» Membaca Agenda Tersembunyi di Balik Tax Amnesty » Ada “Brexit" di dalam Brexit » Isu Rokok dan Tax Amnesty: Tarian Gendang yang Ditabuh oleh Asing » Membaca Isu Rokok Mahal dan Tax Amnesty dari Perspektif Perang Asimetris » Mengupayakan Sebuah Ikatan Bersama Menuju Satu ASEAN, Satu Asia Tenggara


Politik
26-02-2013
Perkembangan Krisis Papua
Tokoh Muda Papua: Pembangunan Integrasi di Papua Telah Gagal

Papua, wilayah paling timur Indonesia, hingga kini masih mencekam. Apalagi kerusuhan semakin memanas belakangan ini. Terlebih lagi adanya korban. Salah satunya Mako Tabuni, Wakil Ketua Komite Nasional Papua Barat, yang tertembak di bagian pinggang saat adanya penggerebekan di Perumnas III, Waena. Seperti diketahui, Mako Tabuni, tewas karena kehabisan darah saat tiba di Rumah Sakit Bhayangkara.


Keluarga dan aktivitas KNPB mengecam tindakan aparat dan akan menuntut Polisi karena telah menembak mati Mako Tabuni. Selain Mako, adik kandung Mako, Yulius Tabuni, juga terkena timah panas di bagian kaki. Saat ini Yulius Tabuni masih di Rumah Sakit Bhayangkara.

Sabtu ini, Mako Tabuni direncanakan akan dimakamkan di Kampung Sereh, Distrik Sentani Kota, Kabupaten Jayapura. Suasana Kota Sentani pun mencekam, hingga toko-toko memilih tutup. Tidak seperti biasanya, lalu lalang manusia pun lebih sedikit ketimbang biasanya.

Sementara itu, beberapa individu Papua yang berada di luar Papua terus mengupayakan Papua tetap terjaga dan aman dengan berbagai upaya. Seperti apa yang dilakukan tokoh muda Papua, Natalis Pigay, di dalam diskusi Polemik Sindo Radio di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat.

Menurut Natalis, Pemerintah tidak ambil tegas karena telah melakukan pembiaran atas adanya kekerasan di Tanah Mutiara tersebut. Apalagi TNI kurang bersikap tegas.
"Apa yang diinginkan Papua adalah dialog yang konstruktif, berbicara mengenai rakyat Papua. Ada yang riak-riak meskipun besar atau kecil bisa berakibat, tapi ada riak-riak di lapangan yang menginkan mereka pisah dengan NKRI. Karena rakyat Papua menganggap pembangunan integrasi di Papua telah gagal," papar Natalis, dalam diskusi tersebut, Sabtu (16/6).

Adanya riak-riak berpisah dari NKRI, menurut Natalis, yang menampilkan simbol-simbol dan tari-tarian merupakan suatu wujud kekecewaan terhadap NKRI, karena mereka hanya inginkan kesejahteraan sosial layaknya wilayah-wilayah lainnya di Indonesia. Sesungguhnya, hal itu merupakan keinginan warga Papua untuk berpartisipasi konkret dalam NKRI ini.

 


Sumber :beritahukum.com
Artikel Terkait
» Paradoks RUU Keamanan Nasional
» Ini Sembilan Prioritas Diplomasi RI 2013
» Ironi Pembaharuan
» Separatis Papua Makin Agresif, Ada Beking Pihak Asing?
» Asing Dominasi Penelitian Situs Bersejarah



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Mencari Solusi Damai Korea Selatan-Korea Utara Diilhami oleh Dasa Sila Bandung 1955
Faktor pemantik ketegangan antara Korea Utara versus Korea Selatan yang menyeret campur-tangan Amerika Serikat adalah tenggelamnya kapal perang Cheonan milik Korea Selatan. Begitupun, insiden tersebut hanya ...

Presiden Jokowi Perlu Menyadari Betapa Berbahayanya Indonesia Bergabung Dalam Perjanjian Trans-Pacific Partnership (TPP)

Simpul-Simpul Pemikiran dan Gagasan Penting dari Seminar Bertema “Dialog Kemitraan ASEAN, Momentum Bangun Strategi Keseimbangan di Asia Tenggara.

Datanglah Ke Rusia Sebagai Pemimpin ASEAN dan Kawan Lama Rusia

Geopolitik dan Peta Kekuatan di Kawasan

Meskipun Tidak Sebanyak Cina dan Jepang, Investasi Rusia di Indonesia dan ASEAN Sudah Cukup Besar

Lihat lainya »
   Arsip
Negara di Kepulauan Pasifik masih Percaya kepada Indonesia

Tak ada Kebaikan Pada Negara Yang Melakukan normalisasi Hubungan dengan Musuh

Abu Sayyaf Bebaskan Lagi Satu Sandera WNI

Assad Tuduh AS Sengaja Tewaskan 62 Tentara Suriah

Kehadiran 'Mujahidin' di Syria Insignifikan

Panglima TNI: Kunjungan Pangab Pakistan Tingkatkan Kedekatan Dua Sahabat

Erdogan Gagas Koalisi Segi Tiga Turki, Rusia, dan Iran, Benarkah?

AS Ingin Menggulingkan Pemerintah Suriah

Hasil Olah Pikir dan Kontemplasi Terkait Pilkada DKI Jakarta

Dinamika Hubungan Internasional Rusia dan Negara Gulf Cooperation Council

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
ISLAM SANGAT MENGHARGAI PLURALISME

------------------------------------------------------------

Judul Buku : Pluralitas Dalam Masyarakat Islam

Judul Asli : At Ta’addudiyah Fi Mujtama’ Islamiy

Penulis : Gamal Al Banna

Pengantar : Prof. DR. Azyumardi Azra, MA

Tebal Buku : 93 halaman termasuk biodata tentang penulis

Peresensi : Otjih Sewandarijatun

------------------------------------------------------------

Lihat Lainnya »