» Gerakan Anti Korupsi: Modus Baru Kolonialisme (Kisah dari Rumania, Thailand, Venezuela dan Indonesia) » Menebar Gelora Antipenjajahan! » Membaca Bung Karno Lewat Prinsip Dasa Sila Bandung » KAA Bandung 1955 di Bawah Bayang-Bayang Politik Global AS » SERUAN GLOBAL FUTURE INSTITUTE KEPADA PARA PESERTA KAA BANDUNG KE-60 19 April-24 April 2015


Artikel Pilihan
30-07-2013
Perkembangan Krisis di Mesir
Dukungan Mesir Untuk Kemerdekaan Indonesia Juni 1947 bukan Monopoli Ikhwanul Muslimin
Penulis : Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute
Kadang saya tidak habis pikir. Mengungkit masa lalu ketika Mesir mendukung kemerdekaan Indonesia kok disempitkan ke dukungan Ikhwanul Muslimin (IM) dan pemimpinnya Hasan al Banna. 

Secara kontekstual, dukungan Mesir ketika itu ya dukungan dari segenap 84 juta rakyat Mesir (Jumlah penduduk Mesir saat ini) yang juga dapat restu dari Raja Faruk. Bukan sekadar dari 500 ribu warga Ihwanul Muslimin (jumlah warga IM saat ini). 
 
Kalau benar dukungan Mesir untuk kemerdekaan Indonesia kala itu hanya sekadar urusan dukungan IM untuk kemerdekaan Indonesia, rasanya tidak mungkin Abdul Mun'im (diplomat Mesir) berusia 47 tahun kala itu, datang bertaruh nyawa -menyelinap- menembus blokade Belanda, menyewa pesawat dari Singapura ke Yogyakarta bertemu Soekarno, Sri Sultan, untuk shalat Jumat bersama. Dan menyerahkan surat pengakuan kemerdekaan Indonesia dari Kerajaan Mesir yang kala itu masih dpegang Raja Faruk.
 
Pada Juni 1947 delegasi Indonesia yang terdiri dari Haji Agus Salim, AS Baswedan, Mr Nazir dan Profesor Dr Rasyidi, memang berkunjung ke Mesir untuk meminta dukungan dari Pemerintah kerajaan Mesir yang ketika itu masih di tangan Raja Faruk. 
 
Sebagaimana penuturan dan kesaksian AR Baswedan, mereka berada di Mesir 3 bulan lamanya dan bernegosiasi dengan berbagai kalangan pejabat pemerintahan Mesir. Sehingga akhirnya Raja Faruk berhasil diyakinkan, dan memberikan pengakuan kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia sebagai sebuah negara. Bahkan bukan itu saja, Raja Faruk pun mendorong Liga Arab untuk mengakui kedaulatan Indonesia. 
 
Pada 10 Juni 1947, secara de jure Mesir memberikan pengakuan kedaulatan Indonesia melalui penandatanganan perjanjian persahabatan Indonesia-Mesir. Yang sekaligus menjadi momentum bagi Indonesia untuk mulai mencul di arena internasional. Dan mendapat pengakuan de jure dari dunia internasional. 
 
Memang di Mesir ini pula, tonggak-tonggak sejarah diplomasi RI mulai berkumandang di dunia internasional. Namun ini adalah jasa seluruh bangsa dan rakyat Mesir. Bukan sekadar jasa satu atau dua kelompok saja. 
 
Fakta bahwa IM dan Hassan al Banna memang ikut mendukung pengakuan kemerdekaan RI itu pun kenyataan yang tak terbantahkan, namun menyempitkan dukungan Mesir kepada Indonesia pada masa kemerdekaan semata sebagai dukungan tunggal dari IM, saya pikir itu adalah satu hal yang naïf dan tidak masuk akal.


Artikel Terkait
» Tampilnya Hazem Al Bablawi, Konsolidasi Politik Militer Berhasil
» Membaca Abdul Fattah al Sisi, Presiden de fakto Mesir



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Dalam Bayang-Bayang Politik Global AS
Situasi internasional pada 1954-1955, kala Indonesia mulai menggagas sebuah pertemuan akbar bangsa-bangsa Asia-Afrika yang kelak kita kenal sebagai Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 18-24 April 1955, ...

SERUAN GLOBAL FUTURE INSTITUTE KEPADA PARA PESERTA KAA BANDUNG KE-60 19 April-24 April 2015

Peran Strategis Indonesia di Balik Terselenggaranya Konferensi Asia-Afrika

Pernyataan Profesor Alan Robock Perkuat Dugaan Adanya Teknologi Rekayasa Cuaca Rancangan AS

AS dan Skema TPP Bendung Pengaruh Cina dan Rusia di Asia Pasifik

Bung Karno dan “Garis Hidup Asia-Afrika”

Lihat lainya »
   Arsip
Pentingnya IT Sebagai Salah Satu Urat Nadi bagi NKRI

Perangi Milisi Houthi, Arab Saudi Serang Yaman

Atasi Krisis di Jalur Gaza, Palestina Bentuk Komite

Ratusan Jurnalis Dalam dan Luar Negeri Akan Liput Peringatan KAA

Ini alasan China rebutan Natuna dengan Indonesia

Manuver Geopolitik Teranyar Cina atas Natuna, Ini Sikap Jokowi

Sekolah Ala Tan Malaka

Komandan Sektor Barat Tinjau Pasukan Indonesia di Darfur

Laksamana AS: Korsel Harus Putuskan Terkait Sistem Rudal THAAD

Tak Ada Pengurangan Pasukan AS di Afghanistan selama 2015

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Bagaimana Membaca Novel Foucault's Pendulum?

Pendahuluan
Novel Foucault’s Pendulum karya Umberto Eco edisi bahasa Indonesia telah diterbitkan pada November 2010. Karya aslinya dalam bahasa Italia, Il Pendolo di Foucault, terbit pertama kali pada 1988. Setahun kemudian baru diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Foucault’s Pendulum. Nama Foucault pada judul itu mengingatkan pada tokoh filsafat kontemporer, Michel Foucault. Tokoh yang relatif dikenal dalam kajian humaniora. Padahal nama Foucault pada judul novel Eco adalah nama penemu pendulum yang tidak lain adalah Leon Foucault.

Lihat Lainnya »