» Membaca Langkah Terbaru Amerika dan Inggris di Suriah » Karen Amstrong: Mengartikulasikan Islam yang Welas Asih » Geopolitik Sungai Nil: “Mainan Baru” Kolonial di Jalur Sutera? (Bag-1) » Apa Sebenarnya Kata Rakyat Suriah? » Mengenang 13 thn wafatnya Hafez al Assad (alm)


Bedah Buku
Century, SBY, dan Obama
Pengarang : Dina Y. Sulaeman

Kata Baudrillard, hari ini kita hidup dalam era simulakra; era dimana batas antara realitas dan citra telah melebur. Bahkan, citra telah berubah menjadi realitas itu sendiri. Baudrillard menyebutnya hyper-reality atau realitas semu. Pilihan-pilihan hidup kita sangat dipengaruhi oleh realitas semu ini, yang kata Milan Kundera, diciptakan oleh agen-agen periklanan, manajer kampanye politik, atau desainer yang yang merancang semu bentuk, mulai dari mobil hingga alat olahraga. Contoh gampangnya, saat saya membeli baju bermerek A tiba-tiba saya merasa hebat. Padahal, apakah kehebatan ditentukan oleh merek baju? Tapi ketika citra telah mengepung saya, saya percaya dan yakin bahwa merek A membuat saya lebih hebat daripada memakai baju obralan. Inilah fase simulakra: citra yang membentuk realitas, bahkan citra menjadi realitas itu sendiri.


Ketika penduduk dunia sedemikian terasuki oleh citra dan tak sanggup lagi membedakan mana citra, mana realitas, tak heran bila pencitraan pun menjadi industri tersendiri. Bahkan kemudian demokrasi pun menjadi ajang industri pencitraan. Perusahaan-perusahaan konsultan politik mendesain citra para politisi agar sesuai dengan selera publik, dan pada saat yang sama, publik yang sudah hidup di alam simulakra cenderung memberikan suaranya kepada citra si kandidat; bukan realitas si kandidat.

Dan akhirnya, demokrasi pun bisa dianggap sebagai sebuah bentuk aktivitas pencitraan, bukan lagi sebuah kegiatan yang adiluhung untuk mencari negarawan terbaik bagi sebuah bangsa. Dalam sistem demokrasi, kekuasaan bisa dicapai hanya melalui suara terbanyak. Maka untuk berkuasa, yang harus dilakukan adalah membentuk citra tertentu yang disukai publik. Tak ada gunanya ideologi. Kata Kundera, pencitraan lebih kuat dari realitas dan lebih berkuasa daripada ideologi. Buktinya, SBY dan Budiono tetap terpilih, meski banyak yang berteriak-teriak memperingatkan bahwa keduanya berideologi neolib. Banyak warga negeri ini yang tak sadar bahwa kesulitan hidup yang dialaminya berasal dari ideologi neolib. Ideologi neolib tertutup oleh citra santun, gentleman, berwibawa, teduh, sederhana.

Berkat industri pencitraan, SBY menjadi identik dengan kesantunan (dan kegantengan). Budiono dielu-elukan karena kesederhanaannya: beliau sangat sederhana, menyetir sendiri mobilnya, kalau dinas ke luar kota selalu memilih tidur di hotel sederhana. Citra ini sedemikian kuat berhasil diciptakan oleh tim kampanye SBY-Budiono, sampai-sampai mengalahkan realitas bahwa orang sederhana itu ternyata memiliki kekayaan 28 milyar. Tak sia-sia rupanya Partai Demokrat membelanjakan sebanyak Rp 59,143 miliar untuk iklan di televisi sepanjang tahun 2009, sementara ada 32 juta rakyat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. (Tentu, partai-partai lain juga merogoh kocek milyaran demi pencitraan, tapi rupanya citra mereka kalah kuat).

Bahkan kini, kebusukan skandal bailout Century yang telah menguar ke segala penjuru dan diputuskan bersalah oleh DPR, berusaha diredam melalui pidato yang penuh citra kesantunan sekaligus ketegasan. “Saya memang tidak dimintai keputusan dan arahan. …Saya dapat memahami mengapa keputusan penyelamatan itu dilakukan. Tidak cukup hanya memahami, saya pun membenarkan kebijakan penyelamatan Bank Century tersebut.” Ah, ternyata yang salah para pembantunya kok, bukan Pak Presiden. Bahkan seorang netter berkomentar kagum, “Wow, pidato sepanjang itu dibaca tanpa teks!” (mungkin dia tak tahu, hari gini sudah tidak zamannya pidato pakai teks, tapi pakai teleprompter).

Persis, ini pula yang terjadi di negeri seberang. Pencitraan pun ujung tombak kemenangan Obama. Selain menciptakan citra melalui internet, tim Obama menggelontorkan ratusan milyar dollar untuk iklan televisi (total dana yang dikeluarkan para kandidat presiden AS dalam pemilu 2008 untuk tampil di televise adalah 800 milyar dolar, termahal dalam sejarah AS). Citra Obama berhasil menjadi realitas (semu) yang memang didambakan publik AS. Di saat publik sudah muak pada perilaku Bush, perang, dan krisis ekonomi, muncullah Obama dengan citra ‘change’-nya. Dia kritik perang Irak, dia suarakan kemarahan rakyat pada Perang Irak. Dia janjikan akan menarikan pasukan dari Irak. Dia jujur menuliskan rencananya di New York Times: pasukan Irak memang akan ditarik, tapi dipindahkan ke Afghanistan. Dia datang ke Sderot (Israel) dan forum-forum lobby Zionis, berjanji akan membela kepentingan Israel. Tapi kuatnya pencitraan telah membuat fakta ini terlewat begitu saja. Semua demam Obama. Tak cuma di AS, bahkan di seluruh dunia, termasuk negeri-negeri muslim.

Kini, menjelang kedatangan Obama ke negara muslim terbesar di dunia, Indonesia, upaya pencitraan pun kembali dilancarkan. Kedatangan Obama dicitrakan sangat personal: pulang ke negeri tempat dia melewati masa kecil, kerinduan menikmati hidangan masa kecil (nasi goreng), berkunjung ke sekolah dasar. Patung Obama kecil pun dibuat (untunglah, banyak yang tak tertipu oleh pencitraan ini, sehingga ada tekanan kuat dari publik untuk memindahkan patung itu). Publik digiring pada citra ke-Indonesia-an Obama, sambil melupakan realitas bahwa dia adalah panglima perang yang mengirim pasukan ke berbagai negeri muslim dengan membawa mantra: terorisme. Dia presiden dari sebuah negara yang mengeruk kekayaan alam Indonesia melalui Freeport, Exxon, MobilOil, dll. Realitasnya, sudah pasti Obama tidak datang untuk sekedar makan nasi goreng, tetapi untuk “untuk mengintensifkan hubungan Indonesia-Amerika untuk beradaptasi dengan tantangan abad ke-21.” (kata Dino Patti Jalal).

Hubungan intensif seperti apa yang akan dijalin antara sebuah negara yang selama ini berpatron kepada AS, dengan AS, Sang Patron? Siapa dan apa yang sebenarnya diinginkan Sang Patron? Itu adalah pertanyaan yang akan melintas di benak kita, bila kita memilih untuk keluar dari realitas semu. Karena biarpun dunia hari ini dikepung oleh realitas semu, bila mau, kita masih punya kekuatan untuk melawan. Melawan dengan cara menggali sendiri apa realitas di balik semua citra yang mengepung kita.



Dibaca : 870


Advance Search

   Isu Hangat »
Geopolitik Sungai Nil: “Mainan Baru” Kolonial di Jalur Sutera? (Bag-1)
Geopolitik Sungai Nil? Barangkali menarik diulas terkait konstalasi atas ‘panas’-nya suhu politik di Jalur Sutera. Tak boleh dipungkiri, Nil adalah sungai terpanjang di dunia (sekitar 6.650 ...

Sekilas Kegagalan Teori Polisi Dunia di Syria

Membaca Agenda Tersembunyi AS-Australia di Port Darwin

'Mereka' Datang Untuk Membunuh Rakyat Syria

Malaysia, Sarang Baru Perdagangan Narkoba di Asia Tenggara?

BRICS, G-2O, dan IMF

Lihat lainya »
   Arsip
Karen Amstrong: Mengartikulasikan Islam yang Welas Asih

14 Agustus Ditetapkan sebagai Hari "ianfu" Internasional

Terlibat Kasus Korupsi, PM Ceko Mundur

Di Balik Keinginan Korut Menggelar Perundingan dengan AS

Para Menlu Negara Anggota FEALAC Sepakati Deklarasi Uluwatu

Intelijen Israel Ajak Negara-Negara Barat Tekan Iran Terkait Program Nuklir

Angola LNG Ekspor Gas Alam Pertama ke Brazil

Gedung Putih Akui AS Takkan Tergesa-Gesa Terlibat Perang di Suriah?

Jet Latih Militer UAE Jatuh, Pilot Tewas

Malaysia, Indonesia Tingkatkan Kerja Sama Lawan Kejahatan Cyber

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang : Dina Y. Sulaeman
PRAHARA SURIAH

“Hasil perang ini tidak hanya berpengaruh bagi masa depan Suriah. Situasi di Suriah telah membagi dua dunia. Ini adalah konflik internal yang membawa konsekuensi global.”

Demikian narasi sebuah film dokumenter Rusia karya Proddubniy, dkk. Konflik Suriah melibatkan sangat banyak ‘pemain’, mulai dari Sekjen PBB, para presiden dari AS, Inggris, Prancis, Turki, raja-raja Arab, pasukan Suriah, pasukan jihad, hingga para pengguna internet. Inilah era Facebook, Twitter, dan blog. Kelompok oposisi Suriah membuat sangat banyak rekaman video amatir dan disebarluaskan di internet. Para blogger antiperang pun memberikan ‘serangan’ balasan. Informasi bertaburan dan bersilangsengkarut. Ibarat menyusun puzzle, inilah puzzle yang terlihat rumit. Posisi masing-masing kepingannya sulit diidentifikasi.

Buku ini telah menyusun kepingan puzzle itu, supaya kita semua dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari konflik Suriah. Karena, kejelian dan kecerdasan dalam mencermati konflik akan menghindarkan bangsa Indonesia dari perang saudara atau konflik yang tak perlu.

Lihat Lainnya »