di negeri Paman Sam itu telah mengabaikan sumber lain, terutama dari referensi utama Iran. Padahal pernyataan para pemimpin Iran tentang Israel menjadi acuan (rules) sebagai konteks dan dasar untuk memaknai perilaku politik Republik Islam terhadap Israel. Apalagi didukung oleh undang-undang dasar Iran yang menegaskan penolakan terhadap berdirinya Israel sebagai rezim penjajah, sebagaimana yang telah dibahas di bagian pertama tulisan sebelumnya.

Di ranah Hubungan Internasional, konsep rules tersebut mengacu pada teori Nicholas Onuf tentang keterkaitan erat antara speech act, tindakan dan rules. Kontruktivis seperti Onuf memandang manusia, terutama para politikus, membangun realitas melalui perbuatan mereka yang bisa berupa tindakan riil maupun speech act. Tindakan yang berulang-ulang membentuk rules bagi aktor lainnya. Statemen para politisi menjadi rules yang hanya memberikan dua pilihan bagi aktor politik lain, mengikutinya atau tidak, tentu dengan konsekuensinya masing-masing.

Contoh lain dari teori Onuf tentang rules ini bisa kita lihat dari statemen presiden AS dan anggota Kongres AS yang berulangkali menegaskan bahwa “Israel adalah [bagian] kepentingan AS”. Pembuktian riil dari tindakan dan speech act mereka baru-baru ini bisa ditelusuri dari dukungan resmi Kongres Amerika Serikat menyetujui suntikan senilai $284 juta untuk mendanai program sistem rudal Israel. Padahal seperti kita ketahui bersama, AS sedang mengalami masalah keuangan yang akut. Business Week seperti dikutip Press TV hari Jumat (13/12) melaporkan, rancangan anggaran yang diperkenalkan bersama oleh komite anggaran DPR dan Senat AS, termasuk dana senilai $33,7 juta untuk meningkatkan sistem senjata Arrow, $117 juta bagi program pertahanan rudal balistik jarak pendek, dan $22 juta untuk pengembangan sistem rudal Arrow-3.

Tidak hanya itu, berbagai fakta historis yang disusun berjajar secara time series semakin menunjukkan rapuhnya klaim DW. Jika Israel bekerjasama dengan Iran dalam perang delapan tahun, mengapa rezim Tel Aviv menjadi pihak yang paling masif melancarkan operasi teror terhadap pejabat dan rakyat Iran selama lebih dari tiga dekade lalu hingga kini. Pengakuan sejumlah tersangka pelaku teror di Iran, setelah melalui proses interogasi yang panjang, menunjukkan keterlibatan agen dinas intelejen Israel, Mossad yang menyusup ke Iran melalui negara tetangga. Tidak sulit menemukan informasi di media massa dan literatur Iran yang menunjukkan bahwa sejumlah mata-mata itu menjalin kontak dengan Mossad, bahkan sebagian dari mereka pernah menjalani pelatihan khusus di Israel dan sejumlah negara sekitar Teluk Persia.

Dari Teror Ilmuwan Iran hingga Revolusi Velvet

Tahun lalu, media massa Barat yang relatif independen seperti The Guardian memublikasikan keterlibatan agen intelejen Israel dalam pembunuhan ilmuwan nuklir Iran. Julian Borger dalam tulisannya yang dimuat The Guardian menyebut operasi teror berdarah terhadap ilmuwan Iran dilakukan oleh agen Mossad melalui tangan gerakan Mojahedin-Khalq Organization (MKO) maupun milisi Jundullah. Laporan tersebut mengutip hasil investigasi Yossi Melman dan Dan Raviv yang menulis buku berjudul “Spies Against Armageddon: Inside Israel's Secret Wars”.

Buku yang terbit 9 Juli 2012 itu menyebut pembunuhan empat ilmuwan nuklir Iran, dan percobaan teror yang gagal terhadap ilmuwan nuklir kelimanya sebagai “Operasi Biru Putih” Mossad. Buku “Spies Against Armageddon” membongkar lima strategi Mossad, terutama di bawah kepemimpinan Meir Dagan untuk menghentikan program nuklir Iran, sekaligus perubahan rezim Iran dengan berbagai operasi konspiratif. Selain menjelaskan peran Israel sebagai pelaku pembunuhan ilmuwan nuklir Iran melalui pasukan elit Mossad ‘Kidon’, Yossi Melman dan Dan Raviv juga mengungkapkan perang lunak yang dilancarkan Israel demi menghentikan program nuklir Iran dengan mengirim virus komputer seperti Stuxnet, terutama untuk melumpuhkan fasilitas nuklir Natanz, Isfahan.

Sejumlah media Barat sendiri tampaknya sulit untuk menutup mata atas keterlibatan Israel yang sangat telanjang dalam pembunuhan ilmuwan nuklir Iran. Ketika Ahmadi-Roshan tewas akibat ledakan bom magnet yang ditempelkan di mobilnya pada 11 Januari 2012 lalu, National Post dalam artikel berjudul “Analysis: Death of Iranian Nuclear Scientist Sheds Light on Long History Covert Action” mengungkapan bahwa pembunuhan terhadap ilmuwan nuklir Iran itu sebagai bagian dari "sejarah panjang permusuhan" Israel terhadap Iran. Penekanan sejarah panjang yang disampaikan media Barat tersebut memiliki dukungan fakta historis yang kuat. Manouchehr Mohammadi dalam bukunya, “Revolusi Islam dalam Ujian (Enghelab Eslami dar Buteh-ye Azmon)” menjelaskan keterlibatan pihak asing terutama agen-agen Israel dan AS dalam berbagai aksi teror di Iran, termasuk kerusuhan tahun 1388 Hs (2009).

Dosen ilmu politik Universitas Tehran ini memandang kemelut pasca kemenangan Ahmadinejad dalam pemilu presiden merupakan skenario yang telah dirancang cukup lama dan panjang dengan melibatkan sejumlah elemen dari intelejen hingga kalangan intelektual AS atas arahan lobi Zionis. Berbagai unsur tersebut memiliki hubungan erat dengan American-Israel Public Affairs Commite (AIPAC), Organisasi lobi Zionis di AS yang memengaruhi Gedung Putih dan Kongres AS supaya melancarkan berbagai tekanan terhadap Iran, mulai dari ancaman invasi militer hingga sanksi ekonomi.

Muhammadi dalam bukunya membongkar skenario ‘perang lunak’ terhadap Iran yang dirancang lembaga think thank AS dan jaringan Zionisme global, di antaranya, Brookings Institution yang selama bertahun-tahun mendesain agenda “Revolusi Velvet” di Iran. Ralph Forbes dalam papernya berjudul “CIA Dirty War Against Iran” menyinggung peran Brookings sebagai lembaga think thank yang berusaha menggiring opini publik warga Iran, terutama kalangan muda terpelajar supaya melawan pemerintah Republik Islam melalui jejaring sosial hingga aksi unjuk rasa di jalanan dalam bentuk “Green Movement”.

Brookings Institution dikelola oleh orang-orang yang berpengalaman dalam kebijakan luar negeri AS seperti Martin Indyk, yang pernah menjabat sebagai duta besar AS di Tel Aviv. Di tahun 2009, Indyk bersama Kenneth.M.Pollack menulis buku mengenai metode menggulingkan pemerintahan Republik Islam Iran berjudul “The Persian Puzzle:The Conflict Between Iran and USA”. Meskipun menampilkan diri sebagai lembaga think thank yang moderat, tapi keterlibatan lobi Zionis dan agenda Iranophobia sebagai salah satu isu utama di lembaga ini menunjukkan bahwa Brookings memainkan peran vital dalam berbagai operasi kudeta terhadap Republik Islam Iran (Mohammadi, 1390 Hs:75-76). Kepala bidang Timur Tengah Brookings dipimpin oleh seorang Zionis ekstrem Haim Saban yang terkenal dengan statemennya sebagai pendukung setia Israel, “Bagiku tidak ada yang lebih penting daripada Israel”. Selain Brookings, ada berbagai lembaga think thank AS-lobi Zionis yang menggarap isu Iran dengan target merancang "kudeta lunak" terhadap pemerintahan Republik Islam, seperti: Rand Corporation, National Endowment for Democracy (NED), Council on Foreign Relation (CFR), Wilson Center dan lain-lain. (Mohammadi,1390 Hs:71-116).

“Kaki Kayu” Trita Parsi
 
Di tengah lautan data yang menunjukkan permusuhan Israel terhadap Iran, DW justru merujuk referensi sebaliknya, dengan mengamini Trita Parsi sebagai sumber paling fasih dan berapi-api tentang kerjasama Israel-Iran. Dosen universitas Paramadina ini mengamini statemen presiden NIAC yang mengklaim Israel memberikan pasokan senjata, bahkan nasihat militer kepada Iran. DW menulis,

"Kecaman-kecaman pedas dan penolakan atas berdirinya negara Israel yang selalu ada dalam setiap pidato Ahmadinejad di berbagai kesempatan sangat kontras dengan kerja sama Iran dan Israel saat Perang Iran-Irak 1980–1988, yaitu Israel banyak membantu memberikan peralatan dan nasihat militer kepada Iran.

Hubungan tersebut memang kemudian berubah setelah runtuhnya Uni Soviet dan tergulingnya Saddam Hussein dari kursi kepala pemerintahan di Irak. Kejadian-kejadian tersebut telah memengaruhi keseimbangan kekuasaan yang terjadi di Timur Tengah yang membuat Iran menjadi semakin memiliki pengaruh."


Bandingkan dengan Trita Parsi dalam papernya “Iran and Israel:The Avoidable War,” yang dimuat Middle East Policy vol. XIV, no.3, Fall 2007. hal.79-85.

“Due to the continuing existence of these threats, many aspects of the Israeli-Iranian relationship survived the Iranian Revolution in spite of Iran's new state ideology. For instance, Israel was a key provider of arms to the new theocracy in Iran during the Iraq-Iran War, and there are indications that Israel's attack on Iraq's nuclear site at Osirak in 1981 was facilitated by Iranian intelligence and assistance. In addition, Israel lobbied Washington extensively in the 1980s to open up relations with Iran, in spite of Ayatollah Khomeini's venomous rhetoric against the Jewish state. These efforts culminated in the Iran-contra scandal.

But with the collapse of the Soviet Union and the defeat of Saddam Hussein in 1991--the last Arab power that could pose a significant conventional military threat to Iran and Israel--the geopolitical map of the Middle East was reconfigured and the rationale for the covert or overt cooperation between the Jewish state and the Islamic Republic evaporated. In the new emerging Middle East, the two non-Arab powerhouses no longer shared common security imperatives."


Dalam petikan kutipan di atas, DW yang mengekor Parsi mengklaim Israel banyak membantu memberikan peralatan dan nasihat militer kepada Iran dalam perang melawan Irak yang meletus tahun 1980-1988.Tampaknya, dua hal yang dijadikan alasan Trita Parsi, yang diacu sebagai pijakan DW. Presiden NIAC itu mengklaim serangan pesawat tempur Israel terhadap fasilitas nuklir Irak, Osirak pada 7 Juni 1981 difasilitasi oleh intelejen Iran. Menurut Parsi, Israel berperan melobi Washington secara ekstensif di tahun 1980 supaya AS membuka hubungan dengan Iran. Dari sana, ia mengklaim Israel memasok kebutuhan persenjataan ke Iran dalam perang dengan Irak.

Terkait  klaim pertama, Israel sengaja memanfaatkan isu konflik Irak-Iran demi kepentingannya, termasuk keputusan Tel Aviv mengintruksikan penyerangan terhadap instalasi nuklir Osirak pada hari Minggu, 7 Juni 1981. Reaktor nuklir Irak itu akan beroperasi penuh dalam dua tahap, awal Juli 1981 dan awal September 1981. Dengan pertimbangan tersebut, Israel menyerang awal bulan Juni sebelum instalasi nuklir Irak beroperasi penuh.Satu-satunya tujuan utama rezim Tel Aviv menyerang instalasi nuklir Irak demi mengokohkan posisi strategis Israel sebagai kekuatan nuklir tunggal Timur Tengah. Bagi rezim Zionis, tidak boleh ada negara manapun di Timur Tengah yang boleh memiliki fasilitas nuklir, karena akan mengancam hegemoninya di kawasan. Setelah Irak, Israel berulangkali mengancam akan menyerang instalasi nuklir Iran. Lalu, di mana letak kerjasama antara Israel dan Iran seperti diklaim DW.   

Serangan Udara terhadap Reaktor Nuklir Osirak

Sebelum Israel menyerang instalasi nuklir Irak, Osirak, militer Iran telah terlebih dahulu menyerangnya. Aksi militer tersebut tidak bekerjasama sama sekali dengan Israel sebagaimana diklaim DW. Pada tanggal 30 September 1980, dua jet tempur F-4 Phantom milik Iran menyerang instalasi nuklir Irak. Kemudian tanggal 7 Juni 1981, delapan F -16 dan enam F – 15s Israel meninggalkan pangkalan udara pangkalan udara Etzion untuk melancarkan aksi pengeboman terhadap reaktor nuklir Osirak.

Trita Parsi dalam bukunya Treacherous Alliance: The Secret Dealings of Israel, Iran, and the United States,(2007:107-109) menyebut serangan tersebut atas bantuan intelejen Iran dengan memberikan foto udara dan peta dari reaktor nuklir Osirak. Untuk mendukung alasannya, Parsi mengutip statemen Ari Ben- Menashe yang mengklaim wakil Iran dan Israel sebulan sebelum serangan tersebut bertemu di Perancis. Pertanyaannya, Menashe tidak mengungkapkan detil siapa yang dimaksud sebagai wakil Iran itu dan kapan terjadinya. Sumber dari Iran sendiri tidak pernah dikonfirmasi oleh Trita Parsi dalam bukunya mengenai masalah tersebut. Selain itu, alasan bantuan foto dari Iran agak lemah karena Israel sendiri memiliki akses langsung terhadap instalasi nuklir Osirak yang dibangun perusahaan Prancis.

Selain lampu hijau AS, serangan udara Israel terhadap reaktor nuklir yang dirancang oleh insinyur Perancis Yves Girard itu telah berkoordinasi dengan pemerintah Paris. Menurut Polakow-Suransky, Sasha dalam bukunya The Unspoken Alliance: Israel's Secret Relationship with Apartheid South Africa (2010:145), serangan udara Israel tersebut setidaknya menewaskan 10 orang tentara Irak, dan hanya satu orang warga sipil Prancis yang tewas. Padahal sekitar seratus lima puluh warga asing bekerja di reaktor nuklir Iran itu, yang kebanyakan warga Perancis. Mereka diliburkan dengan alasan hari libur resmi akhir pekan. Di sini mulai terlihat keganjilannya. Instalasi nuklir yang hampir rampung itu perlu pengerjaan dan pengawasan kontinyu dari para ahli, bahkan beberapa bagiannya harus dikontrol selama 24 jam. Apakah logis mereka diliburkan semua dengan alasan pergi ke gereja atau akhir pekan padahal proyek belum selesai. Sementara Irak sendiri tidak memiliki ahli yang memadai untuk mengerjakan proyek besar itu.

Selain itu, pengaruh lobi Zionis di tubuh pemerintahan Paris juga sangat besar. Dengan lobi itu, sangat mudah bagi Tel Aviv mengakses sekedar foto dan peta reaktor nuklir Osirak yang digarap perusahaan Perancis.Sebagaimana peran besar lobi Zionis Komite Amerika -Israel Public Affairs (AIPAC) di tubuh pemerintah AS, di Prancis berdiri lobi Zionis bernama Conseil Representatif des Institutions Juives de France (CRIF). Tidak heran, jika reaktor nuklir militer Israel di gurun Negev,Dimona juga dibangun berkat bantuan Paris. Sinyalemen koordinasi itu juga bisa dibaca dari sikap aktor politik pasca serangan udara Israel tersebut. Seperti biasanya pejabat teras AS membela Israel  dengan mengungkapkan ancaman kemampuan nuklir Irak yang bisa membuat 10 bom berbahaya. Adapun Prancis hanya cukup dengan mengatakan "unacceptable", itu pun karena ada satu teknisinya yang tewas dalam serangan tersebut.

Asumsi yang dikembangkan Trita Parsi ini serupa dengan teori konspirasi yang usung sejumlah peneliti dan penulis Barat seperti Tom Cooper and Farzad Bishop (2004) dalam karyanya, Target: Saddam's Reactor; Israeli and Iranian Operations against Iraqi Plans to Develop Nuclear Weapons. Mereka mengklaim serangan jet tempur Iran ke instalasi Osirak Irak atas saran dari Yehoshua Saguy, Direktur Jenderal Intelijen Militer Israel. Data yang disajikan kedua penulis Barat itu menunjukkan kelemahan mereka membaca “peta besar” Iran sebelum dan sesudah kemenangan Revolusi Islam.

Pernyataan Saguy dikemukakan kepada pejabat dinas intelejen Iran, Savak, di akhir era rezim Muhammad Reza Shah Pahlevi sebelum kemenangan Revolusi Islam. Dan pemerintahan Iran yang telah berubah dari model monarki menjadi Republik Islam memanfaatkan seluruh informasi yang diperoleh dari dinas intelejen Shah, Savak. Selain menjalin hubungan diplomatik yang sangat erat dengan AS, rezim Shah juga bekerjasama dengan Israel. Bahkan, agen-agen Savak yang dilaporkan mencapai lebih dari 60.000 personil mendapat pelatihan khusus dari CIA dan Mossad. Tidak heran jika pemerintah Iran di era Shah memiliki hubungan yang begitu mesra dengan Israel. Data inilah yang diolah oleh Tom Cooper, Farzad Bishop untuk membenarkan asumsi konspiratifnya tanpa verifikasi triangulasi data dari Iran. Dan akhirnya pandangan mereka tampil tidak lebih dari teori konspirasi semata. Mengikuti jejak mereka,Trita Parsi dalam bukunya menjadikan orang-orang Israel semacam Ari Ben-Menashe sebagai sumber utama demi menguatkan kepentingannya selaku Presiden NIAC, yang kini menjadi salah satu lobi orang-orang Iran yang menjadi kekuatan oposisi Revolusi Islam di AS.

Klaim kedua Parsi bahwa Israel berperan melobi Washington secara ekstensif di tahun 1980 supaya AS membuka hubungan dengan Iran semakin menunjukkan kedangkalannya dalam merujuk sumber utama. Parsi hanya memilih sumber yang mendukung posisinya sebagai presiden sebuah organisasi lobi di AS. Statemen Parsi, “Israel lobbied Washington extensively in the 1980s to open up relations with Iran,” sangat jauh dari realitas politik sebenarnya yang terjadi antara Israel, Iran dan AS. Padahal, AIPAC sebagai lobi Zionis yang paling berpengaruh di AS sejak berdiri tahun 1963 hingga kini menjadi lembaga yang paling gencar memusuhi Iran. Salah satu alasan yang dijadikan pijakan oleh Trita Parsi mengenai peran Israel dalam mendukung kerjasama AS-Iran adalah keterlibatan Israel dalam Skandal Irangate. Tapi berbagai literatur di Iran menunjukkan  kesimpulan sebaliknya dari peristiwa itu, bukan seperti penjelasan Parsi dalam bukunya.

Skandal Irangate

Sebagaimana ditegaskan di bagian pertama tulisan sebelumnya, hampir setiap peristiwa penting di Iran dipastikan akan menjadi perhatian aktor politik dan institusi sosial keagamaan, maupun dunia akademis di negeri itu. Salah satu parameternya adalah riset dan publikasi akademis mengenai masalah tersebut. Berbeda dengan masalah hubungan Iran-Israel yang tidak diakui Tehran, hubungan Iran dan AS, bahkan skandal Irangate yang lebih dikenal dengan sebutan “Skandal McFarlane (Majara-e McFarlane)” diulas dalam berbagai buku dan paper, paling tidak yang berbahasa Farsi. Di sini, saya hanya menyebutkan beberapa yang terpenting saja.

Setidaknya, ada tiga buku utama yang mengupas peristiwa bersejarah itu. Pusat Penelitian Perang Sepah Pasdaran Iran menerbitkan penelitian Mehdi Ansari dkk, berjudul "Skandal McFarlane: Upaya AS menjalin Hubungan dengan Iran” di tahun 1379 Hs. Sepuluh tahun kemudian, Nasr Moaref Enghelab menerbitkan buku sejenis karya Mohsen Hashemi dan Habibollah Hamidi, berjudul "Skandal McFarlane: Penjualan Senjata dan pembebasan Tawanan” di tahun 1387 Hs. Setahun kemudian, terbit buku berjudul "McFarlane" besutan Fatimah Alizadeh yang diterbitkan Muasasah Intisarat-e Rooznameh Iran. Selain ketiga buku tersebut, ada buku lain yang sebagian pembahasannya mengulas skandal McFarline seperti buku "Ouj-e Defa (Puncak Pertahanan)" yang terbit tahun 1388 Hs, dan "Ma Amerika ra Zir Pa mi Gazarim" (AS di Bawah Telapak Kaki Kami)" yang terbit tahun 1387 Hs.

Hashemi Rafsanjani yang saat itu menjabat sebagai ketua parlemen Iran dalam pidatonya memperingati peristiwa 13 Aban "Hari Didudukinya Kedutaan AS oleh mahasiswa Iran", menyinggung skandal McFarlane. Menurut Rafsanjani, McFarlane selaku penasehat keamanan nasional Gedung Putih yang memimpin rombongan, menyamar menggunakan identitas palsu paspor Irlandia dengan pakaian sipil dan menggunakan pesawat Eropa yang melewati jalur Tel Aviv. Mc Farlane menawarkan penjualan senjata kepada Iran yang saat itu sedang berperang dengan Irak.

AS menawarkan penjualan senjata kepada Iran dengan tebusan pembebasan beberapa warga negara AS yang ditawan kelompok Jihad Islam Hizbullah Lebanon. Menjelang akhir Mei 1986, MCFarlane datang ke Tehran membawa sejumlah persenjataan dalam pesawatnya. Sejumlah sumber di Iran menyebutkan terjadi tujuh kali perundingan antara McFarlane dan pejabat Iran. Dari berbagai kesepakatan yang dicapai kedua pihak adalah tidak diikutsertakannya roket Israel didalamnya. Di sini, klaim Trita Parsi mentah dan DW terbukti tidak jeli dalam menguji data. Salah seorang aktor politik Iran, Rafsanjani menjelaskan masalah tersebut dalam salah satu buku memoir politiknya “Puncak Pertahanan”. Selain itu, sepuluh tahun lalu, Rafsanjani kembali menyampaikan masalah tersebut ke koran Hamshahri. Di tahun 1382 Hs, ia menuturkan,"Kontainer berisi persenjataan dibawa [McFarlane] dalam pesawat. Selain itu terdapat sejumlah roket Israel. Tapi setelah beberapa waktu, mereka terpaksa mengambilnya kembali." Fakta ini membantah konklusi prematur DW yang mengklaim terjadi kerjasama Iran-Israel dalam perang dengan Irak.

Modo Hoc Fallacy
 

Tampaknya, ada peta besar yang luput dibaca DW dari penjelasan Trita Parsi dan berbagai pemikir Barat lainnya semacam Efraim Karsh dalam bukunya “Essensial Histories: The Iran-Iraq war 1980-1988”. Kebanyakan para pemikir Barat terjebak dalam fenomena “Opera Bouffe” ketika menyimpulkan bahwa AS dan juga Israel membantu Iran. Sebab mereka melepaskan “Peta besar” dan melupakan triangulasi data dalam membahas Iran, yang berakibat terjadi penyimpulan prematur.(Saya sudah membahas masalah ini secara terpisah dalam tulisan “Iran dan Opera Bouffe”). Secara metodologis, dalam ilmu logika mereka terjebak Fallacy of Composition, atau yang disebut Richard Carrier sebagai Modo Hoc Fallacy.

Di sini, para sarjana Barat melakukan generalisasi prematur dengan menilai skandal Irangate sebagai bentuk kerjasama AS (bahkan Israel, seperti diklaim DW yang mengamini mentah-mentah statemen Trita Parsi) dengan Iran. Hal tersebut disebabkan kedangkalan membaca “peta besar” berupa latar situasi dan  kondisi politik, motif dan kepentingan kedua belah pihak. Para analis Barat tidak jeli, jika tidak memiliki kepentingan tertentu, dalam mengulas motif dan latar situasi politik sebenarnya ketika McFarlane datang ke Iran, padahal ini sangat penting untuk konteks dalam memaknai data.

Kebanyakan analis Barat menilai motif kunjungan McFarlane karena kepentingan ekonomi politik AS yang memandang Iran membutuhkan senjata karena berperang dengan Irak, dan Gedung Putih “membantu” Tehran, sekaligus meraih keuntungan finansial dari penjualan senjata demi mendukung kelompok oposisi Nikaragua. Padahal, Iran ketika itu menghadapi embargo internasional dari Washington, dan AS bersama negara lain, termasuk negara-negara Arab merupakan pemasok utama persenjataan rezim Saddam Husein. Sangat aneh ketika Gedung Putih yang melibatkan Israel, secara tiba-tiba membantu Tehran melawan Irak. Tentu saja ada hidden agenda di belakang itu.Tidak sulit membuktikan fakta bahwa AS dan sekutunya adalah pemasok persenjataan bagi rezim Saddam. Pengamat Barat sendiri seperti Shane Harris dan lainnya telah mengungkapkan masalah itu.

Kedatangan McFarlane ke Iran terjadi di saat perang telah memasuki tahun keenam dari delapan tahun lamanya yang berakhir 20 Agustus 1988 dengan keluarnya resolusi PBB no.598. Peristiwa tersebut terjadi di saat tentara Iran yang dibantu pasukan sukarela rakyat Basiji berhasil merebut seluruh wilayahnya yang dikuasai Irak seperti Khoramshahr. Bahkan, sebulan sebelum kedatangan McFarlane, Iran berhasil menguasai pulau Faw Irak pada 11 Februari 1986.Tampaknya, AS begitu khawatir dengan perkembangan tersebut menyusul rangkaian kegagalannya pasca kemenangan Revolusi Islam Iran menggulingkan rezim Shah Pahlevi. Didudukinya kedutaan AS oleh mahasiswa Iran yang disusul kegagalan operasi Eagle Claw, dan ketidakmampuan rezim Saddam Husein menundukkan Tehran dalam perang yang panjang mulai mengikis harapan Gedung Putih melumpuhkan Tehran melalui cara-cara militer, bahkan setelah meminjam tangan bonekanya, rezim Saddam.

Pada 3 Mei 1986, Presiden AS, Ronald Reagan mengirim utusan khususnya mengunjungi negara-negara Arab di wilayah Teluk Persia untuk membicarakan masalah transformasi terbaru di kawasan, terutama posisi Iran yang tidak bisa dilumpuhkan rezim Saddam. Ketika awal perang Irak-Iran meletus, hampir tidak ada analis politik Barat yang memprediksi Iran bisa bertahan, apalagi mampu menyerang balik Irak. Tapi setelah berlalu hampir enam tahun, situasi berubah, dan AS pun harus mengubah pendiriannya. Hasil pertemuanutusan khusus Reagan dengan para pemimpin negara-negara Arab memutuskan bahwa mereka bersepakat untuk menghentikan dukungannya terhadap Saddam dan meretas rekonsiliasi damai Irak- Iran, karena tidak menguntungkan kepentingannya. Padahal begitu banyak bantuan finansial dan militer yang telah mereka gelontorkan terhadap rezim Baghdad. Sekitar tiga pekan  setelah kunjungan utusan khusus Reagan tersebut, McFarlane datang ke Tehran untuk meloloskan agenda “konspirasi lunak” Washington.

Pengamat Iran, Mohammad Saebi (1387Hs:267-269) menilai misi AS yang dipanggul McFarlane demi menggembosi Republik Islam dari dalam. Para analis politik dan militer Iran di AS ketika itu mulai menyadari bahwa kekuatan soft powerlah yang menyebabkan Iran mampu menghadapi Irak yang mengandalkan  hard power. Inti kekuatan utama Iran bertumpu pada mobilisasi rakyat. Untuk itu Gedung Putih merancang skenario memecah belah kekuatan rakyat dan pemerintah Iran dari dalam, sekaligus merancang manuver menghadapi kepemimpinan Iran mendatang setelah Imam Khomeini  wafat. Ketika itu, para pengamat Iran di AS mempediksi dua orang yang kemungkinan akan naik yaitu, Montazeri atau Hashemi Rafsanjani.Tapi belakangan, lagi-lagi mereka kecele, karena yang naik ternyata melalui proses pemilihan dewan faqih adalah Ayatullah Khamenei.

Di sisi lain, misi McFarlane untuk menggembosi dukungan rakyat Iran terhadap Republik Islam, bahwa para pemimpin mereka ternyata tidak jujur dan berunding dengan musuh-musuhnya yang berada di belakang Saddam. Tapi skenario ini berhasil dibaca dan dipatahkan Iran di bawah arahan jitu Imam Khomeini.

Lalu, jika Iran mengetahui motif konspirasi itu mengapa Tehran masih melanjutkan perundingan dengan McFarlane. Selain masalah kebutuhan senjata, tujuan lainnya untuk menciptakan kemelut internal di tubuh pemerintahan AS sendiri. Teori Onuf bisa membantu kita menyingkap separuh masalah ini.  Berbagai sumber penting di Iran, termasuk aktor utamanya seperti Hashemi Rafsanjani yang mendapat restu dari Imam Khomeini untuk berunding dengan McFarlane menerapkan skenario “Bazi ba Amerika, (bermain jitu dengan AS)”. Ketika itu, Imam Khomeini mengeluarkan “garis merah” dalam perundingan yang harus dipatuhi tim Iran yang berunding dengan McFarlane. Menurut Imam Khomeini, aktor politik Iran harus selamanya mempertahankan kebencian terhadap pemerintah Amerika, dan mewaspadai konspirasi yang sedang di rancang Washington. Sebab tujuan utama Gedung Putih adalah melumpuhkan Revolusi Islam. Imam Khomeini juga mengingatkan para aktor politik Iran harus memahami permainan musuh, sehingga bisa menguasai arena, bukan sebaliknya. Selain itu, orang yang terlibat dalam perundingan harus memiliki kecakapan dalam stategi politik dan diplomasi. Garis merah lainnya adalah bertindak demi kepentingan rakyat Iran, bukan yang lain.

Siapa pemenang perundingan ini. Sejarah mencatat Iran mendapatkan senjata dari negara yang mengembargonya sendiri.Terbongkarnya skandal Irangate yang dipublikasikan pertama kali oleh majalah berbahasa Arab ash-Shiraa cetakan Beirut pada 3 November 1986 menimbulkan gempa politik di Gedung Putih. Persis seperti prediksi Imam Khomeini akan muncul konflik di tubuh pemerintah AS ketika peristiwa itu terbongkar.Saking tingginya tekanan terhadap McFarlane, penasehat keamanan nasional Gedung Putih ini  sempat melakukan percobaan bunuh diri, meskipun gagal. Reagan sendiri digugat sejawatnya terutama lawan politiknya. Konon, Irangate menjadi skandal terbesar kedua di negeri paman Sam itu setelah Watergate. Inilah yang dimaksud Imam Khomeini sebagai “Bazi ba Amerika”.

Berbeda dengan AS, di Iran tidak ada gejolak politik yang terlalu serius menyikapi masalah tersebut. Imam Khomeini dalam pidatonya memperingati hari 13 Aban 1365 Hs mengatakan,“Terbongkarnya masalah ini menyebabkan [pemerintah] AS berduka. Perselisihan dan kecemasan muncul di Gedung Putih. Dan bagi para pendukung AS ini menjadi masalah besar…” Belakang Ayatullah Khamenei mengeluarkan istilah yang hampir serupa dengan terma “Narmesh Ghahramananeh” untuk menunjukkan posisi Iran dalam perundingan dengan AS. Inilah sebuah perundingan yang seimbang antara dua pihak yang memasuki meja perundingan.Ini jelas bukan kerjasama antara dua sekutu. Dan ini pun terjadi bukan antara Iran dan Israel, tapi dengan AS. Tentu saja, tidak sulit untuk membedakan keduanya!



Artikel Terkait
» Trita Parsi, Iran dan Israel (I)



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia
Pada 2014 lalu, Global Future Institute sempat menyorot secara khusus etnis Tatar yang bermukim di Crimea. Waktu itu, beberapa tokoh etnis Tatar dari seluruh dunia berkumpul ...

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Menjaga dan Merawat Kerukunan Beragama di Papua

Membendung Radikalisme dan Mempertahankan Keutuhan NKRI

Lewat Sepucuk Surat Trump Cairkan Hubungan dengan China

Khayalan Tingkat Dewa, Komunis Bangkit Lagi

Pilkada: Untuk Rakyat atau Politisi

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Indonesia dan Korsel Bahas Kerjasama Bilateral

Uni Eropa akan Tetap Terapkan Sanksi kepada Rusia

Uni Eropa Diminta Tidak Ikuti Permainan Trump

Cinta dan Kebenaran

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »