» Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea » Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points » Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia » Berebut Kedaulatan Spratly, Memicu Ketegangan Baru di Asia Tenggara Pada Era Donald Trump » Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi


Intelijen
20-02-2013
Kematian Misterius Mata-Mata Mossad
Mossad dan Misteri Kematian Ben Zygier

Ben Zygier, seorang Yahudi dengan dua kewarganegaraan Australia dan Israel tewas secara misterius pada Desember 2010 di penjara Ayalon. Ben Zygier mendekam dalam sel khusus selama dua bulan dan dilaporkan meninggal gantung diri dengan tali yang mengikat lehernya.


Jaringan ABC Australia Selasa (19/2) melaporkan sebelum meninggal pemuda malang berusia 34 tahun itu menyerahkan informasi mengenai operasi Mossad kepada dinas intelejen Australia.

Televisi ABC pertama kali membongkar informasi bagi publik dunia mengenai kematian misterius mata-mata Mossad di penjara Israel itu. Dilaporkan Zygier pernah bertemu dengan seorang perwira dinas intelejen Australia. Tidak hanya itu, dalam salah satu dari empat kunjungan baliknya ke Australia, mata-mata Israel itu juga mengajukan visa kerja ke kedutaan Italia di Sydney. Dengan fakta itu, kecil kemungkinan Zygier mati akibat bunuh diri sebagaimana klaim pihak Tel Aviv selama ini.

Tampaknya, Mossad sengaja membunuh "Tahanan X" itu karena khawatir Zygier membocorkan berbagai informasi penting terutama mengenai operasi rahasia Mossad di Italia.

Kantor berita Jerman, DPA dalam laporannya Selasa (19/2) mengutip ABC mengungkapkan bahwa Zygier ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara Israel karena membocorkan informasi kepada pihak intelejen Australia.

"Zygier dibesarkan di keluarga Yahudi terkemuka Melbourne. Ia tiga kali mengubah namanya ketika bertugas di Mossad. Ia juga menggunakan paspor dan identitas baru demi memuluskan tugasnya sebagai mata-mata Mossad di kawasan Asia Barat dan Afrika Utara.

Sumber lain mengungkapkan, Zygier meninggalkan Australia dan memasuki Israel sejak tahun 2000 lalu. Sebelum lulus sebagai sarjana hukum dari Universitas Melbourne, ia sudah bertugas di militer Israel. Ia juga memiliki dua kewarganegaraan, Australia dan Israel.

Dilaporkan, Zygier juga mendirikan sebuah perusahaan telekomunikasi Eropa yang menjual peralatannya ke negara-negara Arab demi kepentingan Mossad dan Eropa.  

Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Australia, Bob Carr menyatakan beberapa hari sebelum penangkapan Ben Zygier di tahun 2010, pemerintah Australia mengetahui pejabat Israel akan menangkapnya. Untuk itu, ia memerintahkan penyelidikan kasus tersebut.

Reuters melaporkan para pengacara Israel Ahad (17/2) menyampaikan prakarsa dibentuknya tim khusus untuk menyelidiki misteri kematian Zygier. Di sisi lain, Perdana Menteri israel Benyamin Netanyahu pada hari yang sama kepada media nasional dan internasional meminta semua pihak tidak terfokus pada kasus "Tahanan X". Meskipun Netanyahu percaya penuh terhadap sistem keamanan Mossad, tapi perhatian publik terhadap masalah ini akan mengganggu sistem keamanan Israel.

Pekan lalu, Firefox Australia menyatakan bahwa Ben Zygier merupakan salah satu dari tiga warga Australia yang diinterogasi pada permulaan tahun 2010 akibat aktivitasnya melakukan aksi intelejen untuk kepentingan Israel di negeri Kanguru itu. (TGR/IRIBIndonesia)



Artikel Terkait
» Puluhan Negara Membantu Operasi Rahasia CIA
» Pentagon Lakukan Investigasi Kematian Komandannya di Afghanistan
» Jejak-jejak Mossad di Irak



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia
Pada 2014 lalu, Global Future Institute sempat menyorot secara khusus etnis Tatar yang bermukim di Crimea. Waktu itu, beberapa tokoh etnis Tatar dari seluruh dunia berkumpul ...

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Lewat Sepucuk Surat Trump Cairkan Hubungan dengan China

Khayalan Tingkat Dewa, Komunis Bangkit Lagi

Pilkada: Untuk Rakyat atau Politisi

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Indonesia dan Korsel Bahas Kerjasama Bilateral

Uni Eropa akan Tetap Terapkan Sanksi kepada Rusia

Uni Eropa Diminta Tidak Ikuti Permainan Trump

Cinta dan Kebenaran

Rex Tillerson Dikukuhkan sebagai Menlu AS

Sekjen PBB Desak AS Cabut Larangan Masuknya Pengungsi Muslim

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »