» Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) » Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia » Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan » Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida


Internasional
03-11-2012
Kerjasama Negara di Samudera Hindia
Konektifitas Menjadi Perhatian Kerja Sama Samudera Hindia

Negara-negara di pesisir Samudera Hindia menaruh perhatian besar terhadap konektifitas sebagai upaya untuk memperkuat kerja sama Samudera Hindia. Hal ini menjadi salah satu kesimpulan yang dihasilkan dalam Pertemuan Tingkat Menteri Asosiasi Lingkar Samudera Hindia bagi Kerja Sama Kawasan (Indian Ocean Rim Association for Regional Cooperation atau IOR-ARC) yang berlangsung di Gurgaon, India (2/11).


Ketua Delegasi Indonesia Sekretaris Jenderal Kemlu, menyampaikan bahwa di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia serta kesulitan ekonomi di benua Eropa dan Amerika, negara-negara di Lingkar Samudera Hindia harus meningkatkan kerja sama di berbagai bidang.

“Konektifitas harus ditingkatkan, baik konektifitas fisik seperti jalan, pelabuhan, dan perkapalan, maupun dalam bentuk konektifitas institusional serta hubungan antar warga Samudera Hindia. Kawasan Samudera Hindia diproyeksikan menjadi semakin penting dalam pergaulan internasional”, jelasnya.

Selain itu, Dubes Bowoleksono menuturkan bahwa bidang kerja sama lain yang menjadi perhatian adalah keamanan maritim dan pembajakan di laut; pengurangan ancaman bencana; fasilitasi perdagangan dan investasi; pengelolaan perikanan; kerja sama akademik dan iptek; serta pariwisata dan kebudayaan.

Selain itu, perhatian besar juga diberikan terhadap ketahanan pangan, kesehatan perubahan iklim, dan traditional knowledge.

IOR-ARC dibentuk tahun 1997 dan keanggotaannya terdiri dari 20 negara di pesisir Samudera Hindia, mulai dari Afrika sebelah timur, Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Australia. Negara mitra wicara adalah Tiongkok, Mesir, Inggris, Jepang, dan Perancis. AS juga telah diterima sebagai mitra wicara.

Pada pertemuan ini, Indonesia dipilih sebagai Wakil Ketua untuk periode 2013-2015, sementara Australia akan menjadi Ketua pada periode tersebut. Indonesia akan menjadi Ketua IOR-ARC tahun 2015-2017. (Sumber: KSI ASPASAF)

 


Sumber :Kemlu RI

 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Panglima TNI: Generasi Penerus TNI Harus Sensitif Terhadap Isu Global

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Panglima TNI: Tujuh Langkah untuk Menguasai Indonesia

Mengapa China Bersemangat Membangun Infrastruktur di Indonesia?

Tentara Filipina Tewaskan 10 Aktivis Garis Keras Guna Bebaskan Sandera

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »