English     Indonesia  
Menu Rubrik
Internasional
Politik
Asean
Analisis
Hukum
Ekonomi dan Bisnis
Industri Strategis
Hankam
Sosial Budaya
Lingkungan Hidup
Kesehatan
Wawancara Khusus
Gaya Hidup
Diplomasi
Komentar Pembaca
Ucapan Puasa
Departemen Luar Negeri RI
PBNU
ISAFIS
Selamatkan Indonesia
Kajian Timur Tengah
Magister HI Unpad
Informasi Wisata Bali
Anggia Putri Nilasari
World Future Online
Budaya Sunda
   Artikel Pilihan
No data yet
   Jajak Pendapat
Membentuk kekuatan baru selain PBB guna menekan Israel membuka blokade atas Gaza?
Sangat Perlu
Perlu
Tidak Perlu
Tidak Tahu
   
Dirgahayu RI
Analisis
28-12-2009
Peran Indonesia Dalam Kampanye Anti Ranjau Darat dan Misteri Kematian Ladi Diana dari Inggris
Penulis : Hendrajit

Tak selamanya citra Indonesia di arena internasional buram dan memalukan. 29 November lalu, merupakan sebuah anugrah bagi Indonesia khususnya Departemen Luar Negeri RI. Indonesia disahkan sebagai Ketua Bersama Komite Tetap  Penghancuran Cadangan (stockpile) Ranjau Darat bersama Bulgaria pada High Level Segment Konferensi Kaji Ulang Konvensi Pelarangan RDAP (Konvensi Ottawa) ke-2 di Cartagena, Kolombia.


“Penghancuran cadangan (stockpile) ranjau darat anti personil (RDAP) yang dimiliki Indonesia tiga tahun sebelum batas waktu yang ditetapkan merupakan bukti komitmen Indonesia dalam mewujudkan perdamaian dan keamanan internasional”, demikian ditegaskan Wakil Tetap Republik Indonesia untuk PBB, WTO, dan Organisasi Internasional lainnya, Duta Besar Dian Triansyah Djani. Indonesia telah menghancurkan 11.603 ranjau darat.

Meskipun Konvensi mengenai Ranjau Darat (Konvensi Ottawa) telah berlaku sejak tahun 1999 dan sudah 156 negara menjadi pihak, namun masih terdapat 39 negara yang belum menjadi anggota Konvensi, di antaranya Amerika Serikat, China, India dan Rusia. Dengan kata lain, hamper semua Negara adidaya sepertinya belum memberikan komitmen untuk menghncurkan semua ranjau darat.
Saat ini masih terdapat lebih dari 160 juta ranjau darat yang belum dihancurkan. Asia Tenggara merupakan salah satu wilayah yang paling terkena dampak ranjau, namun di sisi lain tiga dari 13 negara produsen ranjau darat di dunia juga berada di Asia Tenggara. Indonesia senantiasa menyerukan kepada negara-negara yang belum menjadi pihak agar segera meratifikasi Konvensi.

Ini menarik, karena menurut berbagai sumber informasi yang berhasil dihimpun tim Global Future Institute, ada banyak pebisnis industri strategis yang merasa dirugikan jika Komite Penghancuran Cadangan Ranjau Darat memutuskan untuk menghancurkan Ranjau telah memakan korban ribuan warga sipil yang tidak berdosa di seluruh dunia.

Bahkan menariknya lagi, salah satu teori berkenaan dengan tewasnya Ladi Diana, istri Pangeeran Charles dari kerajaan Inggris pada 1997 lalu, dibunuh karena dia secara gencar mengampanyekan dihancurkannya ranjau darat di seluru dunia. Ada beberapa industrialis persenjataan di Amerika dan Eropa yang merasa terancam dengan kegiatan Ladi Diana yang ikut dalam gerakan kampanye anti ranjau darat.

Benar tidaknya teori ini, memang perlu investigasi lebih lanjut. Celakanya, pemerintahan Inggris beserta aparat keamanannnya, sepertinya lebih senang menutup kasus ini agar tidak melebar. Sehingga yang berkembang kemudian malah Ladi Diana dibunuh karena dia bermaksud menikah dengan Dodi Al Fayet yang beragama Islam.

Namun, para pihak yang menganut teori konspirasi atau meyakini bahwa ada konspirasi global, maka kematian Ladi Diana berkaitan dengan gerakan anti ranjau darat kiranya lebih masuk akal untuk dipertimbangkan sebagai salah satu faktor yang mendorong kelompok industrialis internasional dalam bidang persenjataan menggerakkan kaki tangannya untuk menghabisi nyata Ladi Diana.

Semakin masuk akal lagi dengan fakta bahwa, saat ini masih terdapat lebih dari 160 juta ranjau darat yang belum dihancurkan. Tantangan yang dihadapi oleh Indonesia pun semakin berat dengan fakta bahwa tiga dari 13 negara produsen ranjau darat berasal dari Asia Tenggara.

Begitupun kita patut member apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Indonesia.Seperti laporan pihak Departemen Luar Negeri RI, dalam Konperensi Cartagena, Indonesia telah menegaskan komitmennya dalam mewujudkan perdamaian dan keamanan internasional sesuai amanat Pembukaan UUD 1945. Sebagai salah satu penyumbang Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB, Indonesia akan terus menjajaki kerjasama untuk  meningkatkan kemampuan personil Pasukan Pemelihara Perdamaian, termasuk yang berkaitan dengan pendeteksian dan pembersihan ladang ranjau.

Penulis adalah Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI) dan Pemimpin Redaksi the Global Review dotcom







Artikel Terkait
» Perang dan Hadiah Nobel
» Bangkitnya Amerika Latin
» Pengaruh Penjualan Senjata AS ke Taiwan Terhadap Hubungan Cina - Taiwan
» Kelas Kilo, Jenis Kapal Selam Yang Tepat Bagi Indonesia
» Obama Tetap Pertahankan Kebijakan Militeristik di Afghanistan
» Cakil
» “Globalisasi ..., Jangan Rampas Hak Kami ...”



Cari :
Nash of Journalism School
   Isu Hangat »
Bangkitnya Kembali Militerisme Jepang di Asia Pasifik Sudah Diambang Pintu
Ada satu perkembangan yang cukup mencemaskan di Jepang dalam beberapa bulan terakhir ini. Issui-kai, atau Masyarakat Rabu" ("Wednesday Society"), dibentuk pada 1970-an oleh para penggemar novelis ...

Mewaspadai Meningkatnya Kekuatan Militer Cina (Bagian 2)

Deklarasi Konferensi PD II DI Kuala Lumpur

The Malaysian Experience & Hope For The Future

Japan as an Independent Player in an out of control Asia

Pernyataan GFI pada Konferensi Internasional tentang Perang Dunia II di KL

Lihat lainya »
   Arsip
Invasi Berakhir, Stimulus Bergulir

Risiko Bayangi Pelonggaran Kredit di AS

Obama Hadapi Tantangan Terberat Mereformasi Perbankan

Alunan Angklung di Kampus Lebanon

60 Tewas Akibat Demam Berdarah di Honduras

Mahmoud Abbas : Israel Harus Bekukan Pemukiman Yahudi

Korut Berusaha Tingkatkan Hubungan Militer dengan China

Gamelan Bali Getarkan Jantung Seni Musik Rusia

Perang Gaza, Perang Gas

Kritik untuk EraMuslim Lagi: Mengapa AS Menyerang Irak?

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang : Travis Heerman
Petualangan Seorang Pendekar Jepang

PADA tahun 1960-an dan 1970-an, komik mengalami masa kejayaan di Indonesia. Sejumlah komikus menghasilkan pelbagai cerita yang menarik minat masyarakat. Para pendekar dari dunia imajinasi pun menjadi panutan orang-orang di dunia nyata. Sosok mereka—sebut saja misalnya Si Buta dari Goa Hantu, Panji Tengkorak, Pendekar Bambu Kuning, Si Pitung, dan Jaka Sembung—menjadi legenda.

Lihat Lainnya »

© 2008 - 2010 theglobal-review.com All rights reserved