» Anthrax, Proyek Militer AS Berkedok Proyek Riset Kesehatan (Bag I) » Kapiten Soe Bing Kong, Ahok dan Mega Proyek Giant See Wall » Nilai Strategis Kerjasama Indonesia-Rusia bidang Energi Dari Perspektif Kepentingan Nasional » Jejak-Jejak Cina dan Jepang di Madura » Sekilas Madura dari Perspektif Geopolitik


Isu Hangat
19-02-2010
Afghanistan
Afghanistan: Negara Yang Hancur-Lebur Gara-Gara Perdagangan Narkoba (Bagian Akhir)
Penulis : Peter Dale Scott

Singkat cerita, jargon perang berantas terorisme di Afghanistan atau perang berantas narkoba di Kolumbia, sebagaimana yang dijadikan dalih Pentagon dalam melakukan aksi militer di kedua negara tersebut, terbukti hanya fantasi belaka. Fakta membuktikan bahwa aksi militer yang ditempuh Amerika sama sekali gagal mengontrol keadaan. Kasus Irak adalah contoh lain yang juga mempekuat pandangan saya ini.



Operasi militer Amerika di Afghanistan ternyata bukan tujuan akhir itu sendiri. Tekanan dan lobi Korporasi minyak raksasa Amerika seperti Exxon Mobil, ternyata punya peran yang cukup besar dalam mendorong para pengambil kebijakan luar negeri Amerika untuk menempuh operasi militer sebagai bentuk campur tangan mereka di Afghanistan. Maklum, investasi Exxon Mobil di Kazakhstan dan beberapa negara di kawasan Asia Tengah memang cukup besar.

Michael Klare, dalam bukunya bertajuk Resource Wars, menulis bahwa tujuan sekunder operasi militter Amerika di Afghanistan adalah untuk mengkonsolidasikan kekuatannnya angkatan bersenjatanya di Teluk Parsi dan di wilayah aut Kaspia. Sehingga kelangsungan suplai minyak ke Amerika bisa tetap dipertahankan.

Pada saat yang sama, perdagangan narkoba itu sendiri akan memberi keuntungan yang cukup besar akibat konflik di dalam negeri Afghanistan yang tak kunjung usai. Dan para pihak yang menangguk keuntungan bisnis barang haram ini sudah saling bersekongkol secara rahasia untuk tetap melestarikan konflik yang tak berkesudahan di Afghanitan demi untuk mempertahankan  pratek perdagangan narkoba yang membawa keuntungan bisnis yang cukup besar tersebut.

Dalam hal ini, akan selalu ada negara yang akan jadi target operasi Amerika  sepanjang Amerika tetap mengagendakan untuk memporak-porandakan negara-negara dengan dalih negara tersebut masuk kategori negara gagal.

Maka, sebuah negara yang kiranya akan menjadi target berikutnya Amerika adalah Pakistan. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan jumlah personil tentara sewaan dengan dalih semakin meningkatnya ancaman bersenjata dari kelompok Islam radikal Taliban. Selain itu, ada isu keamanan yang cukup sensitif di Pakistan yaitu mengenai pengembangan tenaga nuklir.

Saya berkeyakinan bahwa krisis di Afghanistan hanya bisa diselesaikan dengan adanya perubahan sikap dan perilaku Amerika. Karena itu, jika Amerika memang serius untuk menciptakan stabilitas sosial , maka langkah pertama yang harus ditempuh adalah:

  1. Presiden Obama harus mengkaji ulang  visi 2020-nya utamanya berkenaan dengan kebijakannya untuk menempuh cara-cara militer untuk mengendalikan keadaan.
  2. Amerika harus meminta maaf atas sepak-terjangnya yang telah menghancur-leburkan negara-negara Muslim, khususnya ketika menggulingkan Perdana Menteri Iran Mosadeq dari pada 1953. Dan pembunuhan politik terhadap petinggi Irak Abdul Karim Qasim dari Irak pada 1953. dan ketika Amerika membantu Gulbuddin Hekmatyar pada tahun 1980-an dalam rangka mengondisikan maraknya perdagangan narkoba di Afghanistan.
  3. Obama harus mempertimbangkan rekomendasi Rand Corporation agar mengurangi atau menarik secara total seluruh kehadiran pasukan militernya di Afghanistan.
  4. Obama harus memastikan agar CIA di masa depan tidak lagi memberi dukungan terselubung kepada para pihak yang melakukan praktek perdagangan narkoba di Afghanistan.
  5. Obama harus mengakhiri ambisinya untuk secara sepihak menjadi kekuatan unipolar di dunia.


Adalah baik bagi Amerika jika bisa mengoreksi kebijakan luar negerinya dengan akal sehat. Namun, tidak adanya perdebatan tentang Afghanistan dan Pakistan di Gedung Putih maupun di Kongres, dan bahkan di kalangan masyarakat Amerika pada umumnya, saya kira kondisi ini sungguh memperihatinkan.
 
Penulis adalah mantan diplomat Kanada, dan guru besar Sastra Inggris di Universitas California, Berkeley. Dale Scott juga dikenal sebagai penyair, penulis dan peneliti. Bukunya yang terbaru bertajuk War Cosnpiracy: JFK, 9/11, and Deep Politics of War.



Artikel Terkait
» Afghanistan: Negara Yang Hancur-Lebur Gara-Gara Perdagangan Narkoba (Bagian V)
» Afghanistan: Negara Yang Hancur-Lebur Gara-Gara Perdagangan Narkoba (Bagian IV)
» Afghanistan: Negara Yang Hancur Lebur Gara-Gara Narkoba (Bagian III)
» Afghanistan: Negara Yang Hancur-Lebur Gara-Gara Perdagangan Narkoba (Bagian II)
» Afghanistan: Negara Yang Hancur Lebur Gara-Gara Perdagangan Narkoba (Bagian I)



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Nilai Strategis Kerjasama Indonesia-Rusia bidang Energi Dari Perspektif Kepentingan Nasional
Rusia dalam Perspektif Geopolitik di Asia Pasifik Kerjasama strategis Indonesia-Rusia menyusul ditandatanganinya Memorandum of Understanding (MOU) oleh kedua negara di bidang energi untuk Pembangkit Listrik Tenaga ...

Menyambut Baik Babak Baru Kerjasama Energi Nuklir Indonesia-Rusia

Kodama dan Sasakawa, Kekuatan di Belakang “Tirai Hitam” Politik Jepang Pasca Perang Dunia II

Turnkey Project: Modus Perang Asimetris ala Cina

Mengingatkan Kembali Tiga Kejahatan Perang Jepang di Indonesia

SURAT TERBUKA KEPADA PRESIDEN JOKOWI DAN IBU MEGAWATI SUKARNOPUTRI

Lihat lainya »
   Arsip
Lewat Referendum Warga Tolak Bailout Usulan Kreditor

Ekonomi Indonesia Tidak Resesi?

Acara Idol di TV dan Pemahaman tentang Pemilu

Gatot Nurmantyo: Bisa Jadi Konflik Dunia Bergeser ke Indonesia

Prancis Tolak Suaka Politik Julian Assange

Nilai Strategis Kerjasama Indonesia-Rusia bidang Energi Dari Perspektif Kepentingan Nasional

Nilai Strategis Kerjasama Indonesia-Rusia bidang Energi Dari Perspektif Kepentingan Nasional

Indonesia di Ambang Krisis Ekonomi

AS Akan Perpanjang Perang, Namun Akan Menemui Kehancuran

Seoul Sambut Baik Pemulihan Diplomatik AS dan Kuba

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Bagaimana Membaca Novel Foucault's Pendulum?

Pendahuluan
Novel Foucault’s Pendulum karya Umberto Eco edisi bahasa Indonesia telah diterbitkan pada November 2010. Karya aslinya dalam bahasa Italia, Il Pendolo di Foucault, terbit pertama kali pada 1988. Setahun kemudian baru diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Foucault’s Pendulum. Nama Foucault pada judul itu mengingatkan pada tokoh filsafat kontemporer, Michel Foucault. Tokoh yang relatif dikenal dalam kajian humaniora. Padahal nama Foucault pada judul novel Eco adalah nama penemu pendulum yang tidak lain adalah Leon Foucault.

Lihat Lainnya »