» ISIS: Alat Yahudi Menggapai Israel Raya! » Konflik Ukraina: Perang Dolar Versus Euro? (3/Habis) » Perang Mata Uang (2) » Memotret Motif Lain Konflik Ukraina (Bagian Pertama) » Prabowo-Hatta Jungkir-Balikkan Logika Skenario Revolusi Oranye Ukraina


Artikel Pilihan
30-07-2013
Perkembangan Krisis di Mesir
Dukungan Mesir Untuk Kemerdekaan Indonesia Juni 1947 bukan Monopoli Ikhwanul Muslimin
Penulis : Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute
Kadang saya tidak habis pikir. Mengungkit masa lalu ketika Mesir mendukung kemerdekaan Indonesia kok disempitkan ke dukungan Ikhwanul Muslimin (IM) dan pemimpinnya Hasan al Banna. 

Secara kontekstual, dukungan Mesir ketika itu ya dukungan dari segenap 84 juta rakyat Mesir (Jumlah penduduk Mesir saat ini) yang juga dapat restu dari Raja Faruk. Bukan sekadar dari 500 ribu warga Ihwanul Muslimin (jumlah warga IM saat ini). 
 
Kalau benar dukungan Mesir untuk kemerdekaan Indonesia kala itu hanya sekadar urusan dukungan IM untuk kemerdekaan Indonesia, rasanya tidak mungkin Abdul Mun'im (diplomat Mesir) berusia 47 tahun kala itu, datang bertaruh nyawa -menyelinap- menembus blokade Belanda, menyewa pesawat dari Singapura ke Yogyakarta bertemu Soekarno, Sri Sultan, untuk shalat Jumat bersama. Dan menyerahkan surat pengakuan kemerdekaan Indonesia dari Kerajaan Mesir yang kala itu masih dpegang Raja Faruk.
 
Pada Juni 1947 delegasi Indonesia yang terdiri dari Haji Agus Salim, AS Baswedan, Mr Nazir dan Profesor Dr Rasyidi, memang berkunjung ke Mesir untuk meminta dukungan dari Pemerintah kerajaan Mesir yang ketika itu masih di tangan Raja Faruk. 
 
Sebagaimana penuturan dan kesaksian AR Baswedan, mereka berada di Mesir 3 bulan lamanya dan bernegosiasi dengan berbagai kalangan pejabat pemerintahan Mesir. Sehingga akhirnya Raja Faruk berhasil diyakinkan, dan memberikan pengakuan kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia sebagai sebuah negara. Bahkan bukan itu saja, Raja Faruk pun mendorong Liga Arab untuk mengakui kedaulatan Indonesia. 
 
Pada 10 Juni 1947, secara de jure Mesir memberikan pengakuan kedaulatan Indonesia melalui penandatanganan perjanjian persahabatan Indonesia-Mesir. Yang sekaligus menjadi momentum bagi Indonesia untuk mulai mencul di arena internasional. Dan mendapat pengakuan de jure dari dunia internasional. 
 
Memang di Mesir ini pula, tonggak-tonggak sejarah diplomasi RI mulai berkumandang di dunia internasional. Namun ini adalah jasa seluruh bangsa dan rakyat Mesir. Bukan sekadar jasa satu atau dua kelompok saja. 
 
Fakta bahwa IM dan Hassan al Banna memang ikut mendukung pengakuan kemerdekaan RI itu pun kenyataan yang tak terbantahkan, namun menyempitkan dukungan Mesir kepada Indonesia pada masa kemerdekaan semata sebagai dukungan tunggal dari IM, saya pikir itu adalah satu hal yang naïf dan tidak masuk akal.


Artikel Terkait
» Tampilnya Hazem Al Bablawi, Konsolidasi Politik Militer Berhasil
» Membaca Abdul Fattah al Sisi, Presiden de fakto Mesir



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Reputasi Buruk Drone UAV Sebagai Mesin Pembunuh
Di tangan Amerika Serikat dan Israel, Drone UAV sebagai pesawat tak berawak, telah berobah fungsi. Yang semula sekadar berfungsi intelijen sebagai pesawat pengintai dan pengawasan, tiba-tiba ...

Membaca Ulang Perang Asimetris di Indonesia Melalui Isu: Indosat, WTO dan Laut China Selatan

Presiden Baru untuk Daulat Pertanian, Perkebunan dan Pangan

PP No 01/2014 Pintu Masuk SBY Beri Monopoli dan Hak Istimewa Kepada Freeport dan Newmont

Skenario di Atas Skenario

Terungkapnya 39 Dokumen Kejahatan Perang Jepang di Cina, Inspirasi bagi Perjuangan Para Advokator Ianfu Indonesia

Lihat lainya »
   Arsip
UNHCR: 415.800 Orang Mengungsi di Ukraina Timur

Partai Sosial Tunjuk Mantan Menteri LH Brasil Menjadi Capres

Agenda Zionis : Menggambar Ulang Peta Timur Tengah

Menteri Jerman: Kelompok ISIS Dibiayai oleh Qatar

Dansatgaspen Sail Raja Ampat Bagikan Buku Bacaan

Liga Arab Tuding Israel Sabotase Perundingan Gencatan Senjata

Izzuddin Qassam Minta Maskapai Asing Hentikan Penerbangan ke Israel

Drone UAV AS: Penebar Maut

Solomon Island Resmi Buka Kantor Kedubes di Jakarta

Skema Korporasi-Korporasi Asing Kuasai Sektor Pertanian Indonesia

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Belum Ada Manfaatnya Obama Bagi Islam dan Kepentingan Indonesia

Judul : Obama, Islam dan Gaza
Penulis : Wawan H Purwanto
Penerbit : CMB Press
Tebal buku : 216 halaman termasuk biodata penulis
Peresensi : Muhammad Mubdi Kautsar

Lihat Lainnya »