» ISIS, “Bidak Catur” Pengganti Resolusi PBB! (3/Habis) » Libya dan Syria Dikoyak Perang Hibrida (2) » ISIS dalam Perspektif Perang Hibrida (1) » Kolaborasi Mafia Berkeley-Mafia Migas Lumpuhkan Daulat Sektor Migas Indonesia » Timur Tengah dan Kejahatan Industri Pertanian


Politik
07-02-2010
Rencana Kunjungan Obama Ke Indonesia
Doktrin Pasifik Tetap Jadi Panduan Politik Luar Negeri Obama di Indonesia
Penulis : Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI)

Pertengahan Maret mendatang, rencananya Presiden Barrack Obama akan berkunjung ke Indonesia. Salah satu isu strategis yang akan dibahas dan disepakati adalah, menyepakati kemitraan strategis Amerika-Indonesia sebagai pilar hubungan bilateral kedua negara di masa depan.


Pertanyaan yang tetap menggangu hingga sekarang, siapa akan lebih diuntungkan dengan terbangunnya kemitraan strategis kedua negara? Muncul kekhawatiran, Amerika Serikat-lah yang lebih banyak meraup keuntungan dibandingkan Indonesia dalam perjanjian kemitraan strategis Indonesia-Amerika.

Sejak perang dingin, Amerika memiliki kepentingan strategis untuk tetap mempertahankan stabilitas dan keamanan kawasan Asia Tenggara. Ini berarti, Amerika harus tetap menjamin bahwa ikatan persekutuannya dengan beberapa negara ASEAN termasuk Indonesia, harus tetap dijalin dan dipertahankan, apapun yang terjadi dan dengan melalui berbagai cara.

Kesombonngan Amerika dengan jelas tersurat melalui pidato Presiden Gerald Ford dalam pidatonya pada 1975:

Amerika Serikat, sebuah negara di Samudra Pasifik, mempunyai satu kepentingan yang sangat vital di Asia dan suatu tanggung jawab untuk mengambil bagian utama dalam menurunkan ketegangan, mencegah permusuhan, dan menjaga perdamaian. Stabilitas dunia dan keamanan kami sendiri bergantung pada komitmen kami di Asia.

Apakah doktrin Ford ini sudah tidak lagi menjadi panduan politik luar negeri Amerika di kawasan Asia Tenggara? Saya kira tidak. Baik di era Jimmy Carter, Ronald Reagan, George Herbert Bush, Bill Clinton, George W, Bush, dan bahkan Presiden saat ini Barrack Obama, pernyataan Ford tersebut di atas saya kira tetap menjadi panduan dan tuntunan bagi doktrin politik luar negeri dan keamanan nasional pemerintahan Amerka Serikat di kawasan Asia Tenggara.

Inilah salah satu aspek yang kiranya harus menjadi dasar bagi Indonesia maupun ASEAN dalam berhadapan dengan Presiden Barrack Obama. Mengapa? Karena pidato Ford tersebut merupakan doktrin Pasifik Amerika yang tetap diberlakukan meskipun perang dingin Amerika versus Uni Soviet sudah berakhir.

Implikasi dari tetap dipertahankannya doktrin pasifik Amerika, bahkan di era kepresidenan Obama saat ini, maka campaur-tangan Amerika di kawasan Asia Tenggara akan selalu terjadi dengan segala bentuk dan manifestasinya.

Di balik doktrin pasifik Amerika, terkandung beberapa agenda strategis Amerika di kawasan Asia Tenggara. Dan inilah yang seharusnya disadari pemerintah Indonesia ketika pertengahan Maret mendatang akan berkunjung ke Indonesia.

Setidaknya ada empat agenda strategis Amerika di Asia Tenggara akan bisa dipastikan akan mendasari program dan strategi kemitraan Indonesia-Amerika di masa depan. Yaitu:

  1. Mencegah dikuasainya kawasan Asia Pasifik, baik secara politik maupun militer, oleh negara atau kelompok negara tertentu.
  2. Memelihara akses ekonomi dan politik Amerika untuk memperoleh sumberdaya, pasar, dan jalur lalu-lintas di kawasan tersebut, memperkuat daua saing di Pasifik dan mempertahankan peranan sebagai aktor ekonomi utama.
  3. Membantu menjaga keamanan sekutu dan sahabat-sahabat Amerika di kawasan.
  4. Mendorong berkembangnya institusi-institusi demokrasi, pemilihan umum yang bebas, penentuan nasib sendiri, kemerdekaan politik di seluruh kawasan Asia Pasifik, semuanya berdasarkan atas prinsip-prinsip kemanusiaan, tradisi politik Amerka, dan kepentingan Amerika akan dunia yang lebih aman.

 
Menyadari betapa doktrin Pasifik masih tetap dipertahankan Amerika, maka keempat agenda strategis Amerika tersebut pada perkembangannya sekaligus menjadi strategi politik luar negeri Amerika di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Itulah sebabnya pemerintah Indonesia tidak boleh lengah dan terpedaya sehingga perjanjian kemitraan strategis Amerika-Indonesia justru akan menjadi alat Amerika untuk menjerat Indonesia sebagai sekutu sekaligus negara satelit utamanya di Asia Tenggara.

Amerika dan Obama pasti sadar, bahwa tanpa Indonesia, ASEAN tidak akan efektif sebagai sekutu maupun satelit  Amerika. Filipina dan Thailand, bukan negara yang sebesar Indonesia baik secara geografis, demografis maupun kultural.

Latihan militer berskala multi-nasional sejak senin 1 Februari lalu di Thailand, merupakan isyarat jelas betapa pentingnya Asia Tenggara bagi strategi militer Amerika. Betapa tidak. Dua negara adidaya baru Asia di bidang ekonomi yaitu Jepang dan Korea Selatan, telah dilibatkan dalam latihan militer terbesar di Asia Pasifik dalam setahun terakhir ini.

Suatu bukti nyata bahwa Amerika sedang melancarkan psychological warfare terhadap Republik Rakyat Cina, pesaing utamanya di Asia Pasifik dewasa ini. Karena Jepang dan Korea Selatan, secara historis merupakan dua musuh bebuyutannya sejak sebelum dan sesudah perang dunia kedua.

Amerika memang paranoid di Asia Tenggara. Bagi Amerika, negara-negara berkembang di kawasan ini adalah domino yang setiap saat dapat jatuh ke tangan-tangan negara-negara yang tidak bersahabat dengan Amerika. Pada perang dingin, ancaman komunisme dan sekarang tetap menghembus-hembuskan ancaman dari kalangan Islam radikal seperti Al-Qaeda dan Jamaah Islamiyah. Sehingga muncul frase, Asia Tenggara sebagai front kedua gerakan radikal Islam yang sebelumnya sudah menguasai Asia Selatan-Tengah.

Karena itu, kunjungan Obama ke Indonesia Maret mendatang, harus disambut secara proporsional dan tidak berlebihan, hanya gara-gara dia pernah tinggal dan sekolah di Indonesia. Bagaimanapun juga, Obama tetap mengusung agenda-agenda strategis yang dipandu oleh Doktrin Pasifik yang pernah dikumandangkan oleh Presiden Gerald Ford pada 1975 lalu.







 





Artikel Terkait
» Mewaspadai Gelombang Pengungsi Afghanistan Korban Taliban
» Meninggalnya Irving Kristol, Kehilangan Besar Bagi Kaum Neo-Konservatif Amerika
» GLOBAL FUTURE INSTITUTE MENDESAK MENKO POLKAM WASPADAI OPERASI TERSELUBUNG CIA PERLUAS PENGEDARAN NARKOBA KE INDONESIA DAN ASIA TENGGARA
» USAID: Instrumen Terselubung Politik Luar Negeri Amerika Kendalikan Indonesia-Bagian Terakhir
» USAID: Instrumen Terselubung Politik Luar Negeri Amerika Serikat Kendalikan Indonesia-Bagian I
» Red Drive Proposal, Awal Mula Campur Tangan Amerika Serikat di Indonesia
» Politik dan Ekonomi Dalam Pandangan Para Pembaca The Global Review.Com
» Global Future Institute Dukung Aliansi Ambalat Untuk Bentuk Kementrian Perbatasan
» Rencana Strategis Amerika Serikat Untuk Menguasai Indonesia (Rekomendasi Militer AS Untuk Indonesia)



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Presiden Terpilih Jokowi Harus Jelaskan Apa Pentingnya Penggunaan Drone Bagi Pertahanan Nasional RI
Pesawat udara nirawak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV), yang saat ini lebih populer dengan sebutan Drone, memang identik dengan kedigdayaan Angkatan Udara Amerika Serikat (AS). Pada ...

Media Mainstream Nasional Pendukung Capres pada Pilpres 2014

Reputasi Buruk Drone UAV Sebagai Mesin Pembunuh

Membaca Ulang Perang Asimetris di Indonesia Melalui Isu: Indosat, WTO dan Laut China Selatan

Presiden Baru untuk Daulat Pertanian, Perkebunan dan Pangan

PP No 01/2014 Pintu Masuk SBY Beri Monopoli dan Hak Istimewa Kepada Freeport dan Newmont

Lihat lainya »
   Arsip
Militer AS akan perluas misi Ebola di Liberia

Aksi Demonstrasi di Hong Kong Terus Berlanjut

KSAD Kumpulkan Aktivis BEM di Markas Kopassus, Ingatkan Intervensi Asing

Membubarkan Petral, Berarti “Pintu Masuk” Kembalinya Skema ISC Ari Soemarno

Setelah Skotlandia, Katalan akan Gelar Referendum

Tekan RI, Malaysia Bebaskan Bea Ekspor CPO Hingga Akhir 2014

Kontroversi Tentang Pilkada

Libya dan Syria Dikoyak Perang Hibrida (2)

Inggris Kirim Dua Jet Tempur Tornado untuk Gempur ISIS

Abbas: Israel Lakukan Kejahatan Genosida di Gaza

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Belum Ada Manfaatnya Obama Bagi Islam dan Kepentingan Indonesia

Judul : Obama, Islam dan Gaza
Penulis : Wawan H Purwanto
Penerbit : CMB Press
Tebal buku : 216 halaman termasuk biodata penulis
Peresensi : Muhammad Mubdi Kautsar

Lihat Lainnya »