» Selain AS dan Rusia, Cina dan Jepang Faktor Penting Penyelesaian Multilateral Konflik Korea Selatan versus Korea Utara » Membaca Di Balik Kudeta Militer Turki Jumat Lalu » Standar Ganda Kebijakan HAM AS di Pelbagai Belahan Dunia, Selayang Pandang » Mencari Solusi Damai Korea Selatan-Korea Utara Diilhami oleh Dasa Sila Bandung 1955 » Meneropong “Kebijakan Standar Ganda” Amerika Serikat (Studi Perbandingan Papua-Indonesia dan Ukraina terkait Pelanggaran Hak-Hak Asasi Manusia)


Eropa
08-10-2013
uni eropa
Inggris dan Rencana Keluar dari Uni Eropa

Inggris yang sampai saat ini tidak bersedia menggunakan mata uang Euro, pernah terlibat friksi dengan Uni Eropa terkait kebijakan ekonomi. Masalah ini kian memperkuat referendum terkait rencana London keluar dari organisasi ini.


Salah satu anggota partai berkuasa Inggris hari Ahad (6/10) menutut percepatan referendum untuk menentukan apakah Inggris harus keluar dari Uni Eropa atau tidak. Adam Afriyie, anggota senior majelis rendah Inggris dari Partai Konservatif mengatakan dirinya akan berusaha menarik simpati kesepakatan anggota parlemen untuk menggelar referendum masa depan negara ini di Uni Eropa pada tahun 2014.

Adam Afriyie seraya menjelaskan bahwa penyelenggaraan referendum dini dalam masalah ini menguntungkan Inggris, menambahkan, rakyat tidak percaya dengan janji Perdana Menteri David Cameron untuk menggelar referendum pada tahun 2017.

Cameron sebelumnya menjanjikan jika partainya menang di pemilu parlemen, maka referendum untuk menentukan keanggotaan Inggris di Uni Eropa bakal digelar tahun 2017. Meski janji ini memuaskan kubu garis keras di Partai Konservatif, namun masih menyimpan keraguan besar terkait masa depan Inggris di Uni Eropa.

Berbagai jajak pendapat yang digelar terkait pandangan rakyat Inggris terhadap Uni Eropa menunjukkan bahwa lebih dari separuh rakyat negara ini menginginkan London keluar dari organisasi ini. Poin penting di jajak pendapat ini adalah bertambahnya kubu anti Uni Eropa di antara anggota dan pendukung tiga partai utama Inggris, di mana 68 persen dari kubu Konservatif, 44 persen pendukung Partai Buruh dan 39 persen dari kubu Liberal Demokrat menolak keberlanjutan keanggotaan Inggris di Uni Eropa.

Inggris tengah dilanda aksi pelarian dari pusat terkait Uni Eropa dan banyak menentang keputusan ekonomi yang diambil organisasi ini guna menyelesaikan krisis ekonomi. Dengan ditandatanganinya perjanjian Maastricht yang berujung pada berdirinya Uni Eropa, Inggris pun masuk menjadi anggota organisasi ini. Namun setelah tujuh tahun, London masih enggan bergabung dengan mata uang bersama euro. Selain itu, Inggris juga menolak bergabung dengan perjanjian Schengen yang memungkinkan kunjungan bebas warga Eropa ke negara sesama anggota.

Isu keanggotaan Inggris di Uni Eropa dan peran yang harus dimainkan London senantiasa menjadi kendala utama organisasi ini dan menjadi isu politik di dalam negeri Inggris. Adapun di antara kubu politik Inggris, Partai Konservatif paling getol berusaha mengeluarkan negara ini dari keanggotaan Uni Eropa. Mayoritas anggota parlemen dari kubu Konservatif meyakini Inggris terlebih dahulu mengubah kondisi keanggotaannya di Uni Eropa sebelum digelarnya referendum serta mengambil kembali kewenangan yang telah diberikan kepada organisasi ini.

Mengingat kondisi mengenaskan perekonomian Uni Eropa,sayap kanan Partai Konservatif Inggris yang menolak keras keberlanjutan keanggotaan negara ini di Uni Eropa berusaha memaksa Cameron menggelar referendum untuk menentukan masa depan Inggris di Uni Eropa.

Sementara itu, David Cameron yang senantiasa mendapat tekanan dari sekutunya untuk mengubah hubungan London dengan Uni Eropa menekankan dirinya bukannya menolak referendum untuk menentukan keanggotaan negara ini di organisasi Eropa, namun ia menegaskan rakyat Inggris harus memiliki kesabaran strategi.

Inggris tercatat sebagai kekuatan ekonomi besar dunia keenam dan Cameron berjanji jika partainya menang di pemilu 2015 mendatang akan menggelar referendum terkait keanggotaan Inggris di Uni Eropa pada tahun 2017.

Meski demikian, mengingat pemerintahan koalisi Inggris yang terdiri dari Partai Konservatif dan Liberal Demokrat mayoritas anggotanya setuju dilanjutkannya keanggotaan London di Uni Eropa, maka upaya referendum ini sepertinya sulit dilakukan hingga pemilu parlemen selanjutnya yakni tahun 2015. (TGR/IRIB Indonesia)




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Mencari Solusi Damai Korea Selatan-Korea Utara Diilhami oleh Dasa Sila Bandung 1955
Faktor pemantik ketegangan antara Korea Utara versus Korea Selatan yang menyeret campur-tangan Amerika Serikat adalah tenggelamnya kapal perang Cheonan milik Korea Selatan. Begitupun, insiden tersebut hanya ...

Presiden Jokowi Perlu Menyadari Betapa Berbahayanya Indonesia Bergabung Dalam Perjanjian Trans-Pacific Partnership (TPP)

Simpul-Simpul Pemikiran dan Gagasan Penting dari Seminar Bertema “Dialog Kemitraan ASEAN, Momentum Bangun Strategi Keseimbangan di Asia Tenggara.

Datanglah Ke Rusia Sebagai Pemimpin ASEAN dan Kawan Lama Rusia

Geopolitik dan Peta Kekuatan di Kawasan

Meskipun Tidak Sebanyak Cina dan Jepang, Investasi Rusia di Indonesia dan ASEAN Sudah Cukup Besar

Lihat lainya »
   Arsip
Upaya Kudeta Gagal, Turki Dilanda Gelombang Penangkapan Tentara

Tim Pengamat Indonesia IMT-5 Konga XXXIV-E Tiba di Manila

Militer Indonesia dan Filipina Lakukan Pertemuan

Dari Musyawarah ke Bitingan

Indonesia Mampu Menangkal Serangan ISIS

Indonesia Bangga Pada Masyarakat Adat Tabi/Mamta Papua

Menuntut Papua Menjadi Anggota Melanesian Spearhead Group (MSG), untuk Apa dan Siapa?

Kebijakan Amerika Serikat dan Teror Orlando

Mencari Solusi Damai Korea Selatan-Korea Utara Diilhami oleh Dasa Sila Bandung 1955

Standar Ganda Kebijakan HAM AS di Pelbagai Belahan Dunia, Selayang Pandang

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
ISLAM SANGAT MENGHARGAI PLURALISME

------------------------------------------------------------

Judul Buku : Pluralitas Dalam Masyarakat Islam

Judul Asli : At Ta’addudiyah Fi Mujtama’ Islamiy

Penulis : Gamal Al Banna

Pengantar : Prof. DR. Azyumardi Azra, MA

Tebal Buku : 93 halaman termasuk biodata tentang penulis

Peresensi : Otjih Sewandarijatun

------------------------------------------------------------

Lihat Lainnya »