English     Indonesia  
Menu Rubrik
Internasional
Politik
Asean
Analisis
Hukum
Ekonomi dan Bisnis
Industri Strategis
Hankam
Sosial Budaya
Lingkungan Hidup
Kesehatan
Wawancara Khusus
Gaya Hidup
Diplomasi
Komentar Pembaca
Ucapan Puasa
Departemen Luar Negeri RI
PBNU
ISAFIS
Selamatkan Indonesia
Kajian Timur Tengah
Magister HI Unpad
Informasi Wisata Bali
Anggia Putri Nilasari
World Future Online
Budaya Sunda
   Artikel Pilihan
No data yet
   Jajak Pendapat
Membentuk kekuatan baru selain PBB guna menekan Israel membuka blokade atas Gaza?
Sangat Perlu
Perlu
Tidak Perlu
Tidak Tahu
   
Dirgahayu RI
Analisis
03-12-2009
Afghanistan
Obama Tetap Pertahankan Kebijakan Militeristik di Afghanistan
Penulis : Hendrajit

Ternyata Obama tidak lebih baik dari pendahulunya George W. Bush dalam kebijakan luar negerinya. Hal ini secara jelas dan gamblang terlihat melalui keputusannya untuk menambah 30 ribu pasukannya di Afghanistan, dan penambahan anggaran militer sebesar 30 milliar dolar Amerika Serikat.


Lucunya, kongres sebagai lembaga legislatif yang berfungsi mengawasi sepak-terjang Obama sebagai kepala eksekutif, semula berkeberatan atas keputusan Obama namun akhirnya setuju juga. Lebih lucu lagi, Partai Demokrat dan Republik semula sama-sama menentang keputusan Obama dengan alasan berbeda, namun kedua partai tersebut akhirnya setuju juga.

Begitu Obama memutuskan untuk menambah 30 ribu pasukannya di Afghanistan, Partai Demokrat yang notabene merupakan kendaraan politik Obama yang menghantarkannya menjadi Presiden AS menggantikan George W. Bush yang dianggap “gila perang,” semula menentang penambahah pasukan militernya sebesar itu dengan alasan bahwa pendekatan militer bukanlah solusi yang tepat untuk menciptakan stabilitas politik di Afghanistan.

Sedangkan Partai Republik, begitu mendengar keputusan Obama menambah 30 ribu pasukan militernya berikut anggaran sebesar 30 milliar dolar Amerika Serikat, juga berkeberatan namun dengan alasan: Berkeberatan dengan rencana Obama untuk menarik mundur secara sepihak pasukan militer Amerika dari Afghanistan pada 2011 mendatang.

Namun jika dicermati secara lebih mendalam, memang itulah siasat yang dimainkan Obama untuk mematahkan tekanan dari Kongres maupun  warga masyarakat Amerika yang sudah muak dengan keterlibatan militer Amerika di Afghanistan maupun Irak.

Keberatan Partai Republik yang notabene merupakan partai pesaing Bush pada pemilu 2008 lalu, pada hakekatnya tidak menentang sama sekali pendekatan militeristik Obama dengan penambahan pasukan militer di Afghanistan. Karena dalam skenario Obama, meski dia berjanji bahwa Amerika akan menarik pasukannya dari Afghanistan pada 2011, namun tidak secara otomatis janji Obama tersebut akan dilaksanakan. Karena masih sangat tergantung pada kondisi obyektif yang terjadi di lapangan dua tahun yang akan datang. Kalau situasi di Afghanistan masih tetap genting dan tidak kondusif, bisa jadi kehadiran militer Amerika masih akan tetap dipertahankan.

Inilah yang ditekankan betul oleh Senator Partai Republik John McCain, yang pada pemilu presiden 2008 lalu merupakan pesaing Obama. John McCain, berkali-kali bertanya kepada Menteri Pertahanan Robert Gates apakah Amerika tetap akan menarik mundur pasukannya pada Juli 2011 mendatang meskipun kondisi Afghanistan tetap genting. Di balik pertanyaan Senator McCain, partainya berkeberatan jika Obama begitu saja meninggalkan arena peperangan meskipun kondisi Afghanistan masih tetap genting dan kritis seperti sekarang.

Nampaknya bagi McCain, isyarat Obama untuk penarikan mundur pasukannya dari Afghanistan merupakan isyarat kekalahan Amerika terhadap Taliban dan Al-Qaeda. Bagi McCain dan Partai Republik, agaknya haram hukumnya untuk dianggap kalah oleh kedua kelompok Islam radikal yang dicap teroris semasa kepresidenan Bush.

Namun, itu pula keberhasilan siasat cerdik Obama. Dengan dengan desakan kuat McCain dan Partai Republik agar Obama tidak begitu saja meninggalkan arena peperangan pada 2011,  Obama nampkanya dengan sengaja menggunakan desakan Republik untuk mendapat pembenaran untuk tetap mempertahankan kehadiran militernya pada 2011 mendatang.

Menurut Menteri Pertahanan Robert Gates di depan rapat dengan komisi Angkatan Bersenjata senat, pada 2011 nanti Amerika akan menarik mundur pasukannya. Dan hal itu sudah pasti meskipun dijalankan dengan flexible.

Namun yang menarik adalah, Gates juga menyatakan bahwa Obama sebagai presiden berwenang untuk merubah arah kebijakannya setelah Departemen Pertahanan Amerika (Pentagon) melakukan penilaian strategis (assessment) pada Desember 2010 mendatang. Berarti sektiar satu tahun sebelum batas waktu penarikan mundur pasukan Amerika dari Afghanistan pada Juli 2011.

Di sinilah cerdiknya permainan akal-akalan Obama mengelabui Kongres dan berbagai elemen masyarakat Amerika yang pada dasarnya anti perang.

Penulis merupakan Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI)



Artikel Terkait
» Obama Lumpuhkan Program Pemberdayaan Masyarakat Muslim Miskin Amerika
» Sebuah Kata Pamit yang Radikal
» Surat Terbuka Kepada Presiden SBY
» Rencana Kedatangan Presiden AS Ke Indonesia
» Polisi, Politik dan Publik
» Pikiran Model Privatisasi



Cari :
Nash of Journalism School
   Isu Hangat »
Bangkitnya Kembali Militerisme Jepang di Asia Pasifik Sudah Diambang Pintu
Ada satu perkembangan yang cukup mencemaskan di Jepang dalam beberapa bulan terakhir ini. Issui-kai, atau Masyarakat Rabu" ("Wednesday Society"), dibentuk pada 1970-an oleh para penggemar novelis ...

Mewaspadai Meningkatnya Kekuatan Militer Cina (Bagian 2)

Deklarasi Konferensi PD II DI Kuala Lumpur

The Malaysian Experience & Hope For The Future

Japan as an Independent Player in an out of control Asia

Pernyataan GFI pada Konferensi Internasional tentang Perang Dunia II di KL

Lihat lainya »
   Arsip
Invasi Berakhir, Stimulus Bergulir

Risiko Bayangi Pelonggaran Kredit di AS

Obama Hadapi Tantangan Terberat Mereformasi Perbankan

Alunan Angklung di Kampus Lebanon

60 Tewas Akibat Demam Berdarah di Honduras

Mahmoud Abbas : Israel Harus Bekukan Pemukiman Yahudi

Korut Berusaha Tingkatkan Hubungan Militer dengan China

Gamelan Bali Getarkan Jantung Seni Musik Rusia

Perang Gaza, Perang Gas

Kritik untuk EraMuslim Lagi: Mengapa AS Menyerang Irak?

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang : Travis Heerman
Petualangan Seorang Pendekar Jepang

PADA tahun 1960-an dan 1970-an, komik mengalami masa kejayaan di Indonesia. Sejumlah komikus menghasilkan pelbagai cerita yang menarik minat masyarakat. Para pendekar dari dunia imajinasi pun menjadi panutan orang-orang di dunia nyata. Sosok mereka—sebut saja misalnya Si Buta dari Goa Hantu, Panji Tengkorak, Pendekar Bambu Kuning, Si Pitung, dan Jaka Sembung—menjadi legenda.

Lihat Lainnya »

© 2008 - 2010 theglobal-review.com All rights reserved