» Gubernur Ditunjuk oleh Presiden (4) » Media Mainstream Asing Dukung Capres Jokowi pada Pilpres 2014 » Korupsi di Indonesia Diciptakan oleh Sistem (3) » Checks and Balances dan Cermin Diri (2) » Pokok-Pokok Kegelisahan SBY (1)


Eropa
08-10-2013
uni eropa
Inggris dan Rencana Keluar dari Uni Eropa

Inggris yang sampai saat ini tidak bersedia menggunakan mata uang Euro, pernah terlibat friksi dengan Uni Eropa terkait kebijakan ekonomi. Masalah ini kian memperkuat referendum terkait rencana London keluar dari organisasi ini.


Salah satu anggota partai berkuasa Inggris hari Ahad (6/10) menutut percepatan referendum untuk menentukan apakah Inggris harus keluar dari Uni Eropa atau tidak. Adam Afriyie, anggota senior majelis rendah Inggris dari Partai Konservatif mengatakan dirinya akan berusaha menarik simpati kesepakatan anggota parlemen untuk menggelar referendum masa depan negara ini di Uni Eropa pada tahun 2014.

Adam Afriyie seraya menjelaskan bahwa penyelenggaraan referendum dini dalam masalah ini menguntungkan Inggris, menambahkan, rakyat tidak percaya dengan janji Perdana Menteri David Cameron untuk menggelar referendum pada tahun 2017.

Cameron sebelumnya menjanjikan jika partainya menang di pemilu parlemen, maka referendum untuk menentukan keanggotaan Inggris di Uni Eropa bakal digelar tahun 2017. Meski janji ini memuaskan kubu garis keras di Partai Konservatif, namun masih menyimpan keraguan besar terkait masa depan Inggris di Uni Eropa.

Berbagai jajak pendapat yang digelar terkait pandangan rakyat Inggris terhadap Uni Eropa menunjukkan bahwa lebih dari separuh rakyat negara ini menginginkan London keluar dari organisasi ini. Poin penting di jajak pendapat ini adalah bertambahnya kubu anti Uni Eropa di antara anggota dan pendukung tiga partai utama Inggris, di mana 68 persen dari kubu Konservatif, 44 persen pendukung Partai Buruh dan 39 persen dari kubu Liberal Demokrat menolak keberlanjutan keanggotaan Inggris di Uni Eropa.

Inggris tengah dilanda aksi pelarian dari pusat terkait Uni Eropa dan banyak menentang keputusan ekonomi yang diambil organisasi ini guna menyelesaikan krisis ekonomi. Dengan ditandatanganinya perjanjian Maastricht yang berujung pada berdirinya Uni Eropa, Inggris pun masuk menjadi anggota organisasi ini. Namun setelah tujuh tahun, London masih enggan bergabung dengan mata uang bersama euro. Selain itu, Inggris juga menolak bergabung dengan perjanjian Schengen yang memungkinkan kunjungan bebas warga Eropa ke negara sesama anggota.

Isu keanggotaan Inggris di Uni Eropa dan peran yang harus dimainkan London senantiasa menjadi kendala utama organisasi ini dan menjadi isu politik di dalam negeri Inggris. Adapun di antara kubu politik Inggris, Partai Konservatif paling getol berusaha mengeluarkan negara ini dari keanggotaan Uni Eropa. Mayoritas anggota parlemen dari kubu Konservatif meyakini Inggris terlebih dahulu mengubah kondisi keanggotaannya di Uni Eropa sebelum digelarnya referendum serta mengambil kembali kewenangan yang telah diberikan kepada organisasi ini.

Mengingat kondisi mengenaskan perekonomian Uni Eropa,sayap kanan Partai Konservatif Inggris yang menolak keras keberlanjutan keanggotaan negara ini di Uni Eropa berusaha memaksa Cameron menggelar referendum untuk menentukan masa depan Inggris di Uni Eropa.

Sementara itu, David Cameron yang senantiasa mendapat tekanan dari sekutunya untuk mengubah hubungan London dengan Uni Eropa menekankan dirinya bukannya menolak referendum untuk menentukan keanggotaan negara ini di organisasi Eropa, namun ia menegaskan rakyat Inggris harus memiliki kesabaran strategi.

Inggris tercatat sebagai kekuatan ekonomi besar dunia keenam dan Cameron berjanji jika partainya menang di pemilu 2015 mendatang akan menggelar referendum terkait keanggotaan Inggris di Uni Eropa pada tahun 2017.

Meski demikian, mengingat pemerintahan koalisi Inggris yang terdiri dari Partai Konservatif dan Liberal Demokrat mayoritas anggotanya setuju dilanjutkannya keanggotaan London di Uni Eropa, maka upaya referendum ini sepertinya sulit dilakukan hingga pemilu parlemen selanjutnya yakni tahun 2015. (TGR/IRIB Indonesia)




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Media Mainstream Nasional Pendukung Capres pada Pilpres 2014
Pada Pilpres 2014 kali ini, hampir semua media arus utama (mainstream), melancarakan opini publik untuk pemenangan capres yang didukungnya. Mereka telah berubah menjadi partisan karena menjadi ...

Reputasi Buruk Drone UAV Sebagai Mesin Pembunuh

Membaca Ulang Perang Asimetris di Indonesia Melalui Isu: Indosat, WTO dan Laut China Selatan

Presiden Baru untuk Daulat Pertanian, Perkebunan dan Pangan

PP No 01/2014 Pintu Masuk SBY Beri Monopoli dan Hak Istimewa Kepada Freeport dan Newmont

Skenario di Atas Skenario

Lihat lainya »
   Arsip
Google Umumkan Rencana Dirikan Kampus di Seoul

Media Mainstream Asing Dukung Capres Jokowi pada Pilpres 2014

Waspadai Skema Zona Ekonomi Khusus Cina di Indonesia

Militer Israel Tangkap Lebih dari 2.000 Warga Palestina

Panglima TNI Beri Pembekalan Anggota DPR RI Periode 2014-2019

Terkait Krisis Ukraina, AS dan Rusia Lakukan Pembicaraan Rahasia

Presiden SBY Pastikan Timor Leste Masuk ASEAN

Membaca Hasil Pertemuan Tim Transisi dan Jusuf Kalla

Media Mainstream Nasional Pendukung Capres pada Pilpres 2014

PBB Harap Gencatan Senjata Gaza Membuahkan Perdamaian

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Belum Ada Manfaatnya Obama Bagi Islam dan Kepentingan Indonesia

Judul : Obama, Islam dan Gaza
Penulis : Wawan H Purwanto
Penerbit : CMB Press
Tebal buku : 216 halaman termasuk biodata penulis
Peresensi : Muhammad Mubdi Kautsar

Lihat Lainnya »