» Menelaah Kembali Kepentingan Rusia Bidang Energi di Kawasan Asia Tenggara » Menelisik Sejarah Kebijakan Maritim Rusia (Menyongsong ASEAN-Russia Summit, di Sochi, Rusia, 18-20 Mei 2016) » Asia Tenggara Sebagai Kawasan Bebas Nuklir Sesuai dengan Semangat KAA Bandung 1955 dan ZOPFAN ASEAN » Suriah, Pusaran Pertarungan Global AS-Inggris-Perancis dan Rusia » Ada Usaha Untuk Meruntuhkan Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia dan Netralitas ASEAN


Artikel Pilihan
30-07-2013
Perkembangan Krisis di Mesir
Dukungan Mesir Untuk Kemerdekaan Indonesia Juni 1947 bukan Monopoli Ikhwanul Muslimin
Penulis : Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute
Kadang saya tidak habis pikir. Mengungkit masa lalu ketika Mesir mendukung kemerdekaan Indonesia kok disempitkan ke dukungan Ikhwanul Muslimin (IM) dan pemimpinnya Hasan al Banna. 

Secara kontekstual, dukungan Mesir ketika itu ya dukungan dari segenap 84 juta rakyat Mesir (Jumlah penduduk Mesir saat ini) yang juga dapat restu dari Raja Faruk. Bukan sekadar dari 500 ribu warga Ihwanul Muslimin (jumlah warga IM saat ini). 
 
Kalau benar dukungan Mesir untuk kemerdekaan Indonesia kala itu hanya sekadar urusan dukungan IM untuk kemerdekaan Indonesia, rasanya tidak mungkin Abdul Mun'im (diplomat Mesir) berusia 47 tahun kala itu, datang bertaruh nyawa -menyelinap- menembus blokade Belanda, menyewa pesawat dari Singapura ke Yogyakarta bertemu Soekarno, Sri Sultan, untuk shalat Jumat bersama. Dan menyerahkan surat pengakuan kemerdekaan Indonesia dari Kerajaan Mesir yang kala itu masih dpegang Raja Faruk.
 
Pada Juni 1947 delegasi Indonesia yang terdiri dari Haji Agus Salim, AS Baswedan, Mr Nazir dan Profesor Dr Rasyidi, memang berkunjung ke Mesir untuk meminta dukungan dari Pemerintah kerajaan Mesir yang ketika itu masih di tangan Raja Faruk. 
 
Sebagaimana penuturan dan kesaksian AR Baswedan, mereka berada di Mesir 3 bulan lamanya dan bernegosiasi dengan berbagai kalangan pejabat pemerintahan Mesir. Sehingga akhirnya Raja Faruk berhasil diyakinkan, dan memberikan pengakuan kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia sebagai sebuah negara. Bahkan bukan itu saja, Raja Faruk pun mendorong Liga Arab untuk mengakui kedaulatan Indonesia. 
 
Pada 10 Juni 1947, secara de jure Mesir memberikan pengakuan kedaulatan Indonesia melalui penandatanganan perjanjian persahabatan Indonesia-Mesir. Yang sekaligus menjadi momentum bagi Indonesia untuk mulai mencul di arena internasional. Dan mendapat pengakuan de jure dari dunia internasional. 
 
Memang di Mesir ini pula, tonggak-tonggak sejarah diplomasi RI mulai berkumandang di dunia internasional. Namun ini adalah jasa seluruh bangsa dan rakyat Mesir. Bukan sekadar jasa satu atau dua kelompok saja. 
 
Fakta bahwa IM dan Hassan al Banna memang ikut mendukung pengakuan kemerdekaan RI itu pun kenyataan yang tak terbantahkan, namun menyempitkan dukungan Mesir kepada Indonesia pada masa kemerdekaan semata sebagai dukungan tunggal dari IM, saya pikir itu adalah satu hal yang naïf dan tidak masuk akal.


Artikel Terkait
» Tampilnya Hazem Al Bablawi, Konsolidasi Politik Militer Berhasil
» Membaca Abdul Fattah al Sisi, Presiden de fakto Mesir



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Simpul-Simpul Pemikiran dan Gagasan Penting dari Seminar Bertema “Dialog Kemitraan ASEAN, Momentum Bangun Strategi Keseimbangan di Asia Tenggara.
(Diselenggarakan oleh Global Future Institute (GFI) dan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI), FISIP Universitas Nasional) ...

Datanglah Ke Rusia Sebagai Pemimpin ASEAN dan Kawan Lama Rusia

Geopolitik dan Peta Kekuatan di Kawasan

Meskipun Tidak Sebanyak Cina dan Jepang, Investasi Rusia di Indonesia dan ASEAN Sudah Cukup Besar

Kerjasama ASEAN dengan Mitra Dialog (Amerika Serikat, Cina, Rusia dan Jepang) Merupakan Upaya ASEAN untuk Membangun Strategi Perimbangan Kekuatan di Asia Tenggara

KTT ASEAN-RUSSIA di Sochi Salah Satu Kepentingan Indonesia di ASEAN

Lihat lainya »
   Arsip
Bubarnya Negara Tanpa Kebangsaan, Kasus Austro-Hungaria (1867-1918)

Pernyataan Resmi Dewan Bawang Merah Nasional (DEBNAS) Menolak Rencana Impor Bawang Merah

Di Forum Debat Terbuka DK PBB Indonesia Serukan Bandung Message

Indonesia Lanjutkan Moratorium Pengiriman PRT ke Timur Tengah

Tarmizi A Karim Cukup Visioner Memimpin Aceh

Tarmizi A. Karim dan Harapan Masyarakat Aceh

KNPB dan Pengkhianatan Suara Rakyat Papua

Aksi 31 Mei 2016 Tidak Perlu Didukung

Persenyawaan Hegemoni dan Skenario Kavling-kavling Geo-ekonomi

Presiden Obama Tegaskan Tak Akan Minta Maaf Terkait Bom Atom Hiroshima

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Menggugah Nasionalisme Keindonesiaan Aktivis Papua Saat Ini

Resensi Buku

-------------------------------------------------------------------------

Judul Buku : Kembali ke Indonesia : Langkah, Pemikiran dan Keinginan

Penulis : Nicolaas Jouwe

Cetakan Pertama : Agustus 2013

Kata Pengantar : Drs. Sidarto Danusubroto, SH (Ketua MPR RI)

Penerbit : PT Pustaka Sinar Harapan dan Verbum Publishing

Tebal Buku : 116 halaman termasuk biodata penulis

Peresensi : Otjih Sewandarijatun 

-------------------------------------------------------------------------

Lihat Lainnya »