» Neo Nazis and Israeli hands in Ukraine » Some Russian war preparedness strategic reasons to retain Crimea and Ukraine's border regions » Ukraine in the Zbigniew Brzezinski's geopolitical perspective » The failure of Color Revolution scenario and U.S. turning point in Ukraine » China, never 'sing' again!


Defense and Security
26-04-2011
Kisah Tragis Skadron 11 TNI AU dan Aneka Pesawat Tempur Buatan Rusia

Setelah melahap Kesaksian Seorang Kelana (1997), Tim Aerobatik Elang Biru (1998), dan Menyibak Kabut Halim (1999); pecinta sejarah dan kiprah angkatan udara di negeri ini akan kembali berkesempatan untuk lebih mengenalnya melalui Perjalanan dan Pengabdian (Skadron 11) buah karya F. Djoko Poerwoko. Sesuai judulnya, melalui buku ini, penerbang tempur TNI AU yang kini Komandan Pangkalan TNI AU Iswahyudi, Madiun ini, seakan ingin mengantar pembacanya untuk memahami benar makna dan arti dedikasi sebuah skadron jet tempur. Sebuah pengungkapan yang memang belum pernah dibukukan, bahkan dengan begitu apa adanya dan komplit dengan kecelakaan-kecelakaan yang dialami penerbangnya.

Pilihan Poerwoko untuk memperkenalkan dedikasi sebuah skadron tempur dengan membedah Skadron Udara 11 bisa dikatakan cukup mengena. Itu karena selain skadron ini pernah diperkuat dengan berbagai jenis jet yang dahulu dikenal sebagai pesawat pancar gas, Skadron 11 juga dikenal sebagai skadron jet tertua bagi TNI AU (atau yang dahulu dikenal sebagai AURI).

Penulis begitu memahami obyeknya secara rinci, karena kelahiran Klaten 9 September 1950 ini memang tercatat sebagai salah seorang penerbang seniornya. Saudara kandung wartawan senior harian Kompas (Julius Poer) dan wartawan TVRI (Djoko Poernomo) yang pernah menjadi jurnalis Majalah Angkasa (1978-88) ini, tak lain adalah penerbang Skadron 11 ke-36 (Thunder-36).

Perjalanan Skadron 11 dimulai sejak 1 Juni 1957. Jika merunut nomor urut pendirian skadron udara yang ada dalam tubuh AURI, skadron yang satu ini sendiri 'mestinya' dianugrahi angka 6. Namun, atas satu dan lain pertimbangan, pimpinan AURI waktu itu lebih suka dengan angka 11 mengingat kelahirannya bertepatan dengan Hari Jadi AURI yang ke-11. Ketika itu, sesuai Surat Penetapan KSAU 23 April 1951, yang telah operasional adalah Skadron 1 (Pembom) dengan pesawat B-25 Mitchell, Skadron 2 (Angkut) dengan C-47 Dakota, Skadron 3 (Pemburu) dengan P-51D Mustang, Skadron 4 (Intai Darat) dengan Auster, dan Skadron 5 (Intai Laut) dengan amfibi PBY-54 Catalina.

Walaupun demikian, ada juga yang meyakini, Skadron 11 telah ada sejak 1956. Itu karena perjalanannya telah dirintis oleh Kesatuan Pancar Gas embrio skadron jet tempur yang berdiri pada 20 Februari 1956. Kekuatannya bertumpu pada 16 jet pertama Indonesia DH Vampire yang dikomandani Letnan Udara I Leo Wattimena. Namun jet-jet asal Inggris ini, dikisahkan, hanya 'seumur jagung'. Masalahnya, begitu hubungan politik dengan Barat terputus, RI segera merangkul Timur. Pemutusan suplai suku-cadang Vampire segera 'dibalas' dengan pembelian jet-jet asal Blok Timur. Maka dimulailah era MiG-15 UTI dan MiG-17PF berikut penerbangnya seperti Dewanto, Hapit, Ramli, Dono Indarto, dan Hamami. Markasnya berkedudukan di Pangkalan Udara Husein Sastranegara, Bandung.

Dari tahun-ke-tahun organisasinya terus berkembang. Terlebih ketika Presiden Soekarno memanfaatkan kekuatan Timur untuk menghadapi Belanda di Irian Barat. Ketika itu, Februari 1962, Pemerintah bahkan sampai membelanjakan anggarannya hingga setengah milyar dollar hanya untuk membeli MiG-21, Il-28, Tu-16, Antonov, lengkap dengan tiga stasiun pertahanan udaranya. Alutsista sebanyak ini hanya untuk membuka front terhadap kekuatan militer Belanda. Lalu bagaimana dengan kebutuhan awaknya? PPS 11 bertutur, untuk itu AURI melakukan crash-program dengan mengirim puluhan pemuda ke Cekoslowakia belajar terbang dengan sandi 'Cakra'. Di antara mereka tercatat nama-nama seperti Roesman, Sofyan Hamzah, Ibnu Subroto, Sukardi, Maukar, Ateng Suarsono, Zainuddin Sikado, Ruddy Taran, Isbandi Gondo, dan Dibyo Purwodirojo.

Namun, kehebatan jet-jet Timur yang pernah disegani sebagai yang terkuat di Asia Tenggara itu pun berakhir menyedihkan begitu kasus G30S/PKI mencuat. Diawali kanibalisasi suku-cadang yang kian menghebat, selanjutnya pada 4 Maret 1974, Skadron 11 pun dilikuidasi. Tragedi ini terjadi setelah markas mereka pindah ke Lanud Abrulrahman Saleh, Malang. Anggotanya kemudian disebar. Ada yang dipindah ke Kodikau, Kohanudnas, dan ada juga diikutkan dalam proyek F-86 Sabre dan T-33 Thunder Bird. Pada era Thunder Bird itulah, para penerbangnya lalu memberlakukan tradisi penyematan 'Thunder' sebagai kode panggilannya.

Skadron ini menggeliat kembali setelah Dephankam pada 1980-an mempercayakan 16 A-4 Skyhawk kepada TNI AU. Pengadaannya dikenal dengan proyek Alpha. Jet-jet bertubuh kecil inilah yang disebut-sebut pernah menimbulkan reaksi keras dari para wakil rakyat. Jet buatan McDonnell Douglas ini datang hampir bersamaan dengan F-5E/F Tiger II yang disiapkan untuk Skadron Udara 14. Skyhawk inilah yang memperkuat Skadron Udara 11 hingga sekarang.

Kekuatan PPS 11 adalah pada detil datanya. Demikian pula dalam memaparkan kisah-kisah awak Skadron Udara 11 yang memiliki catatan khusus. Di antaranya, adalah Kolonel (Pur) Dibyo Purwodirojo, alumnus Cakra III yang banyak memberi warna dalam perjalanan skadron ini; Poernomo, 'Mbah-nya' Skadron Udara 11; lalu Mayor BPL Tobing, yang kini memimpin skadron ini.

Guna memberi penekanan dalam pengabdiannya, mungkin begitu maksudnya, tanpa ragu Poerwoko juga mengungkap satu per satu gugurnya penerbang Skadron 11 lengkap dengan problem teknisnya. PPSU 11 memang berkisah apa-adanya. Sayang buku ini belum dipersiapkan dengan bagus, baik dalam hal tata-bahasa, pilihan huruf, sub-judul, gaya bertutur, maupun tentang kaitannya dengan sesama skadron dalam tubuh TNI AU. Berbedanya ejaan beberapa nama tokoh pada halaman yang satu dengan halaman yang lain, minimnya caption foto, serta tak dicantumkannya 'Skadron 11' pada sampul buku, juga terbilang mengganggu.

Akhir kata, jika memang masih ada kesempatan untuk merevisinya, PPSU 11 akan berpeluang tampil sebagai bacaan seru yang mampu memacu minat kedirgantaraan di kalangan pemuda. Bravo Skadron Udara 11! (adr)


Source :http://dpyoedha.multiply.com/

 

Advance Search

   Hot Isue»
Ukraine's crisis warns Indonesia of the importance of geopolitical awareness and insight
...

Ukraine in the Zbigniew Brzezinski's geopolitical perspective

The failure of Color Revolution scenario and U.S. turning point in Ukraine

Tatar Muslims: a new jihad issue in Ukraine?

Reading a great scenario behind the overthrow of President Yanukovich

Singapore : The "broker state" and the nest of corruptors ? (4)

Read More »
   Archive
Ukraine's crisis warns Indonesia of the importance of geopolitical awareness and insight

Book launch and discussion of The Global Review Quarterly Journal Fifth Edition

GFI focuses on Ukraine in its Global Review Quarterly Fifth Edition

Ukraine in the Zbigniew Brzezinski's geopolitical perspective

The failure of Color Revolution scenario and U.S. turning point in Ukraine

US warship moving towards Black Sea amid tensions with Russia

US hails Japan's abolition of 3 principles on arms exports

Some Russian war preparedness strategic reasons to retain Crimea and Ukraine's border regions

Meeting Shimon Peres, IAEA Chief not talks about Israel illegal nuclear

Meeting Shimon Peres, IAEA Chief not talks about Israel illegal nuclear

Read More »
   Book Review
Author : Hendrajit, Dkk
Japanese Militarism : Japan, Between Love And Resentment

A book entitled Japanese Militarism and Its War Crimes in Asia Pacific Region (Hendrajit, ed) was recently sent to me, by the publisher, The Global Future Institute. No doubt, this book made me re-think and recollect my trip to Japan in 1996. At that time, I was warmly received by Japanese families who became my host, invited to travel to various places, and bought souvenirs. The psycological effect of my short visit is that it is hard to imagine that the Japanese people were cruel ones, perpetrators of the massacre of our ancestors, raping Indonesian girls, making them as prostitutes and enslaving our grandfathers to work on various projects.

Read More »