» Tujuan-Tujuan Utama Kebijakan Luar Negeri AS (Bag I) » Dunia Tiga Sisi » Pemerintah Jokowi-JK Harus Segera Cabut UU No 7/2004 Tentang Sumber Daya Air » Amerika Serikat Dukung Bangkitnya Kembali Kekuatan Militer Jepang » Menyorot Politik HAM Belanda di Indonesia


Eropa
08-10-2013
uni eropa
Inggris dan Rencana Keluar dari Uni Eropa

Inggris yang sampai saat ini tidak bersedia menggunakan mata uang Euro, pernah terlibat friksi dengan Uni Eropa terkait kebijakan ekonomi. Masalah ini kian memperkuat referendum terkait rencana London keluar dari organisasi ini.


Salah satu anggota partai berkuasa Inggris hari Ahad (6/10) menutut percepatan referendum untuk menentukan apakah Inggris harus keluar dari Uni Eropa atau tidak. Adam Afriyie, anggota senior majelis rendah Inggris dari Partai Konservatif mengatakan dirinya akan berusaha menarik simpati kesepakatan anggota parlemen untuk menggelar referendum masa depan negara ini di Uni Eropa pada tahun 2014.

Adam Afriyie seraya menjelaskan bahwa penyelenggaraan referendum dini dalam masalah ini menguntungkan Inggris, menambahkan, rakyat tidak percaya dengan janji Perdana Menteri David Cameron untuk menggelar referendum pada tahun 2017.

Cameron sebelumnya menjanjikan jika partainya menang di pemilu parlemen, maka referendum untuk menentukan keanggotaan Inggris di Uni Eropa bakal digelar tahun 2017. Meski janji ini memuaskan kubu garis keras di Partai Konservatif, namun masih menyimpan keraguan besar terkait masa depan Inggris di Uni Eropa.

Berbagai jajak pendapat yang digelar terkait pandangan rakyat Inggris terhadap Uni Eropa menunjukkan bahwa lebih dari separuh rakyat negara ini menginginkan London keluar dari organisasi ini. Poin penting di jajak pendapat ini adalah bertambahnya kubu anti Uni Eropa di antara anggota dan pendukung tiga partai utama Inggris, di mana 68 persen dari kubu Konservatif, 44 persen pendukung Partai Buruh dan 39 persen dari kubu Liberal Demokrat menolak keberlanjutan keanggotaan Inggris di Uni Eropa.

Inggris tengah dilanda aksi pelarian dari pusat terkait Uni Eropa dan banyak menentang keputusan ekonomi yang diambil organisasi ini guna menyelesaikan krisis ekonomi. Dengan ditandatanganinya perjanjian Maastricht yang berujung pada berdirinya Uni Eropa, Inggris pun masuk menjadi anggota organisasi ini. Namun setelah tujuh tahun, London masih enggan bergabung dengan mata uang bersama euro. Selain itu, Inggris juga menolak bergabung dengan perjanjian Schengen yang memungkinkan kunjungan bebas warga Eropa ke negara sesama anggota.

Isu keanggotaan Inggris di Uni Eropa dan peran yang harus dimainkan London senantiasa menjadi kendala utama organisasi ini dan menjadi isu politik di dalam negeri Inggris. Adapun di antara kubu politik Inggris, Partai Konservatif paling getol berusaha mengeluarkan negara ini dari keanggotaan Uni Eropa. Mayoritas anggota parlemen dari kubu Konservatif meyakini Inggris terlebih dahulu mengubah kondisi keanggotaannya di Uni Eropa sebelum digelarnya referendum serta mengambil kembali kewenangan yang telah diberikan kepada organisasi ini.

Mengingat kondisi mengenaskan perekonomian Uni Eropa,sayap kanan Partai Konservatif Inggris yang menolak keras keberlanjutan keanggotaan negara ini di Uni Eropa berusaha memaksa Cameron menggelar referendum untuk menentukan masa depan Inggris di Uni Eropa.

Sementara itu, David Cameron yang senantiasa mendapat tekanan dari sekutunya untuk mengubah hubungan London dengan Uni Eropa menekankan dirinya bukannya menolak referendum untuk menentukan keanggotaan negara ini di organisasi Eropa, namun ia menegaskan rakyat Inggris harus memiliki kesabaran strategi.

Inggris tercatat sebagai kekuatan ekonomi besar dunia keenam dan Cameron berjanji jika partainya menang di pemilu 2015 mendatang akan menggelar referendum terkait keanggotaan Inggris di Uni Eropa pada tahun 2017.

Meski demikian, mengingat pemerintahan koalisi Inggris yang terdiri dari Partai Konservatif dan Liberal Demokrat mayoritas anggotanya setuju dilanjutkannya keanggotaan London di Uni Eropa, maka upaya referendum ini sepertinya sulit dilakukan hingga pemilu parlemen selanjutnya yakni tahun 2015. (TGR/IRIB Indonesia)




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Mengingatkan Kembali Tiga Kejahatan Perang Jepang di Indonesia
Kejahatan perang tentara Jepang di Indonesia antara 1942-1945 merupakan sejarah hitam  yang tidak boleh kita lupakan. Adanya kebijakan pemerintahan fasisme Jepang di Indonesia yang secara sistematis ...

SURAT TERBUKA KEPADA PRESIDEN JOKOWI DAN IBU MEGAWATI SUKARNOPUTRI

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Lihat lainya »
   Arsip
Diskriminasi Terhadap Muslim Rohingya

Jepang Ikut Latihan Militer Bikin Cemas Banyak Pihak

Tujuan-Tujuan Utama Kebijakan Luar Negeri AS (Bag I)

Cina Peringatkan Perang dengan AS di Laut Cina Selatan

Jepang Hapus Nama Israel dari Buku Panduan Pariwisata

Amerika Serikat Tidak Berbuat Apa Pun Untuk Selamatkan Ramadi

Diancam Cina, Pesawat Filipina Tetap Terbang di Wilayah Sengketa

Melintas di atas Laut Cina Selatan, Cina Protes AS

Skisma Politik Budi Utomo versus Sarikat Islam, Penyebab Kebuntuan Politik Nasional?

Laporan Pentagon Tegaskan Peran AS Dirikan ISIS

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Bagaimana Membaca Novel Foucault's Pendulum?

Pendahuluan
Novel Foucault’s Pendulum karya Umberto Eco edisi bahasa Indonesia telah diterbitkan pada November 2010. Karya aslinya dalam bahasa Italia, Il Pendolo di Foucault, terbit pertama kali pada 1988. Setahun kemudian baru diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Foucault’s Pendulum. Nama Foucault pada judul itu mengingatkan pada tokoh filsafat kontemporer, Michel Foucault. Tokoh yang relatif dikenal dalam kajian humaniora. Padahal nama Foucault pada judul novel Eco adalah nama penemu pendulum yang tidak lain adalah Leon Foucault.

Lihat Lainnya »