» Tujuan-Tujuan Utama Kebijakan Luar Negeri AS (Bag I) » Dunia Tiga Sisi » Pemerintah Jokowi-JK Harus Segera Cabut UU No 7/2004 Tentang Sumber Daya Air » Amerika Serikat Dukung Bangkitnya Kembali Kekuatan Militer Jepang » Menyorot Politik HAM Belanda di Indonesia


Tentang Global Future Institute

Global Future Institute, yang untuk seterusnya kami sebut GFI, didirikan pada tanggal 11 Oktober 2007. GFI berdiri atas prakarsa lima orang anggota pendiri: Hendrajit, Harri Samputra Agus, Adriyanto, Joko Wiyono, dan Hamzah Fansyuri.

 

Gagasan yang melatarbelakangi berdirinya GFI adalah karena saat ini dirasa perlu untuk memberdayakan politik luar negeri Indonesia di tengah-tengah semakin menajamnya persaingan berskala global di antara Negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Uni Eropa, dan Rusia.

 

Sebagai Negara yang sejak awal kemerdekaan menganut politik luar negeri yang bebas dan aktif, GFI beranggapan sudah selayaknya bagi Indonesia untuk mampu mengantisipasi perubahan-perubahan global di kemudian hari. Maka, GFI bertekad melalui program dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan, menciptakan suatu situasi yang kondusif agar politik luar negeri Indonesia bisa ikut mempengaruhi perkembangan pada skala global dengan memobilisasi seluruh sumberdaya nasional yang kita miliki.

 

Dengan demikian, GFI sebagai lembaga non-partisan dan nirlaba, menaruh prioritas program kegiatannya untuk melibatkan jaringan pemikir strategis yang berbasis di berbagai sektor strategis baik pemerintah maupun swasta. Antara lain, kalangan departemen luar negeri, perguruan tinggi negeri dan swasta, lembaga-lembaga think-thank yang bergerak dalam pengkajian strategis dan hubungan internasional, partai politik, organisasi massa, tokoh-tokoh berbasis keagamaan, media massa, dan Lembaga Swadaya Masyarakat pada umumnya.

 

ISU-ISU POKOK YANG MENJADI FOKUS UTAMA GFI

 

Dalam rangka memberdayakan politik luar negeri Indonesia, maka mutlak perlu untuk menguasai wawasan dan pemahaman yang mendalam mengenai konstalasi dan dinamika hubungan antar negara-negara adidaya maupun situasi keamanan regional, khususnya di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) dimana negara kita merupakan salah satu motor penggerak utama.

 

Ada beberapa isu strategis yang kiranya akan menjadi fokus utama kajian dan pengamatan GFI:

  1. Pergeseran Politik Luar Negeri Amerika Serikat dari Waktu ke Waktu.

  2. Bangkitnya Cina sebagai Kekuatan Adidaya Baru.

  3. Kemunculan Shanghai Cooperation Organization (SCO) yang dimotori Cina dan Rusia.

  4. Kemunculan India sebagai Kekuatan Baru di Asia

  5. Berbagai Konflik Daerah Perbatasan yang terjadi di kawasan ASEAN.

  6. Lemahnya Posisi Tawar Indonesia di ASEAN.

  7. Belum Selarasnya Kebijakan Luar Negeri dan Diplomasi.

  8. Potensi Ancaman dari Asia Timur yang muncul dari Jepang dan Cina.

 

Untuk menindaklanjuti secara lebih intensif isu-isu strategis tersebut, GFI akan menaruh perhatian yang intensif dalam studi maupun kajian-kajian berkaitan dengan perkembangan geostrategis global, termasuk dinamika paling mutakhir dari hubungan antar negara adidaya. Maupun hubungan negara-negara adidaya terhadap negara-negara di berbagai kawasan dunia seperti Timur-Tengah, Asia Timur, Asia Tenggara, Asia Selatan, Teluk Persia, Amerika Latin dan lain sebagainya.

 

Untuk merealisasikan itu semua, GFI akan melaksanakan serangkaian program kegiatan seperti riset dan pengkajian, pendidikan, pertukaran antarbangsa, dan membangun jaringan serta relasi dengan berbagai kalangan yang menaruh minat pada politik luar negeri RI, hubungan internasional, diplomasi, maupun isu-isu politik dan ekonomi pada umumnya.

 

VISI

Indonesia sebagai poros dan solusi masa depan Global

 

MISI

  1. Membangun kesadaran publik tentang situasi global beserta ekses-eksesnya, sehingga masyarakat Indonesia memiliki peta dan gambaran yang jelas dalam rangka upayanya untuk memainkan peran dirinya sebagai pemain kunci dalam persaingan global.

  2. Menjadikan GFI sebagai rujukan dan model dalam memahami konstalasi global, sekaligus solusi agar bisa memposisikan diri sebagai pemain yang setara dalam menjalin kerjasama internasional dengan kekuatan-kekuatan adidaya.

  3. Secara bertahap akan menyediakan sumber-sumber kepustakaan maupun akses informasi berkenaan dengan perkembangan dinamika negara-negara adidaya maupun hubungan negara-negara adidaya dengan berbagai negara di beberapa kawasan regional.

  4. Mendorong berbagai program kegiatan yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia maupun dunia internasional, terhadap berbagai konspirasi dan skenario yang disusun dan dirancang oleh berbagai kekuatan global.

  5. Memanfaatkan dan mendayagunakan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya Website, untuk mensosialisasikan dan menerbitkan berbagai riset, kajian, analisis, maupun liputan yang menjadi fokus perhatian GFI sebagai lembaga think-thank.

  6. Mendorong terselenggarannya pendidikan non-formal seperti kursus-kursus dan ketrampilan di bidang diplomasi, studi-studi strategis dan hubungan internasional, intelijen, bahasa-bahasa asing, dan lain sebagainya.

  7. Membangun jaringan dan komunitas peminat Politik Luar Negeri dan masalah-masalah internasional, serta membangun jaringan dan komunitas bisnis global.

 

FOKUS KEGIATAN

Untuk mencapai visi dan misi tersebut, GFI menitikberatkan kegiatannya pada beberapa program utama:

  1. Program penyelenggaraan berbagai seri pertemuan baik internal maupun eksternal (Meetings Program).

  2. Program Studi (Studies Program).

  3. Program Korporasi (Corporate Program).

  4. Program Penggalangan Dana dan Pengembangan Bisnis.

  5. Program Rekrutmen Fellow Expert dan Network Associate.

  6. Program Administrasi Kelembagaan dan Keanggotaan.

 

Agar tercapai tujuan jangka pendek dari rangkaian kegiatan tersebut di atas, maka GFI meluncurkan sebuah website bernama http://www.theglobal-review.com sebagai sarana untuk menerbitkan semua output dari kegiatan-kegiatan GFI seperti seminar, hasil riset dan studi, maupun kegiatan-kegiatan lainnya.

 

Dasar pemikirannya adalah, bahwa semua rangkaian kegiatan tersebut, pada akhirnya harus bermuara pada dihasilkannya produk-produk penerbitan buku, jurnal, monograf, maupun sarana publikasi lainnya.

 

Untuk menjembatani itu semua, maka website GFI http://www.theglobal-review.com untuk sementara akan kami jadikan sebagai basis data maupun informasi yang mana seluruh lapisan masyarakat baik di Indonesia maupun mancanegara, bisa mengakses secara langsung informasi maupun kajian-kajian yang dibuat oleh GFI.

 

Sehingga seluruh hasil seri pertemuan, riset dan studi, maupun liputan-liputan yang bersifat analisis berita mengenai perkembangan dan dinamika global dan regional, bisa kami sosialisasikan secepat mungkin kepada masyarakat luas melalui situs kami. Dan terdokumentasikan secara sistematis baik melalui situas theglobal-review.com baik melalui rubrik-rubrik yang ada didalamnya maupun yang terdapat dalam rubrik arsip.

 

SUSUNAN KEPENGURUSAN GFI

 

Direktur Eksekutif: Hendrajit

Lahir di Jakarta pada 8 September 1963. Alumnus Fakultas Sosial-Politik Universitas Nasional ini mulai tumbuh minatnya pada pengkajian hubungan internasional dan politik luar negeri ketika bergabung pada Indonesian Student Association for International Studies (ISAFIS) pada 1986. Ia pernah menjadi wartawan di Tabloid Detik yang dinahkodai oleh musisi/sutradara film Eros Djarot antara 1992-1994.

Setelah Detik dibredel rejim Suharto, Ia ikut Tabloid Simponi dan Tabloid Target. Pada 1996, bekerja sebagai staf peneliti pada Lembaga Pengkajian Strategis Indonesia (LPSI) milik mantan Menteri Dalam Negeri Jendral (Purn) Rudini. Di lembaga think-thank inilah menekuni studi-studi politik dan kemiliteran. Beberapa artikelnya mulai muncul di beberapa harian terkemuka termasuk harian berbahasa Inggris The Jakarta Post. Pada tahun yang sama LP3ES memintanya untuk  membuat pengantar isi buku Karya Peter Britton berkaitan dengan pengaruh Nilai-Nilai Jawa dalam Profesionalisme Kemiliteran.

Pada 1998, setelah rejim Soeharto tumbang, bersama-sama para wartawan eks Detik bergabung kembali membangun Tabloid DeTAK, menjadi editor politik dan militer, dan Wakil Pemimpin Redaksi hingga 2002.

Pada 11 Oktober 2007 Hendrajit memprakarsai berdirinya Global Future Institute (GFI) yang di bawah  naungan Yayasan Global Masa Depan bersama-sama dengan Harry Samputra Agus, Andriyanto, Joko Wiyono dan Hamzah Fansyuri. Melalui GFI inilah minat dan perhatiannya yang luas membedah dan menganalisis isu-isu bisa internasional bisa direalisasikan secara lebih sistematis dan terencana. Sekarang mukim dan beraktifitas di Jakarta.

Kini Hendrajit masih tetap menjadi wartawan Freelance untuk beberapa media.

Informasi lengkap dapat dikontak melalui email hendrajit.oke@gmail.com

 

Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan: M. Arief Pranoto

Dilahirkan di Ngawi, Januari 1963, intens menggeluti hobi menulisnya sejak 1990-an. Sebelumnya aktif menulis di beberapa media lokal di Kalimantan Timur, Sumatera Barat, Lampung, Riau, dan beberapa majalah instansi tentang dinamika sosial dan hukum. Pendidikan S-1 diselesaikan di Jakarta dan S2-nya di Bandung (Universitas Winaya Mukti). Sering menjadi pembicara di beberapa seminar, serasehan, dsb yang diselenggarakan oleh Global Future Institute (GFI), Jakarta, dan juga pernah mengikuti diskusi-diskusi baik di Setwapres RI, Kementerian Luar Negeri, Dewan Pertahanan Nasional (Wantanas), serta diskusi terbatas di Forum KENARI (Kepentingan Nasional RI) pimpinan Dirgo D Purbo, ahli 3-G (Geopolitik, Geostrategi dan Geoekonomi).


Sejak 2009 bergabung dengan GFI sebagai Research Associate terkait kajian-kajian global dan pada 2015 ditunjuk sebagai Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan di GFI, Jakarta. Hampir semua tulisan-tulisannya diarsipkan di blog https://catatanmap.wordpress.com
.

 

Direktur Diplomasi Publik: Sudarto Murtaufiq

 

Direktur Diplomasi Kebudayaan: Andrianto

 

Direktur Hukum: Harri Samputra Agus

 

Direktur Pendidikan dan Pelatihan: Agus Setiawan

Lahir di Jakarta 13 Agustus 1967. Lulus S-1 Fakultas Ilmu Sosial-Politik (FISIP) jurusan Hubungan Internasional, Universitas Nasional Jakarta. Semasa masih mahasiswa, pernah menjabat Ketua Umum Senat FISIP UNAS periode 1990-1991. Selain itu jugaaktif di organisasi ekstra kampus, sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Jakarta periode 1991-1992.

Setelah tamat dari UNAS, putra asli Palembang ini kemudian melanj utkan studi Pasca Sarj ana Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran pada 2000. Sempat aktif di dunia bisnis properti dan perbankan.
Minat dan gairahnya yang begitu besar sebagai pegiat sosial-politik, Agus kemudian bergabung bersama-sama kawan seperjuangannya di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Solidaritas tahun 1995.

Mendalami studi keislaman di Yayasan Paramadina pimpinan Dr Nurcholish Madjid antara 1987-1997. Studi Tasawuf Tazkia Sejati antara 1997-2003. Sejak 2011, Agus Setiawan bergabung sebagai Research Associate Global Future Institute (GFI).

 

Direktur Pengembangan Bisnis: Rusman

Mengawali karir jurnalistik menjadi pemimpin redaksi di buletin BILIK, sebuah media alternatif diera 90-an, yang diterbitkan oleh Yayasan Abu Dzar Al-Giffari, Jakarta. Kemudian, Pada 1999-2001 pernah menjadi wartawan di tabloid politik DeTAK, pimpinan Eros Djarot. Selanjutnya, menjadi wartawan freelance dan penulis adventorial di beberapa media online dan koran di Jakarta dan Bandung.

Prestasi jurnalistik yang pernah diraih, pada 2000 terpilih menjadi 10 wartawan terbaik untuk penulisan tema lingkungan hidup yang diselenggarakan oleh Yayasan KEHATI dan  Lembaga Pers Dr. Supomo. Dan di tahun yang sama, menjadi tim penulis buku “Keanekaragaman Hayati Taman Nasional di Indonesia,” yang diterbitkan Yayasan KEHATI.

Semasa kuliah, mantan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Jakarta Koordinator Komisariat (Koorkom) Universitas Nasional (1997-1998) dan Ketua Umum Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fakultas Ekonomi Universitas Nasional (1994-1995) ini kerap menjadi moderator dan pembicara diberbagai forum nasional.

Hingga kini, selain menjalankan bisnis pribadi dibidang Teknologi Informasi, pria kelahiran Jakarta, Juli 1972 ini juga aktif di lembaga kajian internasional Global Future Institute, Jakarta,  dengan menjadi pengurus, peneliti dan pengelola website The Global Review (www.theglobal-review.com). Menjadi wakil ketua Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Nasional (IKAFENAS), Jakarta. Hingga kini menjadi Redaktur Pelaksana majalah perkebunan GREENOLA.

 

Direktur Ekonomi dan Bisnis Internasional: Ferdiansyah Ali

Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Nasional Jakarta (1999) dan Ilmu Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Nasional (2015) merupakan putra Jakarta yang lahir pada 11 Oktober 1975. Semasa kuliah sempat dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Umum Senat Mahasiswa FE UNAS periode 1995-1996, serta menyibukkan diri dalam berbagai aktifitas kemahasiswaan, diantaranya ISMEI (Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi se-Indonesia) pada 1994, Ketua Bidang Pengembangan Organisasi HMI Cabang Jakarta pada periode 1997-1998 dan Kelompok Kajian SATELIT (Pusat Studi Kebijakan Publik) pada 1998. Kemudian mendirikan Bulletin EKONOMIA (1996) di FE UNAS.

Ia juga aktif dalam pemberdayaan petani dalam Koperasi MAPPAN (Mitra Petani Padi Organik Nusantara). Semenjak tahun 2010 mulai aktif dan bergabung bersama Global Future Institute. Kini, pria yang dianugerahi dua orang anak ini bermukim di wilayah Tangerang, Banten.

 

Staf Operasional:

  • Manajer Penerbitan: Maryanto
  • Manajer Pemasaran: Kori Soenarko

 

Research Associate:

  • Hawe Setiawan

Penulis, kritikus, dan pemerhati budaya kelahiran  Subang, Jawa Barat, 21 November 1968. Nama aslinya Wawan Setiawan tapi akrab dipanggil dengan Kang Hawe.

Kang Hawe menuntaskan pendidikan S-1, Jurusan Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung. Kini sedang melanjutkan S-2 di Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB). Sehari-harinya, Kang Hawe mengelola Majalah Cupumanik, sebagai Pemimpin Redaksi.

Sebelum Kang Hawe berkiprah di media massa cetak, Kang Hawe pernah menjadi penyiar dan Script Writer di Radio Kontinental Bandung (1990-1991). Selanjutnya barulah Kang Hawe menjadi Wartawan pada Majalah TIRAS di Jakarta (1994-1997) dan Wartawan pada Tabloid DeTAK, di Jakarta (1999-2001). Selain itu, Kang Hawe pernah menjadi Staf Peneliti pada Lembaga Studi Pers dan Pembangunan, Jakarta (1998-2001), Editor pada penerbit PT. Dunia Pustaka Jaya (2001-sekarang), Sekretaris Pusat Studi Sunda (2002- sekarang), Sekretaris Yayasan Kebudayaan Rancage (2002-sekarang).

Karya tulis Kang Hawe di antaranya Negeri dalam Kobaran Api: Sebuah Dokumentasi tentang Tragedi Mei 1998 (ed.) (LSPP, Jakarta1999), Konflik Multikultur: Pedoman bagi Jurnalis (co-writer) (LSPP, Jakarta, 2000), 50 Tahun IKAPI: Menuju Masyarakat Cerdas (ed.) (IKAPI, Jakarta, 2000), Jagat Carita, Kandaga Carpon Dunya (Kiblat, 2005), “Sastra Sunda dan Warisan Belanda: Suatu Pendahuluan ke Arah Perumusan Konsepsi Kesusastraan Sunda Pasca-Kolonial” (makalah untuk Konferensi Internasional Budaya Sunda, di Bandung, 22-25 Agustus 2001), “Melak jeung Neang Hanjuang Siang” (makalah untuk Kongres Basa Sunda VII, di Garut, 10-12 November 2001), Esei-esei lepas mengenai sastra Sunda dan kebudayaan umum di jurnal Dangiang, surat kabar Pikiran Rakyat, Manglé, dsb.

 

  • Rahadi Teguh Wiratama

Lahir di Kediri pada tahun 1965. Menyelesaikan jenjang pendidikan Strata Satu pada Program Studi Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Nasional, Jakarta, pada tahun 1992. Pernah mengikuti Short Course Program di Social Weather Station di Manila, Filipna, pada tahun 2001 dalam bidang manajemen riset. Saat ini berstatus sebagai Kepala Divisi Studi Demokrasi-LP3ES dan Editor pada majalah PRISMA. Di samping aktif melakukan berbagai penelitian tentang politik dan perubahan sosial, juga menulis artikel dan review buku di berbagai terbitan berkala dan surat kabar, seperti Tempo, Kompas, Jurnal Ilmu Politik dan majalah PRISMA. Bersama kalangan aktivis pro-demokrasi pada tahun 2007 mendirikan Peran Indonesia, sebuah organisasi yang bergerak di bidang kajian dan pemberdayaan hak-hak dasar rakyat.

 

  • Eka Hindra

Seorang Pustakawan dari Universitas Indonesia dan Universitas Padjajaran. Mulai bekerja sebagai peneliti “Ianfu” Indonesia sejak tahun 1999-sekarang, bekerjasama dengan Dr. Koichi Kimura. Karya pertama jurnalistik adalah biografi Mardiyem sebagai survivor “Ianfu” Indonesia tahun 1999 yang disiarkan 50 radio diseluruh Indonesia melalui Kantor Berita Radio Internews Indonesia. Pada tahun 2000 pernah mengikuti Women’s Internasional War Crimes Tribunal on Japan’s Military Sexual Slavery di Tokyo, Jepang dan menghadiri International Symposium: A Decade after the Women’s International War Crimes Tribunal on Japan’s Military Sexual Slavery di Tokyo tahun 2010.

Tahun 2007, menerbitkan buku pertama bersama Dr. Koichi Kimura yang berjudul Momoye; Mereka Memanggilku. Buku mengenai biografi seorang “Ianfu” Indonesia yang bernama Mardiyem.

Tahun 2008, melakukan kunjungan penelitian ke Dayi Salon, Ianjo (rumah bordil militer Jepang) pertama di dunia yang dibangun tahun 1932 di Shanghai, Cina dan lima lokasi Ianjo lainnya di kota yang sama.

Tahun 2009, melakukan penelitian “Ianfu” di Pulau Buru, Maluku bersama Kementrian Sosial RI, wartawan senior Indoensia Peter Rohi, wartawan dari Surabaya Arif Rahman dan aktivis politik Jalil Latuconsina. Penelitian di dokumentasikan oleh Metro TV untuk acara Metro File yang berjudul Mataoli Kisah Para “Ianfu”.

Tahun 2010, menghadiri International Solidarity Conference for the Resolution of the Issue Sexual Slavery by Japan in WW II di Sydney, Australia. 

Tahun 2011, mengunjungi Zozan Underground Imperial Headquarter (lebih dikenal dengan Matsushiro Headquarter) di Matsushiro, Jepang, lokasi bakal pemerintahan darurat kekaisaran Jepang yang dibangun di dalam gunung batu untuk persiapan jika sekutu menjatuhkan bom atom di Tokyo pada permulaan perang Asia Pasifik, dengan mengerahkan tenaga 6000 Romusha dari Korea untuk menggali gunung batu dan membangun gua-gua di dalamnya.

Saat ini bekerja sebagai freelancer Pustakawan dan mengelola website “Ianfu” Indonesia (www.ianfuindonesia.org)  dan bersama Jo cowtree aktivis hak asasi manusia dari New York, USA.

 

  • Dina Y Sulaeman

Lahir di Semarang pada 30 Juli 1974. Penerima summer session scholarship dari JAL Foundation untuk kuliah musim panas di Sophia University Tokyo ini lulus dari Fak. Sastra Arab Universitas Padjdjaran tahun 1997. Ia sempat menjadi staf pengajar di IAIN Imam Bonjol Padang. Tahun 1999 meraih beasiswa S2 dari pemerintah Iran untuk belajar di Faculty of Teology, Tehran University. Tahun 2011, ia menyelesaikan studi magister Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran. Tahun 2002-2007 ia berkarir sebagai jurnalis di Islamic Republic of Iran Broadcasting. Sejumlah buku telah ditulisnya, antara lain, Oh Baby Blues, Mukjizat Abad 20: Doktor Cilik Hafal dan Paham Al Quran, Pelangi di Persia, Ahmadinejad on Palestine, Obama Revealed, Bintang-Bintang Penerus Doktor Cilik, Princess Nadeera, Journey to Iran, dan Prahar Suriah. Aktif menulis artikel opini politik Timur Tengah yang dimuat di media massa dan berbagai website.

Dan sejak 2012 aktif menulis dan bergabung dengan  Global Future Institute  sebagai Research Associate terkait kajian-kajian studi hubungan internasional. Juga aktif diterbitkan pada wordpress miliknya http://dinasulaeman.wordpress.com.

 

Junior Research Associate:




Advance Search

   Isu Hangat »
Mengingatkan Kembali Tiga Kejahatan Perang Jepang di Indonesia
Kejahatan perang tentara Jepang di Indonesia antara 1942-1945 merupakan sejarah hitam  yang tidak boleh kita lupakan. Adanya kebijakan pemerintahan fasisme Jepang di Indonesia yang secara sistematis ...

SURAT TERBUKA KEPADA PRESIDEN JOKOWI DAN IBU MEGAWATI SUKARNOPUTRI

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Berita foto SEMINAR SEHARI GLOBAL FUTURE INSTITUTE Menyambut KAA ke-60 di Bandung April 2015 : "Revitalisasi Dasa Sila Bandung 1955"

Lihat lainya »
   Arsip
Freeport Indonesia Setuju Pakai Rupiah

Diskriminasi Terhadap Muslim Rohingya

Jepang Ikut Latihan Militer Bikin Cemas Banyak Pihak

Tujuan-Tujuan Utama Kebijakan Luar Negeri AS (Bag I)

Cina Peringatkan Perang dengan AS di Laut Cina Selatan

Jepang Hapus Nama Israel dari Buku Panduan Pariwisata

Amerika Serikat Tidak Berbuat Apa Pun Untuk Selamatkan Ramadi

Diancam Cina, Pesawat Filipina Tetap Terbang di Wilayah Sengketa

Melintas di atas Laut Cina Selatan, Cina Protes AS

Skisma Politik Budi Utomo versus Sarikat Islam, Penyebab Kebuntuan Politik Nasional?

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Bagaimana Membaca Novel Foucault's Pendulum?

Pendahuluan
Novel Foucault’s Pendulum karya Umberto Eco edisi bahasa Indonesia telah diterbitkan pada November 2010. Karya aslinya dalam bahasa Italia, Il Pendolo di Foucault, terbit pertama kali pada 1988. Setahun kemudian baru diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Foucault’s Pendulum. Nama Foucault pada judul itu mengingatkan pada tokoh filsafat kontemporer, Michel Foucault. Tokoh yang relatif dikenal dalam kajian humaniora. Padahal nama Foucault pada judul novel Eco adalah nama penemu pendulum yang tidak lain adalah Leon Foucault.

Lihat Lainnya »