» Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea » Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points » Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia » Berebut Kedaulatan Spratly, Memicu Ketegangan Baru di Asia Tenggara Pada Era Donald Trump » Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi


Amerika
23-07-2013
Intervensi Militer AS di Suriah
Jenderal AS Menentang Serangan ke Suriah

Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat menentang negara itu terlibat dalam perang baru di Timur Tengah dan memperingatkan bahwa intervensi militer ke Suriah akan menciptakan konsekuensi yang tidak diinginkan.


Dalam sebuah surat kepada ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat, yang dirilis pada hari Senin (22/7), Jenderal Angkatan Darat Martin Dempsey mengingatkan invasi berbiaya besar dan penuh darah ke Irak dan Afghanistan dan mengatakan, jika AS melakukan serangan ke Suriah, maka tidak ada jalan lagi untuk keluar dari sana.

Ia dalam suratnya kepada Senator Carl Levin dan John McCain, yang mendukung invasi ke Suriah, mengatakan, "Kami telah belajar dari serangan militer 10 tahun lalu ke Afghanistan dan Irak bahwa aksi itu tidak hanya akan mengubah perimbangan kekuatan militer di Timur Tengah, tapi juga akan lepas kendali jika tanpa perhitungan yang cermat."

Surat Dempsey muncul setelah McCain mengumumkan ia akan memblokir pengangkatan kembali sang jenderal ke kursi kepala staf gabungan, posisi paling tinggi di militer AS, sampai Dempsey memberikan penilaiannya kepada Senat tentang keuntungan aksi militer AS di Suriah.

Bulan lalu, Presiden Barack Obama mengumumkan akan menyediakan persenjataan ringan dan amunisi untuk oposisi Suriah, setelah mengklaim bahwa Assad menggunakan senjata kimia terhadap warga sipil.

Dalam sebuah langkah untuk mengakhiri kebuntuan legislatif atas pencalonan kembali, Dempsey menulis bahwa setiap opsi militer akan mahal dan tidak pasti.

"Mempersenjatai dan melatih kelompok militan akan menelan biaya 500 juta dolar per tahun dan membutuhkan beberapa ratus hingga ribuan pasukan serta penuh risiko mempersenjatai ekstrimis Al Qaeda dan Salafi," jelasnya.

Dia juga menegaskan serangan udara terbatas di Suriah akan memerlukan ratusan pesawat, kapal perang, kapal selam, dan peralatan lain, dengan biaya operasional miliaran dolar untuk mencapai penurunan signifikan dari kemampuan pemerintah Assad.

Dempsey juga memperingatkan bahwa pemerintah Damaskus akan melawan serangan tersebut.

"Sebuah zona larangan terbang, opsi yang lebih disukai McCain, akan membutuhkan ratusan pesawat, dukungan alat perang elektronik dan intelijen, pengisian bahan bakar pesawat dan alat komunikasi," jelas Dempsey.

Menurutnya, tindakan itu akan menghabiskan dana hingga 1 miliar dolar per bulan. Ini juga mungkin akan memperparah kekerasan.

Di bagian akhir suratnya, Dempsey menegaskan, penggulingan pemerintah Suriah untuk saat ini sama dengan memberdayakan ekstrimis dan kelompok Al Qaeda untuk berkuasa di negara itu. (TGR/IRIB Indonesia)


Sumber :Iran Indonesian Radio
Artikel Terkait
» 10 Persen Warga AS Menilai Paman Sam Mengancam Keamanan Global
» Mayoritas Warga AS Menentang Intervensi Militer di Suriah
» Senator Republik Desak AS Lakukan Intervensi Militer di Suriah



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia
Pada 2014 lalu, Global Future Institute sempat menyorot secara khusus etnis Tatar yang bermukim di Crimea. Waktu itu, beberapa tokoh etnis Tatar dari seluruh dunia berkumpul ...

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Lewat Sepucuk Surat Trump Cairkan Hubungan dengan China

Khayalan Tingkat Dewa, Komunis Bangkit Lagi

Pilkada: Untuk Rakyat atau Politisi

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Indonesia dan Korsel Bahas Kerjasama Bilateral

Uni Eropa akan Tetap Terapkan Sanksi kepada Rusia

Uni Eropa Diminta Tidak Ikuti Permainan Trump

Cinta dan Kebenaran

Rex Tillerson Dikukuhkan sebagai Menlu AS

Sekjen PBB Desak AS Cabut Larangan Masuknya Pengungsi Muslim

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »