» Tujuan-Tujuan Utama Kebijakan Luar Negeri AS (Bag I) » Dunia Tiga Sisi » Pemerintah Jokowi-JK Harus Segera Cabut UU No 7/2004 Tentang Sumber Daya Air » Amerika Serikat Dukung Bangkitnya Kembali Kekuatan Militer Jepang » Menyorot Politik HAM Belanda di Indonesia


Sosial Budaya
04-02-2010
Korea Selatan: Peninggalan Budaya
Korea Selatan Perkirakan Sekitar 100 ribu Peninggalan Budaya Tersebar Di luar Negeri

Pemerintah Korea Selatan melalui Institut Pengkajian Nasional Peninggalan Budaya Korea Selatan melaporkan bahwa sekitar 100 ribu buah peninggalan budaya Korea Selatan tersebar di luar negeri.


Menurut Institut Pengkajian Nasional Peninggalan Budaya Korea Selatan, setidaknya saat ini ada sekitar 107.857 buah peninggalan budaya Korea yang tersebar di 18 negara didunia. Diperkirakan 30 ribu buah lebih banyak daripada dugaan semula.

Dilaporkan, sebanyak 66 ribu buah peninggalan budaya itu terdapat di Jepang dan di Amerika Serikat sebanyak 27 ribu buah. Institut Pengkajian Nasional Peninggalan Budaya Korea Selatan akan terus mempelajari keberadaan peninggalan budaya Korea di luar negeri.  Rencananya lembaga ini akan secara berkesinambungan melakukan berbagai usaha termasuk peninjauan ke lokasi tempat beradanya peninggalan budaya itu.

Kesamaaan antara Indonesia dan Korea Selatan Terkait Peninggalan Budaya di Luar Negeri

Tentu saja apa yang dilakukan pemerintah Korea Selatan ini patut dicontoh oleh Indonesia. Dalam kasus yang sama, Pemerintah Indonesia lewat Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata  pernah mengakui mengalami hal sama terkait Peninggalan Budaya di luar negeri. Apapun Indonesia dapat mencontoh apa yang dilakukan Korea Selatan ini  dalam  mendata jumlah peninggalan budaya yang berada di luar negeri. Inventarisasi peninggalan budaya  yang tersebar diberbagai negara harus dilakukan dengan terancana. Termasuk juga memikirkan cara ”memulangkan” peninggalan budaya yang menjadi milik Indonesia di luar negeri.

Rush/KBS World



Artikel Terkait
» Pemuka Agama AS Kunjungi Masjid Istiqlal
» Turunkan Patung Obama di Mentang, Ganti dengan Patung Gus Dur!
» KRL Cerminan Masyarakat Jabodetabek
» Kota Besar Melahirkan Manusia Sampah
» Korea Selatan Resmikan Jembatan Terpanjang ke 7 Di Dunia
» Bali Museum
» Museum Bali



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Mengingatkan Kembali Tiga Kejahatan Perang Jepang di Indonesia
Kejahatan perang tentara Jepang di Indonesia antara 1942-1945 merupakan sejarah hitam  yang tidak boleh kita lupakan. Adanya kebijakan pemerintahan fasisme Jepang di Indonesia yang secara sistematis ...

SURAT TERBUKA KEPADA PRESIDEN JOKOWI DAN IBU MEGAWATI SUKARNOPUTRI

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Lihat lainya »
   Arsip
Diancam Cina, Pesawat Filipina Tetap Terbang di Wilayah Sengketa

Melintas di atas Laut Cina Selatan, Cina Protes AS

Skisma Politik Budi Utomo versus Sarikat Islam, Penyebab Kebuntuan Politik Nasional?

Laporan Pentagon Tegaskan Peran AS Dirikan ISIS

Rusia Batasi LSM, Uni Eropa Meradang

Pendidikan Berkualitas Jadi Komitmen Utama Pemerintah

Inggris Kirim Kapal Perang Terbesar ke Perbatasan Rusia

Satgas Indobatt Bantu Warga Lokal di Darfur Barat

Panglima TNI Resmikan Patung Teuku Umar di Pulau Rondo

Mengingatkan Kembali Hasil-Hasil yang Dicapi Melalui Konferensi Postdam 2 Agustus 1945

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Bagaimana Membaca Novel Foucault's Pendulum?

Pendahuluan
Novel Foucault’s Pendulum karya Umberto Eco edisi bahasa Indonesia telah diterbitkan pada November 2010. Karya aslinya dalam bahasa Italia, Il Pendolo di Foucault, terbit pertama kali pada 1988. Setahun kemudian baru diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Foucault’s Pendulum. Nama Foucault pada judul itu mengingatkan pada tokoh filsafat kontemporer, Michel Foucault. Tokoh yang relatif dikenal dalam kajian humaniora. Padahal nama Foucault pada judul novel Eco adalah nama penemu pendulum yang tidak lain adalah Leon Foucault.

Lihat Lainnya »