» Neo Nazi dan Tangan-Tangan Israel di Ukraina » Beberapa Alasan Strategis Kesiapsiagaan Perang Rusia Untuk Mempertahankan Crimea dan Beberapa Wilayah Perbatasan Ukraina » Ukraina Dalam Perspektif Geopolitik Zbigniew Brzezinski » Gagalnya Skenario Revolusi Warna dan Titik-Balik Amerika di Ukraina » Cina, Jangan Berdendang Kau!


Politik
26-02-2013
Perkembangan Krisis Papua
Tokoh Muda Papua: Pembangunan Integrasi di Papua Telah Gagal

Papua, wilayah paling timur Indonesia, hingga kini masih mencekam. Apalagi kerusuhan semakin memanas belakangan ini. Terlebih lagi adanya korban. Salah satunya Mako Tabuni, Wakil Ketua Komite Nasional Papua Barat, yang tertembak di bagian pinggang saat adanya penggerebekan di Perumnas III, Waena. Seperti diketahui, Mako Tabuni, tewas karena kehabisan darah saat tiba di Rumah Sakit Bhayangkara.


Keluarga dan aktivitas KNPB mengecam tindakan aparat dan akan menuntut Polisi karena telah menembak mati Mako Tabuni. Selain Mako, adik kandung Mako, Yulius Tabuni, juga terkena timah panas di bagian kaki. Saat ini Yulius Tabuni masih di Rumah Sakit Bhayangkara.

Sabtu ini, Mako Tabuni direncanakan akan dimakamkan di Kampung Sereh, Distrik Sentani Kota, Kabupaten Jayapura. Suasana Kota Sentani pun mencekam, hingga toko-toko memilih tutup. Tidak seperti biasanya, lalu lalang manusia pun lebih sedikit ketimbang biasanya.

Sementara itu, beberapa individu Papua yang berada di luar Papua terus mengupayakan Papua tetap terjaga dan aman dengan berbagai upaya. Seperti apa yang dilakukan tokoh muda Papua, Natalis Pigay, di dalam diskusi Polemik Sindo Radio di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat.

Menurut Natalis, Pemerintah tidak ambil tegas karena telah melakukan pembiaran atas adanya kekerasan di Tanah Mutiara tersebut. Apalagi TNI kurang bersikap tegas.
"Apa yang diinginkan Papua adalah dialog yang konstruktif, berbicara mengenai rakyat Papua. Ada yang riak-riak meskipun besar atau kecil bisa berakibat, tapi ada riak-riak di lapangan yang menginkan mereka pisah dengan NKRI. Karena rakyat Papua menganggap pembangunan integrasi di Papua telah gagal," papar Natalis, dalam diskusi tersebut, Sabtu (16/6).

Adanya riak-riak berpisah dari NKRI, menurut Natalis, yang menampilkan simbol-simbol dan tari-tarian merupakan suatu wujud kekecewaan terhadap NKRI, karena mereka hanya inginkan kesejahteraan sosial layaknya wilayah-wilayah lainnya di Indonesia. Sesungguhnya, hal itu merupakan keinginan warga Papua untuk berpartisipasi konkret dalam NKRI ini.

 


Sumber :beritahukum.com
Artikel Terkait
» Paradoks RUU Keamanan Nasional
» Ini Sembilan Prioritas Diplomasi RI 2013
» Ironi Pembaharuan
» Separatis Papua Makin Agresif, Ada Beking Pihak Asing?
» Asing Dominasi Penelitian Situs Bersejarah



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Krisis Ukraina, Sadarkan Indonesia Pentingnya Kesadaran dan Wawasan Geopolitik
Senin 7 April 2014, Global Future Institute (GFI) meluncurkan edisi kelima jurnal berkalanya, The Global Review Quarterly dengan mengangkat tema: Gagalnya Revolusi Warna di Ukraina. Yang ...

Ukraina Dalam Perspektif Geopolitik Zbigniew Brzezinski

Gagalnya Skenario Revolusi Warna dan Titik-Balik Amerika di Ukraina

Nasib Muslim Tatar: Isu Jihad Baru di Ukraina?

Membaca Skenario Besar di Balik Penggulingan Presiden Yanukovich

Singapura: “Negeri Makelar” Sarangnya Koruptor? (4)

Lihat lainya »
   Arsip
Menyoal Ancaman Terhadap Politisi

Wikileaks versus Openleaks

Pembocor Wikileaks Dikenakan Hukuman 35 Tahun Penjara

Iran dan Kritik "Amerikanisasi" Bank Dunia

Uni Eropa akan Perluas Sanksi terhadap Rusia

MH370: Australia Manfaatkan Momentum Sebagai “Polisi Asia Tenggara”

Mengapa Australia Bersemangat Mencari MH370

Malu-Maluin

Menunggu Hasil KPU

Parlemen Eropa Mendukung NKRI

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Belum Ada Manfaatnya Obama Bagi Islam dan Kepentingan Indonesia

Judul : Obama, Islam dan Gaza
Penulis : Wawan H Purwanto
Penerbit : CMB Press
Tebal buku : 216 halaman termasuk biodata penulis
Peresensi : Muhammad Mubdi Kautsar

Lihat Lainnya »