» Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumbernya » Membaca Krisis Yaman dari Perspektif Geopolitik dan Kawasan » Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumbernya (3/Habis) » Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumbernya (2) » Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumbernya (1)


Amerika
23-07-2013
Intervensi Militer AS di Suriah
Jenderal AS Menentang Serangan ke Suriah

Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat menentang negara itu terlibat dalam perang baru di Timur Tengah dan memperingatkan bahwa intervensi militer ke Suriah akan menciptakan konsekuensi yang tidak diinginkan.


Dalam sebuah surat kepada ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat, yang dirilis pada hari Senin (22/7), Jenderal Angkatan Darat Martin Dempsey mengingatkan invasi berbiaya besar dan penuh darah ke Irak dan Afghanistan dan mengatakan, jika AS melakukan serangan ke Suriah, maka tidak ada jalan lagi untuk keluar dari sana.

Ia dalam suratnya kepada Senator Carl Levin dan John McCain, yang mendukung invasi ke Suriah, mengatakan, "Kami telah belajar dari serangan militer 10 tahun lalu ke Afghanistan dan Irak bahwa aksi itu tidak hanya akan mengubah perimbangan kekuatan militer di Timur Tengah, tapi juga akan lepas kendali jika tanpa perhitungan yang cermat."

Surat Dempsey muncul setelah McCain mengumumkan ia akan memblokir pengangkatan kembali sang jenderal ke kursi kepala staf gabungan, posisi paling tinggi di militer AS, sampai Dempsey memberikan penilaiannya kepada Senat tentang keuntungan aksi militer AS di Suriah.

Bulan lalu, Presiden Barack Obama mengumumkan akan menyediakan persenjataan ringan dan amunisi untuk oposisi Suriah, setelah mengklaim bahwa Assad menggunakan senjata kimia terhadap warga sipil.

Dalam sebuah langkah untuk mengakhiri kebuntuan legislatif atas pencalonan kembali, Dempsey menulis bahwa setiap opsi militer akan mahal dan tidak pasti.

"Mempersenjatai dan melatih kelompok militan akan menelan biaya 500 juta dolar per tahun dan membutuhkan beberapa ratus hingga ribuan pasukan serta penuh risiko mempersenjatai ekstrimis Al Qaeda dan Salafi," jelasnya.

Dia juga menegaskan serangan udara terbatas di Suriah akan memerlukan ratusan pesawat, kapal perang, kapal selam, dan peralatan lain, dengan biaya operasional miliaran dolar untuk mencapai penurunan signifikan dari kemampuan pemerintah Assad.

Dempsey juga memperingatkan bahwa pemerintah Damaskus akan melawan serangan tersebut.

"Sebuah zona larangan terbang, opsi yang lebih disukai McCain, akan membutuhkan ratusan pesawat, dukungan alat perang elektronik dan intelijen, pengisian bahan bakar pesawat dan alat komunikasi," jelas Dempsey.

Menurutnya, tindakan itu akan menghabiskan dana hingga 1 miliar dolar per bulan. Ini juga mungkin akan memperparah kekerasan.

Di bagian akhir suratnya, Dempsey menegaskan, penggulingan pemerintah Suriah untuk saat ini sama dengan memberdayakan ekstrimis dan kelompok Al Qaeda untuk berkuasa di negara itu. (TGR/IRIB Indonesia)


Sumber :Iran Indonesian Radio
Artikel Terkait
» 10 Persen Warga AS Menilai Paman Sam Mengancam Keamanan Global
» Mayoritas Warga AS Menentang Intervensi Militer di Suriah
» Senator Republik Desak AS Lakukan Intervensi Militer di Suriah



 

Advance Search

   Isu Hangat »
SURAT TERBUKA KEPADA PRESIDEN JOKOWI DAN IBU MEGAWATI SUKARNOPUTRI
Kepada Yang Terhormat Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) Di Tempat   Kepada Yang Terhormat Ketua Umum PDIP Perjuangan Ibu Megwati Sukarnoputri ...

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Lihat lainya »
   Arsip
Indonesia Utang ke Bank Dunia Rp182,81 Triliun, Menkeu Bambang: Itu Hal Biasa

Gelombang Baru Perubahan Pemerintahan Arab Saudi

Eksekusi Mati, dan Standar Ganda Australia

Ray Sahetapy: Sudut Pandang Nusantara Melihat Indonesia

Beberapa Hasil KAA Ke-60 2015 Yang Berhasil Terdokumentasi

Andrew Chan dan Sukumaran Agen Intelijen Australia?

KTT ASEAN ke-26 Lahirkan Tiga Deklarasi

Posisi Indonesia Dalam Percaturan Politik Internasional

Memperingati Hari Buruh Nasional Secara Bijaksana

Pengantar Deklarasi Yogyakarta dan Petisi Yogyakarta

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Bagaimana Membaca Novel Foucault's Pendulum?

Pendahuluan
Novel Foucault’s Pendulum karya Umberto Eco edisi bahasa Indonesia telah diterbitkan pada November 2010. Karya aslinya dalam bahasa Italia, Il Pendolo di Foucault, terbit pertama kali pada 1988. Setahun kemudian baru diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Foucault’s Pendulum. Nama Foucault pada judul itu mengingatkan pada tokoh filsafat kontemporer, Michel Foucault. Tokoh yang relatif dikenal dalam kajian humaniora. Padahal nama Foucault pada judul novel Eco adalah nama penemu pendulum yang tidak lain adalah Leon Foucault.

Lihat Lainnya »