English     Indonesia  
Menu Rubrik
Internasional
Politik
Asean
Analisis
Hukum
Ekonomi dan Bisnis
Industri Strategis
Hankam
Sosial Budaya
Lingkungan Hidup
Kesehatan
Wawancara Khusus
Gaya Hidup
Diplomasi
Komentar Pembaca
Ucapan Puasa
Departemen Luar Negeri RI
PBNU
ISAFIS
Selamatkan Indonesia
Kajian Timur Tengah
Magister HI Unpad
Informasi Wisata Bali
Anggia Putri Nilasari
World Future Online
Budaya Sunda
   Artikel Pilihan
No data yet
   Jajak Pendapat
Membentuk kekuatan baru selain PBB guna menekan Israel membuka blokade atas Gaza?
Sangat Perlu
Perlu
Tidak Perlu
Tidak Tahu
   
Dirgahayu RI
Analisis
06-01-2010
Mengapa Saya Terus Menulis Tentang Iran, Israel, AS?
Penulis : Dina Y. Sulaiman

Bukan, bukan karena saya pernah 5 tahun jadi jurnalis di Iran. Bukan karena saya fans-nya Ahmadinejad (sejujurnya, tak ngefans-ngefans amat kok; saya pernah menulis ttg Ahmadinejad, tapi dalam konteks konflik Timur Tengah, bukan utk mengelu-elukan dia). Bukan juga karena saya muslim anti Yahudi. 


Bukan, bukan karena saya pernah 5 tahun jadi jurnalis di Iran. Bukan karena saya fans-nya Ahmadinejad (sejujurnya, tak ngefans-ngefans amat kok; saya pernah menulis ttg Ahmadinejad, tapi dalam konteks konflik Timur Tengah, bukan utk mengelu-elukan dia). Bukan juga karena saya muslim anti Yahudi.  Alasannya akademis saja kok: karena dalam menganalisis konflik regional (supaya analisisnya tak kacau, dan mencampuradukkan hal-hal yang seharusnya tak dicampuradukkan, sebagaimana  yang sering dilakukan sebagian orang), kita memang mesti menentukan dulu, mana negara-negara yang jadi core (pusat konflik),  intrusive (pengganggu), dan peripheral (pinggiran, punya pengaruh dalam konflik, tapi tak signifikan).

Saya melihat negara-negara pusat konflik Timur Tengah adalah Palestina-Israel-Iran (alasannya apa, mudah-mudahan lain waktu bisa saya tulis). Posisi Iran secara geografis memang tidak berada di satu kawasan dengan Palestina-Israel. Iran malah lebih ke Asia Selatan, tapi tetap masuk dalam pengkategorian negara-negara Timur Tengah  (juga Mesir-Libya-Algeria-Maroko yang letaknya di benua Afrika). Lihat Halliday (2005:330-331).

Siapa negara yang jadi aktor intrusive di sini? Sudah jelas, Amerika Serikat (AS). AS sama sekali bukan bagian dari Timur Tengah, tapi selalu saja mencampuri urusan di sana. Ada banyak alasan, antara lain kepentingan ekonomi, dan persekutuannya dengan Israel. Lalu, aktor peripheralnya, bisa Saudi, Suriah, Turki, Mesir, dan lain-lain.


Nah, dalam konteks ini, makanya saya selalu mengaitkan Iran-Israel-Palestina dan AS saat menulis ttg konflik Timur Tengah.  Dalam konteks ini pula, saat saya menganalisis  tentang situasi politik di Iran, mau tak mau memang harus dikaitkan dengan AS dan Israel. Karena ketiga negara core + 1 negara intrusive itu memang selalu berjalin-berkelindan dalam  konstelasi politik Timur Tengah. Aksi di salah satu negara akan langsung mendapat reaksi di ketiga negara lainnya.

Dalam konteks ini pula, sangat aneh bila saat saya mengkritik AS “Mengapa AS yang katanya pembela HAM tapi malah tidak peduli pada penderitaan Palestina dan terus-terusan membela Israel?” muncul tanggapan :

- “Orang Islam aja gak bela Palestina, ngapain juga AS yang harus repot-repot?”
- “Orang Islam aja gak peduli sama HAM, kenapa kamu harus mengkritik AS?”

Tanggapan seperti itu jelas out of context.

Analoginya: saat si Badu (yang diketahui umum pernah mencuri, misalnya) sedang berbicara soal korupsi yang dilakukan oleh si Bodi. Kita gak bisa berkata, “Halah, si Badu kan juga pernah mencuri, dia TIDAK BOLEH mengkritik si Bodi.” Kita hanya  bisa berkata, “Ya, si Bodi salah, si Badu juga salah.”

Pelanggaran HAM yang konon dilakukan sebagian negara-negara muslim adalah salah dan tidak bisa dibela; tapi tidak pula bisa diambil kesimpulan “Orang Islam juga suka melanggar HAM, ngapain juga mereka teriak-teriak memprotes AS?”
Sekali lagi, out of context.

Ok, ini sekedar info..mudah-mudahan bisa membantu dalam memandang konflik Timur Tengah secara lebih jernih.

Sumber: : http://dinasulaeman.wordpress.com/



Artikel Terkait
» TELAH TERBIT: Ahmadinejad on Palestine!
» Pengaruh Penjualan Senjata AS ke Taiwan Terhadap Hubungan Cina - Taiwan
» Perang Irak Vs Realisme
» Kebangkitan China menurut Realis
» Kelas Kilo, Jenis Kapal Selam Yang Tepat Bagi Indonesia
» Obama Tetap Pertahankan Kebijakan Militeristik di Afghanistan
» Obama Lumpuhkan Program Pemberdayaan Masyarakat Muslim Miskin Amerika
» Sebuah Kata Pamit yang Radikal
» Rencana Kedatangan Presiden AS Ke Indonesia
» Polisi, Politik dan Publik
» Pikiran Model Privatisasi
» Saatnya Indonesia dan Dunia Islam Membentuk Sada Cumber Watch
» Pertanda Buruk Bagi Tentara Amerika di Afghanistan
» Wapres Bukan Pembantu Presiden
» AS-Rusia Kembali Rundingkan Perjanjian Nuklir



Cari :
Nash of Journalism School
   Isu Hangat »
Bangkitnya Kembali Militerisme Jepang di Asia Pasifik Sudah Diambang Pintu
Ada satu perkembangan yang cukup mencemaskan di Jepang dalam beberapa bulan terakhir ini. Issui-kai, atau Masyarakat Rabu" ("Wednesday Society"), dibentuk pada 1970-an oleh para penggemar novelis ...

Mewaspadai Meningkatnya Kekuatan Militer Cina (Bagian 2)

Deklarasi Konferensi PD II DI Kuala Lumpur

The Malaysian Experience & Hope For The Future

Japan as an Independent Player in an out of control Asia

Pernyataan GFI pada Konferensi Internasional tentang Perang Dunia II di KL

Lihat lainya »
   Arsip
Invasi Berakhir, Stimulus Bergulir

Risiko Bayangi Pelonggaran Kredit di AS

Obama Hadapi Tantangan Terberat Mereformasi Perbankan

Alunan Angklung di Kampus Lebanon

60 Tewas Akibat Demam Berdarah di Honduras

Mahmoud Abbas : Israel Harus Bekukan Pemukiman Yahudi

Korut Berusaha Tingkatkan Hubungan Militer dengan China

Gamelan Bali Getarkan Jantung Seni Musik Rusia

Perang Gaza, Perang Gas

Kritik untuk EraMuslim Lagi: Mengapa AS Menyerang Irak?

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang : Travis Heerman
Petualangan Seorang Pendekar Jepang

PADA tahun 1960-an dan 1970-an, komik mengalami masa kejayaan di Indonesia. Sejumlah komikus menghasilkan pelbagai cerita yang menarik minat masyarakat. Para pendekar dari dunia imajinasi pun menjadi panutan orang-orang di dunia nyata. Sosok mereka—sebut saja misalnya Si Buta dari Goa Hantu, Panji Tengkorak, Pendekar Bambu Kuning, Si Pitung, dan Jaka Sembung—menjadi legenda.

Lihat Lainnya »

© 2008 - 2010 theglobal-review.com All rights reserved