» Prabowo-Hatta Jungkir-Balikkan Logika Skenario Revolusi Oranye Ukraina » Arah Krisis Ukraina dan Pelajaran Berharga Bagi Indonesia » Liem Soe Liong, Mochtar Riyadi dan The Chinese Culture Heritage Center (TCCHC) » Q&A: Benarkah Yahudi itu Beda Dengan Zionis? » Membaca Ulang Perang Asimetris di Indonesia Melalui Isu: Indosat, WTO dan Laut China Selatan


Internasional
27-03-2013
Perkembangan Krisis Korut dan AS
Korut Ancam Serang Markas Militer AS di Hawaii & Guam

Korea Utara (Korut) kembali mengeluarkan ancamannya. Negara komunis ini mengklaim telah menyiagakan unit roketnya dan siap menyerang sasaran baru di wilayah Amerika Serikat (AS), Hawaii dan Guam.


"Seluruh pasukan artileri termasuk unit roket strategis dan unit artileri jarak jauh telah disiapkan di bawah kesiapan tempur kelas A," demikian pernyataan komando tertinggi militer Korut yang biasa disebut Korean People's Army (KPA), seperti dilansir AFP, Selasa (26/3/2013).

"Untuk menyerang seluruh markas militer AS di wilayah Asia-Pasifik, termasuk di daratan AS, Hawaii dan Guam," imbuh KPA seperti dikutip media resmi Korut, Korean Central News Agency (KCNA).

Kendati demikian, di sisi lain sejumlah ahli meragukan klaim Korut ini. Menurut mereka, selain keberhasilan Korut dalam uji coba rudal jarak jauh pada Desember lalu, kemampuan Korut masih sangat jauh untuk menciptkan rudal balistik yang mampu menjangkau antar benua, terutama yang mampu mencapai wilayah daratan AS.

Sama halnya dengan wilayah Hawaii dan Guam, yang menurut para ahli, berada di luar jangkauan misil jarak menengah. Kemampuan rudal Korut diperkirakan hanya akan mampu menjangkau markas militer AS di Korea Selatan dan Jepang.

Pernyataan Korut ini dikeluarkan beberapa saat setelah Presiden Korsel Park Geun-hye mengimbau Korut untuk meninggalkan program nuklir dan rudalnya. Presiden Park mendorong Korut untuk mengubah haluan militernya seiring semakin meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea.

"Bagi Korut, satu-satunya jalan untuk tetap bertahan adalah menghentikan provokasi dan ancaman, meninggalkan persenjataan nuklir dan rudal, dan menjadi anggota komunitas internasional yang bertanggung jawab," ujar Presiden Park Geun-hye..

Hal ini disampaikan Presiden Park saat berpidato dalam peringatan 3 tahun tragedi tenggelamnya kapal perang Korsel, Cheonan. Selama ini, Korsel meyakini bahwa kapal Cheonan tenggelam karena ditembak oleh kapal selam Korut. Namun selama ini, Korut selalu menyangkal keterlibatannya dalam insiden yang berimbas pada pembekuan hubungan kedua negara.

Sementara itu, selama beberapa bulan terakhir pemimpin Korut Kim Jong-un sibuk memantau unit-unit militernya. Mulai dari mengawasi latihan artileri dan pesawat tanpa awak hingga menyampaikan pidato berapi-api soal serangan mematikan terhadap musuh-musuh Korut.


Sumber :detik.com
Artikel Terkait
» Korut Tidak Akan Ubah Kebijakan
» Perintah Pertama Kim Jong-Un
» Penyelundupan Rudal AS ke China Digagalkan



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Membaca Ulang Perang Asimetris di Indonesia Melalui Isu: Indosat, WTO dan Laut China Selatan
Dunia kini telah menjelma menjadi sebuah kampung kecil. Teknologi satelit telah menembus batas-batas negara. Status negara bangsa kini telah semakin kehilangan makna digerus oleh eksistensi organisasi-organisasi ...

Presiden Baru untuk Daulat Pertanian, Perkebunan dan Pangan

PP No 01/2014 Pintu Masuk SBY Beri Monopoli dan Hak Istimewa Kepada Freeport dan Newmont

Skenario di Atas Skenario

Terungkapnya 39 Dokumen Kejahatan Perang Jepang di Cina, Inspirasi bagi Perjuangan Para Advokator Ianfu Indonesia

Shinzo Abe: Personifikasi Kebangkitan Ultra Nasionalisme Jepang? (Bagian Kedua)

Lihat lainya »
   Arsip
Megaskandal Spionase UEA Untuk Israel di Gaza

Arah Krisis Ukraina dan Pelajaran Berharga Bagi Indonesia

Prabowo-Hatta Jungkir-Balikkan Logika Skenario Revolusi Oranye Ukraina

Kecaman Brutalitas Israel ke Gaza Terus Mengalir

Di Forum G20, Indonesia Bahas Pembangunan Ekonomi dan Kerangka Pertumbuhan Global

Brunei Darussalam-Indonesia Gelar Dialog Konsuler

IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Global Jadi 3,4 Persen

Terkait Israel, Ayatollah Khamenei Usulkan Gelar Referendum

Perdana Menteri Ukraina Arseniy Yatsenyuk Mengundurkan Diri

Empat Misi Jenderal China di Indonesia

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Belum Ada Manfaatnya Obama Bagi Islam dan Kepentingan Indonesia

Judul : Obama, Islam dan Gaza
Penulis : Wawan H Purwanto
Penerbit : CMB Press
Tebal buku : 216 halaman termasuk biodata penulis
Peresensi : Muhammad Mubdi Kautsar

Lihat Lainnya »