» Indonesia Masa Depan Sebagai Negara Maritim Terbesar di Asia (Bag. II) » Revisi PP 41/1996, Pintu Masuk Menuju Kolonialisme Ekonomi » Indonesia Masa Depan Sebagai Negara Maritim Terbesar di Asia (Bag. I) » Melacak Jejak Para Taipan Indonesia Investasi di Daratan Cina » Permainan Intelijen Asing di Tolikara, Papua


Internasional
03-11-2012
Kerjasama Negara di Samudera Hindia
Konektifitas Menjadi Perhatian Kerja Sama Samudera Hindia

Negara-negara di pesisir Samudera Hindia menaruh perhatian besar terhadap konektifitas sebagai upaya untuk memperkuat kerja sama Samudera Hindia. Hal ini menjadi salah satu kesimpulan yang dihasilkan dalam Pertemuan Tingkat Menteri Asosiasi Lingkar Samudera Hindia bagi Kerja Sama Kawasan (Indian Ocean Rim Association for Regional Cooperation atau IOR-ARC) yang berlangsung di Gurgaon, India (2/11).


Ketua Delegasi Indonesia Sekretaris Jenderal Kemlu, menyampaikan bahwa di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia serta kesulitan ekonomi di benua Eropa dan Amerika, negara-negara di Lingkar Samudera Hindia harus meningkatkan kerja sama di berbagai bidang.

“Konektifitas harus ditingkatkan, baik konektifitas fisik seperti jalan, pelabuhan, dan perkapalan, maupun dalam bentuk konektifitas institusional serta hubungan antar warga Samudera Hindia. Kawasan Samudera Hindia diproyeksikan menjadi semakin penting dalam pergaulan internasional”, jelasnya.

Selain itu, Dubes Bowoleksono menuturkan bahwa bidang kerja sama lain yang menjadi perhatian adalah keamanan maritim dan pembajakan di laut; pengurangan ancaman bencana; fasilitasi perdagangan dan investasi; pengelolaan perikanan; kerja sama akademik dan iptek; serta pariwisata dan kebudayaan.

Selain itu, perhatian besar juga diberikan terhadap ketahanan pangan, kesehatan perubahan iklim, dan traditional knowledge.

IOR-ARC dibentuk tahun 1997 dan keanggotaannya terdiri dari 20 negara di pesisir Samudera Hindia, mulai dari Afrika sebelah timur, Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Australia. Negara mitra wicara adalah Tiongkok, Mesir, Inggris, Jepang, dan Perancis. AS juga telah diterima sebagai mitra wicara.

Pada pertemuan ini, Indonesia dipilih sebagai Wakil Ketua untuk periode 2013-2015, sementara Australia akan menjadi Ketua pada periode tersebut. Indonesia akan menjadi Ketua IOR-ARC tahun 2015-2017. (Sumber: KSI ASPASAF)

 


Sumber :Kemlu RI

 

Advance Search

   Isu Hangat »
Revisi PP 41/1996, Pintu Masuk Menuju Kolonialisme Ekonomi
Soal penguasaan lahan tanah dan properti, jangan dianggap enteng. Karena dalam skema ekonomi para Taipan dan pelaku bisnis asing, hal itu merupakan tahapan awal untuk menanam ...

Indonesia Masa Depan Sebagai Negara Maritim Terbesar di Asia (Bag. I)

Permainan Intelijen Asing di Tolikara, Papua

Anthrax, Proyek Militer AS Berkedok Proyek Riset Kesehatan (Bag I)

Nilai Strategis Kerjasama Indonesia-Rusia bidang Energi Dari Perspektif Kepentingan Nasional

Menyambut Baik Babak Baru Kerjasama Energi Nuklir Indonesia-Rusia

Lihat lainya »
   Arsip
BIN dan Tolikara

Korban Tewas 4000 Lebih, HRW Nyatakan Saudi Berpotensi Lakukan Kejahatan Perang

Dewan Keamanan Perpanjang Mandat Misi PBB di Somalia

Indonesia Masa Depan Sebagai Negara Maritim Terbesar di Asia (Bag. I)

Aceh dan Papua, Satu Skema Penguasaan Asing?

Aceh-Papua: Pintu Masuk Balkanisasi Nusantara

Inggris akan Gelar Referendum Keanggotaan UE pada 2016

Jokowi dan David Cameron Bakal Tanda Tangani Sejumlah MoU

Cina Minta AS tidak Menjadi Wasit di Laut Cina Selatan

Dengan Mantra "Verdeel en heers", Kolonialisme Bisa Membangun Kekuasaan di Negara Lain

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Bagaimana Membaca Novel Foucault's Pendulum?

Pendahuluan
Novel Foucault’s Pendulum karya Umberto Eco edisi bahasa Indonesia telah diterbitkan pada November 2010. Karya aslinya dalam bahasa Italia, Il Pendolo di Foucault, terbit pertama kali pada 1988. Setahun kemudian baru diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Foucault’s Pendulum. Nama Foucault pada judul itu mengingatkan pada tokoh filsafat kontemporer, Michel Foucault. Tokoh yang relatif dikenal dalam kajian humaniora. Padahal nama Foucault pada judul novel Eco adalah nama penemu pendulum yang tidak lain adalah Leon Foucault.

Lihat Lainnya »