» Dunia Tiga Sisi » Pemerintah Jokowi-JK Harus Segera Cabut UU No 7/2004 Tentang Sumber Daya Air » Amerika Serikat Dukung Bangkitnya Kembali Kekuatan Militer Jepang » Menyorot Politik HAM Belanda di Indonesia » Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumbernya


Timur Tengah
17-05-2013
Perkembangan Krisis Politik di Suriah:
Armada Perang Rusia Tiba di Suriah

Kapal-kapal perang Rusia telah tiba dan merapat di pelabuhan Suriah demi memberi dukungan kepada negara ini.


Kantor Berita Palestina Maan hari ini (Jumat, 17/5) mengutip koran Wall Street Journal menulis, sedikitnya 12 kapal perang Rusia telah merapat di dermaga Tartus di Suriah guna mengingatkan Amerika, negara-negara Barat dan rezim Zionis Israel bahwa Moskow tidak akan membiarkan intervensi militer asing di Suriah.

Kedatangan armada perang Rusia di dermaga Tartus, Suriah terjadi dimana Rusiah sebelum ini berjanji menjamin senjata Suriah, terutama rudal modern dari darat ke laut dan laut ke laut.

Rusia berulang kali menyatakan dukungannya terhadap pemerintah Suriah dan menegaskan pentingnya mencari solusi politik bagi krisis yang terjadi.

Arab Saudi, Qatar, Turki, Amerika, Perancis, Inggris dan rezim Zionis Israel sejak tahun 2011 hingga kini membayar para teroris dan memberikan dukungan dana, senjata dan media berusaha menciptakan instabilitas di Suriah untuk melengserkan pemerintahan Bashar Assad.

Berbeda dengan sikap negara-negara Barat dan sekutu Arabnya, Rusia berusaha agar masalah Suriah diselesaikan lewat jalur diplomatik. (TGR/IRIB Indonesia)



Artikel Terkait
» Manuver Diplomatik Regional Terbaru Krisis Suriah
» Rusia Tolak Invasi Militer Barat di Suriah
» Inilah Alasan Intervensi Militer Barat di Suriah
» Iran dan Suriah Agenda Utama Perundingan Obama dan Cameron
» PM Suriah: Pemerintahan Erdogan Sumber Kerusuhan di Kawasan
» Rudal-rudal Anti-Pesawat Tempur Rusia Segera Tiba di Suriah



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Mengingatkan Kembali Tiga Kejahatan Perang Jepang di Indonesia
Kejahatan perang tentara Jepang di Indonesia antara 1942-1945 merupakan sejarah hitam  yang tidak boleh kita lupakan. Adanya kebijakan pemerintahan fasisme Jepang di Indonesia yang secara sistematis ...

SURAT TERBUKA KEPADA PRESIDEN JOKOWI DAN IBU MEGAWATI SUKARNOPUTRI

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Lihat lainya »
   Arsip
Dunia Tiga Sisi

Freeport Makin Bikin Repot

Sarpin Efek : Merekonstruksi Payung Keadilan dalam Era Baru Rechstaat

Apa yang Dilakukan AS di Yaman?

Ingin menjadi Orang Barat tapi Kok Palsu

Satgas Pamtas RI-PNG bantu SD Inpres di Papua

Pembantaian Westerling dan Puputan Margarana, Bali: Australia Dan Inggris Ikut Bertanggungjawab

China-AS Ribut Soal Wilayah yang Disengketakan

Jepang Akui Niue Sebagai Negara

Hampir 40.000 Warga Burundi Mengungsi

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Bagaimana Membaca Novel Foucault's Pendulum?

Pendahuluan
Novel Foucault’s Pendulum karya Umberto Eco edisi bahasa Indonesia telah diterbitkan pada November 2010. Karya aslinya dalam bahasa Italia, Il Pendolo di Foucault, terbit pertama kali pada 1988. Setahun kemudian baru diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Foucault’s Pendulum. Nama Foucault pada judul itu mengingatkan pada tokoh filsafat kontemporer, Michel Foucault. Tokoh yang relatif dikenal dalam kajian humaniora. Padahal nama Foucault pada judul novel Eco adalah nama penemu pendulum yang tidak lain adalah Leon Foucault.

Lihat Lainnya »