» Indonesia Masa Depan Sebagai Negara Maritim Terbesar di Asia (Bag. II) » Revisi PP 41/1996, Pintu Masuk Menuju Kolonialisme Ekonomi » Indonesia Masa Depan Sebagai Negara Maritim Terbesar di Asia (Bag. I) » Melacak Jejak Para Taipan Indonesia Investasi di Daratan Cina » Permainan Intelijen Asing di Tolikara, Papua


Timur Tengah
25-05-2013
Larang Terbang di Suriah:
AS akan Menegakkan Zona Larangan Terbang di Suriah

John McCain, anggota Senat AS, Sabtu (25/5) mengatakan, Washington berusaha untuk mempersenjatai oposisi Suriah serta menciptakan wilayah penyangga dan zona larangan terbang di negara itu.


Sebagaimana dilansir United Press, McCain dalam sebuah konferensi pers di sela-sela seminar dunia ekonomi di Yordania, mengatakan tujuan AS menegakkan zona larangan terbang adalah untuk memudahkan distribusi bantuan kepada rakyat Suriah dan mendukung oposisi yang menyakini nilai-nilai Amerika.

"Washington ingin mempersenjatai oposisi, namun demikian mendukung pembentukan pemerintahan transisi yang merangkul seluruh kelompok-kelompok di Suriah," tegasnya.

Menurut AS, tidak ada solusi yang akan mencakup Presiden Suriah Bashar al-Assad. Kondisi Suriah akan meningkatkan ketegangan yang ada di kawasan dan mempengaruhi kondisi internal Irak.

McCain menandaskan, untuk menjamin zona larangan terbang, maka pertahanan udara rezim Suriah dan perpindahan tempat-tempat peluncuran rudal harus dilumpuhkan. (TGR/IRIB Indonesia)



Artikel Terkait
» Saudi Terus Geser Peran Qatar di Suriah
» Assad: Suriah Tegas untuk Melawan Teroris
» Armada Perang Rusia Tiba di Suriah
» Manuver Diplomatik Regional Terbaru Krisis Suriah
» Rusia Tolak Invasi Militer Barat di Suriah



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Revisi PP 41/1996, Pintu Masuk Menuju Kolonialisme Ekonomi
Soal penguasaan lahan tanah dan properti, jangan dianggap enteng. Karena dalam skema ekonomi para Taipan dan pelaku bisnis asing, hal itu merupakan tahapan awal untuk menanam ...

Indonesia Masa Depan Sebagai Negara Maritim Terbesar di Asia (Bag. I)

Permainan Intelijen Asing di Tolikara, Papua

Anthrax, Proyek Militer AS Berkedok Proyek Riset Kesehatan (Bag I)

Nilai Strategis Kerjasama Indonesia-Rusia bidang Energi Dari Perspektif Kepentingan Nasional

Menyambut Baik Babak Baru Kerjasama Energi Nuklir Indonesia-Rusia

Lihat lainya »
   Arsip
Indonesia Masa Depan Sebagai Negara Maritim Terbesar di Asia (Bag. I)

Aceh dan Papua, Satu Skema Penguasaan Asing?

Aceh-Papua: Pintu Masuk Balkanisasi Nusantara

Inggris akan Gelar Referendum Keanggotaan UE pada 2016

Jokowi dan David Cameron Bakal Tanda Tangani Sejumlah MoU

Cina Minta AS tidak Menjadi Wasit di Laut Cina Selatan

Dengan Mantra "Verdeel en heers", Kolonialisme Bisa Membangun Kekuasaan di Negara Lain

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?

Obama Frustasi Karena Gagal Loloskan UU Senjata

Wahai Anak Bangsa Sadarlah Musuh-Musuh Kita Telah di Depan Mata

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Bagaimana Membaca Novel Foucault's Pendulum?

Pendahuluan
Novel Foucault’s Pendulum karya Umberto Eco edisi bahasa Indonesia telah diterbitkan pada November 2010. Karya aslinya dalam bahasa Italia, Il Pendolo di Foucault, terbit pertama kali pada 1988. Setahun kemudian baru diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Foucault’s Pendulum. Nama Foucault pada judul itu mengingatkan pada tokoh filsafat kontemporer, Michel Foucault. Tokoh yang relatif dikenal dalam kajian humaniora. Padahal nama Foucault pada judul novel Eco adalah nama penemu pendulum yang tidak lain adalah Leon Foucault.

Lihat Lainnya »