English     Indonesia  
Menu Rubrik
Internasional
Politik
Asean
Analisis
Hukum
Ekonomi dan Bisnis
Industri Strategis
Hankam
Sosial Budaya
Lingkungan Hidup
Kesehatan
Wawancara Khusus
Gaya Hidup
Diplomasi
Komentar Pembaca
Ucapan Puasa
Departemen Luar Negeri RI
PBNU
ISAFIS
Selamatkan Indonesia
Kajian Timur Tengah
Magister HI Unpad
Informasi Wisata Bali
Anggia Putri Nilasari
World Future Online
Budaya Sunda
   Artikel Pilihan
No data yet
   Jajak Pendapat
Membentuk kekuatan baru selain PBB guna menekan Israel membuka blokade atas Gaza?
Sangat Perlu
Perlu
Tidak Perlu
Tidak Tahu
   
Dirgahayu RI
Bedah Buku
Telah Terbit: Tangan-Tangan Amerika, Operasi Siluman AS di Pelbagai Belahan Dunia
Pengarang : Hendrajit Dkk

Dalam sejarah perang modern, Amerika Serikat mencatat rekor tertinggi sebagai negara agresor. William Blum, dalam bukunya Killing Hope: U.S. Military and CIA Interventions Since World War II, menyatakan bahwa sejak menyatakan kemerdeka-annya pada 1776, Amerika Serikat melancarkan arus tetap pertempuran militer yang mengobarkan sembilan perang besar dan lebih dari 200 penyerbuan angkatan bersenjata. “Dari 1977 hingga 1993,” tulisnya, “Amerika Serikat telah mengirimkan tentaranya untuk menyerbu 32 wilayah di luar negaranya.” Rekor itu, tentu, sudah diperbarui dengan penyerbuan AS ke Afghanistan dan Irak, dan tampaknya tidak mungkin ditumbangkan oleh negara lain manapun, kecuali oleh AS sendiri.


 

Selain agresi militer, sesungguhnya ada perang lain yang bisa berlangsung tenang dan tetap mematikan, yakni perang ekonomi. Kita tidak mudah memahami bahwa perang yang tenang semacam itu sesungguhnya juga memiliki kekuatan yang sama mengerikannya dengan perang militer. Bahkan, dibandingkan dengan perang militer, perang ekonomi yang tidak gegap gempita juga mengabarkan sisi muram pembunuhan manusia dengan cara yang bisa jadi lebih menyedihkan. Peperangan dilancarkan untuk menghancurkan musuh tanpa meletuskan sebutir peluru pun. Di tingkat yang paling ekstrem, perang ekonomi menunjukkan daya hancur yang tak ubahnya bom nuklir: melemahkan rakyat dan melumpuhkan infrastruktur.

Tangan-Tangan Amerika pada dasarnya dimaksudkan untuk melakukan rekonstruksi sejarah berkaitan dengan campur tangan Amerika Serikat di sejumlah negara di berbagai kawasan dunia.

Penerbit:
GLOBAL FUTURE INSTITUTE

 


Dibaca : 623

Cari :
Nash of Journalism School
   Isu Hangat »
Bangkitnya Kembali Militerisme Jepang di Asia Pasifik Sudah Diambang Pintu
Ada satu perkembangan yang cukup mencemaskan di Jepang dalam beberapa bulan terakhir ini. Issui-kai, atau Masyarakat Rabu" ("Wednesday Society"), dibentuk pada 1970-an oleh para penggemar novelis ...

Mewaspadai Meningkatnya Kekuatan Militer Cina (Bagian 2)

Deklarasi Konferensi PD II DI Kuala Lumpur

The Malaysian Experience & Hope For The Future

Japan as an Independent Player in an out of control Asia

Pernyataan GFI pada Konferensi Internasional tentang Perang Dunia II di KL

Lihat lainya »
   Arsip
Invasi Berakhir, Stimulus Bergulir

Risiko Bayangi Pelonggaran Kredit di AS

Obama Hadapi Tantangan Terberat Mereformasi Perbankan

Alunan Angklung di Kampus Lebanon

60 Tewas Akibat Demam Berdarah di Honduras

Mahmoud Abbas : Israel Harus Bekukan Pemukiman Yahudi

Korut Berusaha Tingkatkan Hubungan Militer dengan China

Gamelan Bali Getarkan Jantung Seni Musik Rusia

Perang Gaza, Perang Gas

Kritik untuk EraMuslim Lagi: Mengapa AS Menyerang Irak?

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang : Travis Heerman
Petualangan Seorang Pendekar Jepang

PADA tahun 1960-an dan 1970-an, komik mengalami masa kejayaan di Indonesia. Sejumlah komikus menghasilkan pelbagai cerita yang menarik minat masyarakat. Para pendekar dari dunia imajinasi pun menjadi panutan orang-orang di dunia nyata. Sosok mereka—sebut saja misalnya Si Buta dari Goa Hantu, Panji Tengkorak, Pendekar Bambu Kuning, Si Pitung, dan Jaka Sembung—menjadi legenda.

Lihat Lainnya »

© 2008 - 2010 theglobal-review.com All rights reserved