» Selain AS dan Rusia, Cina dan Jepang Faktor Penting Penyelesaian Multilateral Konflik Korea Selatan versus Korea Utara » Membaca Di Balik Kudeta Militer Turki Jumat Lalu » Standar Ganda Kebijakan HAM AS di Pelbagai Belahan Dunia, Selayang Pandang » Mencari Solusi Damai Korea Selatan-Korea Utara Diilhami oleh Dasa Sila Bandung 1955 » Meneropong “Kebijakan Standar Ganda” Amerika Serikat (Studi Perbandingan Papua-Indonesia dan Ukraina terkait Pelanggaran Hak-Hak Asasi Manusia)


Artikel Pilihan
30-07-2013
Perkembangan Krisis di Mesir
Dukungan Mesir Untuk Kemerdekaan Indonesia Juni 1947 bukan Monopoli Ikhwanul Muslimin
Penulis : Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute
Kadang saya tidak habis pikir. Mengungkit masa lalu ketika Mesir mendukung kemerdekaan Indonesia kok disempitkan ke dukungan Ikhwanul Muslimin (IM) dan pemimpinnya Hasan al Banna. 

Secara kontekstual, dukungan Mesir ketika itu ya dukungan dari segenap 84 juta rakyat Mesir (Jumlah penduduk Mesir saat ini) yang juga dapat restu dari Raja Faruk. Bukan sekadar dari 500 ribu warga Ihwanul Muslimin (jumlah warga IM saat ini). 
 
Kalau benar dukungan Mesir untuk kemerdekaan Indonesia kala itu hanya sekadar urusan dukungan IM untuk kemerdekaan Indonesia, rasanya tidak mungkin Abdul Mun'im (diplomat Mesir) berusia 47 tahun kala itu, datang bertaruh nyawa -menyelinap- menembus blokade Belanda, menyewa pesawat dari Singapura ke Yogyakarta bertemu Soekarno, Sri Sultan, untuk shalat Jumat bersama. Dan menyerahkan surat pengakuan kemerdekaan Indonesia dari Kerajaan Mesir yang kala itu masih dpegang Raja Faruk.
 
Pada Juni 1947 delegasi Indonesia yang terdiri dari Haji Agus Salim, AS Baswedan, Mr Nazir dan Profesor Dr Rasyidi, memang berkunjung ke Mesir untuk meminta dukungan dari Pemerintah kerajaan Mesir yang ketika itu masih di tangan Raja Faruk. 
 
Sebagaimana penuturan dan kesaksian AR Baswedan, mereka berada di Mesir 3 bulan lamanya dan bernegosiasi dengan berbagai kalangan pejabat pemerintahan Mesir. Sehingga akhirnya Raja Faruk berhasil diyakinkan, dan memberikan pengakuan kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia sebagai sebuah negara. Bahkan bukan itu saja, Raja Faruk pun mendorong Liga Arab untuk mengakui kedaulatan Indonesia. 
 
Pada 10 Juni 1947, secara de jure Mesir memberikan pengakuan kedaulatan Indonesia melalui penandatanganan perjanjian persahabatan Indonesia-Mesir. Yang sekaligus menjadi momentum bagi Indonesia untuk mulai mencul di arena internasional. Dan mendapat pengakuan de jure dari dunia internasional. 
 
Memang di Mesir ini pula, tonggak-tonggak sejarah diplomasi RI mulai berkumandang di dunia internasional. Namun ini adalah jasa seluruh bangsa dan rakyat Mesir. Bukan sekadar jasa satu atau dua kelompok saja. 
 
Fakta bahwa IM dan Hassan al Banna memang ikut mendukung pengakuan kemerdekaan RI itu pun kenyataan yang tak terbantahkan, namun menyempitkan dukungan Mesir kepada Indonesia pada masa kemerdekaan semata sebagai dukungan tunggal dari IM, saya pikir itu adalah satu hal yang naïf dan tidak masuk akal.


Artikel Terkait
» Tampilnya Hazem Al Bablawi, Konsolidasi Politik Militer Berhasil
» Membaca Abdul Fattah al Sisi, Presiden de fakto Mesir



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Mencari Solusi Damai Korea Selatan-Korea Utara Diilhami oleh Dasa Sila Bandung 1955
Faktor pemantik ketegangan antara Korea Utara versus Korea Selatan yang menyeret campur-tangan Amerika Serikat adalah tenggelamnya kapal perang Cheonan milik Korea Selatan. Begitupun, insiden tersebut hanya ...

Presiden Jokowi Perlu Menyadari Betapa Berbahayanya Indonesia Bergabung Dalam Perjanjian Trans-Pacific Partnership (TPP)

Simpul-Simpul Pemikiran dan Gagasan Penting dari Seminar Bertema “Dialog Kemitraan ASEAN, Momentum Bangun Strategi Keseimbangan di Asia Tenggara.

Datanglah Ke Rusia Sebagai Pemimpin ASEAN dan Kawan Lama Rusia

Geopolitik dan Peta Kekuatan di Kawasan

Meskipun Tidak Sebanyak Cina dan Jepang, Investasi Rusia di Indonesia dan ASEAN Sudah Cukup Besar

Lihat lainya »
   Arsip
Selain AS dan Rusia, Cina dan Jepang Faktor Penting Penyelesaian Multilateral Konflik Korea Selatan versus Korea Utara

Membaca Di Balik Kudeta Militer Turki Jumat Lalu

Pasca Kudeta, Puluhan Helikopter Militer Turki Raib

Upaya Kudeta Gagal, Turki Dilanda Gelombang Penangkapan Tentara

Tim Pengamat Indonesia IMT-5 Konga XXXIV-E Tiba di Manila

Militer Indonesia dan Filipina Lakukan Pertemuan

Dari Musyawarah ke Bitingan

Indonesia Mampu Menangkal Serangan ISIS

Indonesia Bangga Pada Masyarakat Adat Tabi/Mamta Papua

Menuntut Papua Menjadi Anggota Melanesian Spearhead Group (MSG), untuk Apa dan Siapa?

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
ISLAM SANGAT MENGHARGAI PLURALISME

------------------------------------------------------------

Judul Buku : Pluralitas Dalam Masyarakat Islam

Judul Asli : At Ta’addudiyah Fi Mujtama’ Islamiy

Penulis : Gamal Al Banna

Pengantar : Prof. DR. Azyumardi Azra, MA

Tebal Buku : 93 halaman termasuk biodata tentang penulis

Peresensi : Otjih Sewandarijatun

------------------------------------------------------------

Lihat Lainnya »