English     Indonesia  
Menu Rubrik
Internasional
Politik
Asean
Analisis
Hukum
Ekonomi dan Bisnis
Industri Strategis
Hankam
Sosial Budaya
Lingkungan Hidup
Kesehatan
Wawancara Khusus
Gaya Hidup
Diplomasi
Komentar Pembaca
Ucapan Puasa
Departemen Luar Negeri RI
PBNU
ISAFIS
Selamatkan Indonesia
Kajian Timur Tengah
Magister HI Unpad
Informasi Wisata Bali
Anggia Putri Nilasari
World Future Online
Budaya Sunda
   Artikel Pilihan
No data yet
   Jajak Pendapat
Membentuk kekuatan baru selain PBB guna menekan Israel membuka blokade atas Gaza?
Sangat Perlu
Perlu
Tidak Perlu
Tidak Tahu
   
Dirgahayu RI
Analisis
27-12-2009
Perang dan Hadiah Nobel
Penulis : Howard Zinn

Saya kaget saat mendengar bahwa Barack Obama mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian. Sebuah shock, sesungguhnya, untuk berpikir bahwa seorang presiden yang sedang memimpin dua perang diberi Nobel Perdamaian. Namun kemudian saya teringat bahwa Woodrow Wilson, Theodore Roosevelt, dan Henry Kissinger juga menerima Nobel Perdamaian. Komite (Panitia) Nobel Perdamaian terkenal atas penilaian mereka yang dangkal, didominasi oleh retorika dan gerakan kosong, serta mengabaikan pelanggaran terang-terangan terhadap perdamaian dunia.


Ya, Wilson mendapat Nobel karena ‘jasa’-nya membentuk Liga Bangsa-Bangsa, sebuah lembaga yang tidak efektif yang tidak melakukan apapun untuk mencegah perang. Tetapi, Wilson telah membombardir pantai Mexico, mengirim tentara ke Haiti, dan Republik Dominika. Wilson juga membawa AS ke kancah pembantaian di Eropa dalam PD I; perang yang bisa dipastikan sebagai perang yang paling bodoh dan mematikan.

Benar, Theodore Roosevelt telah memediasi perdamaian antara Jepang dan Russia. Tapi dia adalah pencinta perang, yang berpartisipasi dalam penaklukan Cuba oleh AS, berpura-pura membebaskannya dari Spanyol sambil memperkuat rantai AS di pulau kecil itu. Dan sebagai presiden, dia telah memimpin perang berdarah untuk menaklukkan Filipina, bahkan memberi selamat kepada seorang jenderal AS yang telah membantai 600 penduduk desa di Filipina. Panitia Nobel tak memberikan hadiah Nobel pada Mark Twain, yang mengkritik Roosevelt dan perang, tidak juga kepada William James, pemimpin liga anti-imperialist.

Oh ya, komite Nobel melihat bahwa adalah layak untuk memberi hadiah perdamaian kepada Henry Kissinger, karena dia telah menandatangani perjanjian damai final yang mengakhiri perang Vietnam; perang yang salah satu arsiteknya adalah dia sendiri. Kissinger, jelas-jelas mendukung perang ekspansionis  Nixon itu, dengan mengebom desa-desa petani di Vietnam, Laos dan Kamboja. Kissinger, yang sangat cocok dengan gelar ‘penjahat perang’ itu, telah diberi hadiah perdamaian!

Seseorang seharusnya diberi hadiah Nobel Perdamaian bukan atas dasar janji yang mereka buat, sebagaimana Obama –seorang pembuat janji yang fasih—tetapi atas dasar pencapaian riil/nyata dalam mengakhiri perang. Obama telah melanjutkan aksi militer yang mematikan dan tidak manusiawi di Iraq, Afghanistan, dan Pakistan. Komite Nobel Perdamaian seharusnya pensiun dan menyerahkan dana raksasa [yang mereka kelola] kepada beberapa organisasi perdamaian internasional  yang tidak terpesona oleh ‘bintang’ dan retorika, dan memiliki pemahaman atas sejarah.

(translated from an article by Howard Zinn, Profesor Emeritus of Political Science, by Dina Y Sulaeman)



Artikel Terkait
» Bangkitnya Amerika Latin
» Pengaruh Penjualan Senjata AS ke Taiwan Terhadap Hubungan Cina - Taiwan
» Perang Irak Vs Realisme
» Kebangkitan China menurut Realis
» Kelas Kilo, Jenis Kapal Selam Yang Tepat Bagi Indonesia
» Marsilam Simanjuntak, Staf-nya Siapa?
» Layanan Informasi Bagi Yang Ingin Mendalami Studi Intelijen Ekonomi
» Obama Tetap Pertahankan Kebijakan Militeristik di Afghanistan
» Obama Lumpuhkan Program Pemberdayaan Masyarakat Muslim Miskin Amerika



Cari :
Nash of Journalism School
   Isu Hangat »
Bangkitnya Kembali Militerisme Jepang di Asia Pasifik Sudah Diambang Pintu
Ada satu perkembangan yang cukup mencemaskan di Jepang dalam beberapa bulan terakhir ini. Issui-kai, atau Masyarakat Rabu" ("Wednesday Society"), dibentuk pada 1970-an oleh para penggemar novelis ...

Mewaspadai Meningkatnya Kekuatan Militer Cina (Bagian 2)

Deklarasi Konferensi PD II DI Kuala Lumpur

The Malaysian Experience & Hope For The Future

Japan as an Independent Player in an out of control Asia

Pernyataan GFI pada Konferensi Internasional tentang Perang Dunia II di KL

Lihat lainya »
   Arsip
Invasi Berakhir, Stimulus Bergulir

Risiko Bayangi Pelonggaran Kredit di AS

Obama Hadapi Tantangan Terberat Mereformasi Perbankan

Alunan Angklung di Kampus Lebanon

60 Tewas Akibat Demam Berdarah di Honduras

Mahmoud Abbas : Israel Harus Bekukan Pemukiman Yahudi

Korut Berusaha Tingkatkan Hubungan Militer dengan China

Gamelan Bali Getarkan Jantung Seni Musik Rusia

Perang Gaza, Perang Gas

Kritik untuk EraMuslim Lagi: Mengapa AS Menyerang Irak?

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang : Travis Heerman
Petualangan Seorang Pendekar Jepang

PADA tahun 1960-an dan 1970-an, komik mengalami masa kejayaan di Indonesia. Sejumlah komikus menghasilkan pelbagai cerita yang menarik minat masyarakat. Para pendekar dari dunia imajinasi pun menjadi panutan orang-orang di dunia nyata. Sosok mereka—sebut saja misalnya Si Buta dari Goa Hantu, Panji Tengkorak, Pendekar Bambu Kuning, Si Pitung, dan Jaka Sembung—menjadi legenda.

Lihat Lainnya »

© 2008 - 2010 theglobal-review.com All rights reserved